Sabtu, 26 Desember 2015

Bubur Sumsum-Campur Muslimat

 

Pagi ini, Jombang City Guide mampir ke lapak bubur sumsum ala Bu Susiati. Lapak bubur Bu Susiati ini, buka setiap pagi mulai pukul 05.30, dan biasanya habis sekitar pukul 08.30 WIB.


Minggu, 08 November 2015

Sate Kambing dan Gule Pak Tolabi Tugu


“Kamu tau Masjid Tugu? Kamu lihat di seberang selatannya, tepat di depan masjid ada  warung sate di pojok tikungan. Memang tempatnya kecil dan terkesan kurang nyaman, tapi soal rasa gak pernah bohong. Di situ warung Sate Pak Tolabi. Daging satenya besar dan gulenya paling cocok dengan seleraku,”- Sandy Tabah Setiawan -


Kalimat diatas adalah untaian kata yang diucapkan kawan Jombang City Guide saat membahas tentang beberapa legenda kuliner unggulan kebanggaan Jombang yang salah satunya tentang Sate dan Gule Kambing Pak Tolabi di Perempatan Tugu.

Sabtu, 07 November 2015

RCTV, Tivine Wong nJombang

Jombang sekarang punya stasiun tv lokal sendiri lho, judulnya RCTV, kependekan dari Ringin Conthong TV.



Seperti yang kita ketahui ringin contong adalah ikon kota santri jombang beriman. Namun yang dijadikan lambang bukannya ringin conthongnya, tapi monumen menara airnya.

Jumat, 16 Oktober 2015

Save PSID dJombang


Masih sangat melekat di ingatan Jombang City Guide, salah satu sahabat terdekat bercerita bahwa ayahnya (yang kini sudah almarhum) adalah salah seorang pemain PSID kebanggaan Jombang. Dulunya, setiap pulang bertanding maupun berlatih, bau balsem untuk otot semerbak memenuhi seluruh ruangan di rumahnya di Jalan Sam Ratulangi. Ini disebabkan, kaki dan sekujur tubuh Sang Ayah yang memar-memar akibat bertanding. Ibu, kawan saya dan saudara-saudaranya 'bahu-membahu' membalsem badan Sang Ayah. Woow… memang benar-benar atlet ya..

Senin, 05 Oktober 2015

Warung Nasi Lodeh Mbok Semah - Satlantas

Lodeh Mbok Semah

Bila sebelumnya Jombang City Guide sudah membahas tentang Lodeh yang dijadikan es oleh Pak Seger, kali ini liputan mengarah pada Nasi Lodehnya. Lodeh adalah makanan yang terbuat dari olahan tewel. Dan Jombang punya jujugan wisata kuliner Nasi Lodeh yang tersembunyi di pelosok desa, yang disajikan di Warung Lodeh Mbok Semah.

Jumat, 25 September 2015

Soto Dhog Pak Mas'ud Stadion Merdeka


Soto Dhog Stadion Merdeka adalah salah satu Soto Dhog di Kota Santri Jombang BERIMAN. Digawangi oleh Pak Mas’ud sejak tahun 1985, Soto Dhog ini berjualan setiap sore di Stadion Merdeka Jombang. Buka Sejak pukul 05.00 WIB hingga 21.00 WIB, Soto Dhog ini setia menanti pelanggannya. Dulunya, soto ini buka di depan Stadion Merdeka. Namun karena renovasi dan berbagai sebab, akhirnya berpindah-pindah di beberapa tempat di dekat stadion, hingga akhirnya menetap di salah satu stan Stadion Merdeka yang bernuansa JNS kini. 

Minggu, 06 September 2015

Pawai Budaya Jombang 2015


Pawai Budaya Jombang 2015 telah selesai digelar pada tanggal 5 September kemarin. Sebenarnya event tahunan ini diselenggarakan pada bulan agustus, untuk perayaan hari kemerdekaan Indonesia.


Rabu, 12 Agustus 2015

Gerdu Papak : Mini Arc de Triomphe de Jombang




Gerdu Papak adalah sebuah gardu kuno yang ada di Parimono, Jombang. Gardu ini disebuk Papak karena bentuknya yang ‘papak’ atau lurus, tanpa lengkungan dalam bahasa jawa. Hal ini benar adanya karena Gerdu Papak berbentuk lurus seperti kotak balok.

Senin, 10 Agustus 2015

Rawon Rosobo Mojoagung

Rawon Rosobo - The Javanese Black Soup

Kalau bicara rawon enak yang ada di Jombang, mungkin ada dua yang jadi unggulan. The Javanese Black Soup ala Jombang yaitu Rawon Pas dan Rawon Rosobo, yang keduanya bertempat di Mojoagung. Bisa dibilang bersama Mie Pak Potro, dua rawon enak ini menjadi kuliner kebanggaan perwakilan Mojoagung.

Senin, 27 Juli 2015

Sirene 'Seruling' Penanda Buka Puasa Peninggalan Belanda

Di Bulan Ramadhan ada tradisi unik yang terjaga di Jombang sejak abad ke-18. Selain muncul tradisi baru berupa Bazaar Ramadhan yang hanya ada di bulan puasa yang bikin kalap itu, ada seruling berupa sirine penanda buka dan imsak selama bulan puasa.


Sirine ini lebih dikenal sebagai seruling oleh masyarakat Jombang, dimana lidah Jawa akhirnya menyebutnya menjadi suling. Seruling yang berupa sirine ini akan berbunyi saat waktu imsak dan buka puasa tiba sepanjang bulan Ramadhan.

Minggu, 12 Juli 2015

Bubur Srunthul Sidobayan ala Pak Toni



Waktu Jombang City Guide masih SD, Ada bubur seruntul nikmat yang mangkal di dekat Sungai Sidobayan. Rupanya, bubur serunthul yang nikmat itu digawangi oleh Pak Toni, yang sampai sekarang masih setia mangkal di samping Kali Sidobayan Jalan Gus Dur.



Rabu, 17 Juni 2015

Soto Nglaban : Cak Har Lamongan Kalahh


Selain ada Soto Ayam Gang Buntu yang cepet habis itu, ada lagi soto ayam andalan Jombang yang melegenda nikmatnya. Hyaaaayyy............. sedikit berlebihan memang Jombang City Guide menyebutnya... Tapi... ampun deh... enak puooooll!

Sabtu, 06 Juni 2015

Arsitektur Belanda di Gedung Korpri Jombang


Siang itu cerah sekali. Gedung Korpri Jombang yang ada di samping BCA Jombang tampak lengang. Sebuah bangunan lama dari sekian yang tersisa di Jombang, yang berarsitektur kolonial. Beberapa renovasi sudah pernah dilakukan, namun aura ‘londo’-nya masih kental terasa.

Selasa, 05 Mei 2015

Melihat Pohon Gharqad dari Dekat

Boxthorn - Gojiberry - Christmasberry

Di ex –Guest house samping Food Court Ringin Conthong, ada tanaman yang lucu yang buahnya merah pentul-pentul. Tanaman berbuah unik ini dijadikan pagar hidup di ex-guest house Jombang, dan Jombang City Guide belum pernah menemui tanaman yang seperti itu. Menurut penuturan Ibu Erlina yang merupakan penjaga rumah, ini adalah tanaman yang kerap dijadikan hiasan natal, atau disebut Christmas Berry.


Rangkaian Christmasberry untuk Natal

Sabtu, 02 Mei 2015

Pethulo Klanting Stadion Merdeka


Menurut Wikipedia, Klanting adalah salah satu cemilan tradisional Jawa. Klanting terbuat dari tepung jagung, menjadikan tekstur makanan ini seperti karet mirip agar-agar. Warna klanting dapat bermacam-macam, termasuk merah dan hijau. Makanan ini sebenarnya hambar namun menjadi nikmat dan manis karena ditaburi bubuhan parutan kelapa dan siraman gula merah. Makanan ini sering dijumpai di pasar-pasar tradisional.

Minggu, 12 April 2015

Tahu Pong Gloria : Asli Made in JOMBANG


Tahu memang lebih identik dengan Kota Kediri. Ada tahu kuning, tahu pong, tahu takwa, dan lain sebagainya. Namun, bukan berarti Jombang Kota Santri tidak punya tahu andalan yang juga tidak kalah enak dengan tahu pong Kediri.

Kamis, 02 April 2015

Segarnya Sungai Boro : Sungai Paling Jernih di Jawa Timur


Beberapa aktivis arung jeram mengklaim Sungai Boro merupakan kali paling jernih di Jawa Timur. Seperti sungai-sungai di Wonosalam pada umumnya yang airnya begitu jernih, Sungai Boro berada di Dusun Mendiro, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang merupakan salah satu sungai andalan di dataran tinggi milik Jombang ini. Untuk mencapai sungai paling jernih di Jawa Timur ini, kita bisa mendatangi kompleks Wisata Gua Sigolo-Golo karena salah satu titik Sungai Boro mengalir di bawah Gua Sigolo-Golo.

Nama Boro, berasal dari kata ‘ngemboro’ atau mengembara, semacam lelono atau pengelanaan dan petualangan. Aliran sungainya yang berada pada ketinggian 800 mdpl begitu deras dan berhulu di Gunung Arjuna. Sungai ini tak pernah kering karena disokong oleh puluhan sumber mata air yang sekarang kondisinya memprihatinkan, diantaranya Sumber Beji, Kendil Wesi, Selo Ringgit, Kembang Siki, yang juga merupakan penyangga Taman Hutan Rakyat yang juga masih berada di Wonosalam.

Kamis, 12 Maret 2015

Beringin Kunthing : Adik Kecil Ringin Conthong


Tak banyak yang tahu bila Ringin Conthong punya adik kecil. Ceritanya, saat menanam Ringin Conthong di Bundaran Titik Nol Jombang, Kanjeng Sepuh Sang Bupati Pertama Jombang juga memiliki bibit pohon beringin yang lain yang ukurannya lebih kecil. Si Beringin Kecil ini kemudian ditanam sesaat setelah menanam kakaknya, di depan Pendopo Kabupaten, tempat yang sampai sekarang menjadi kediaman orang nomor satu di Kabupaten Jombang.


Penanaman pohon beringin kecil ini juga bersamaan dengan diletakkannya batu pertama pembangunan Pendopo Kabupaten Jombang pada tanggal 22 Februari 1910. Setelah memisahkan diri dari Mojokerto dan berdiri sebagai afdeeling sendiri, Jombang mulai membangun berbagai sarana dan prasarana untuk fasilitas mandirinya. Sebelumnya, semuanya masih ‘ikut’ afdeeling Mojokerto, sehingga Jombang belum punya banyak infrastruktur sendiri, termasuk belum memiliki Pendopo Kabupaten. Kala itu, dengan dibangunnya pendopo dan ditanamnya pohon beringin kecil ini, diharapkan dapat ‘mengisi’ Jombang secara bertahap.


Ditanamnya pohon beringin kecil ini juga sebagai bagian dari simbol pengayoman, sebuah harapan yang berada dalam diri Kanjeng Sepuh sebagai orang nomor satu di afedeeling Jombang kala itu. Kanjeng Sepuh berharap beliau dapat menjadi pelindung untuk warga Jombang yang dicintainya. Sehingga dua pohon beringin yang ditanam beliau, melambangkan harapan dan cita-citanya.


Setelah menanam Ringin Conthong yang besar, tersisa satu bibit pohon beringin yang kecil. Bibit pohon beringin kecil yang berada di tangan Raden Adipati Arya Suradiningrat V, Sang Bupati pertama Jombang itu sering disebut Beringin Kunthing. Penyebutan istilah kunthing untuk Si Adik Kecil ini entah karena jenisnya yang bernama ‘Kunthing’ atau mungkin disebabkan ukurannya yang kecil. Memang, dalam bahasa Jawa kunthing artinya kurus kecil atau ceking sesuai dengan karakteristik Si Adik Kecil Ringin Conthong ini.


Saat Jombang City Guide mengunjungi Pendopo Kabupaten, di halamannya ada beberapa pohon beringin. Namun entah kenapa, mata kami tertuju pada satu pohon beringin kecil yang berdiri di luar halaman pendopo, tepat di tengah jalan Alun-Alun yang memisahkan antara pendopo dan alun-alun Jombang. Posisinya juga berada tepat di depan gerbang masuk alun-alun bagian timur, seakan menyambut setiap orang yang hendak masuk maupun yang akan keluar dari gerbang.


Pohon beringin kecil ini berdiri di atas sebuah pondasi dan dikelilingi oleh pagar tali rafia. Bisa jadi esok hari ada sebuah perhelatan sehingga pohon ini ‘diamankan’ dari tangan jahil saat acara berlangsung. Tak jauh dari Beringin Kunthing ini berdiri, ada Gardu Listrik Belanda yang terdapat Sirine yang berbunyi suling sebagai penanda sahur dan buka puasa saat Ramadhan yang tak kalah tinggi nilai sejarahnya.

Sirene Seruling Legendaris

Pohon beringin di tengah jalan ini ukurannya tidak terlalu besar. Bisa jadi karena sering dipangkas supaya tidak mengganggu lalu lintas jalan. Daunnya tidak rindang sama sekali, bahkan bentuknya tak beraturan. Melihat kepala Si Beringin Kecil ini, Jombang City Guide kemudian teringat para rambut Edward Scissorhand, sama sekali tidak berbentuk brokoli seperti pohon beringin pada umumnya.


Yang menarik, pohon ini seakan dipertahankan untuk tetap berdiri meski membelah jalan, seakan posisinya sangat terhormat karena meski membelah jalan namun bebas dari penebangan Dinas Pertamanan.

Di Tengah Jalan

Bisa jadi ini adalah pohon beringin kunthing yang dimaksud. Banyak artikel yang menyatakan eksistensi Beringin Kunthing ini. Meski bukan sebagai ikon Jombang seperti Ringin Conthong kakaknya, namun eksistensinya tidak boleh dilupakan dalam sejarah Kota Santri Jombang BERIMAN. Ketiadaan lanjutan dokumentasi, data, informasi, maupun informan menyulitkan Jombang City Guide untuk memastikan apakah benar inikah Si Adik Kecil Ringin Conthong yang dimaksud.

Itu Beringin Kunthingnya kelihatan dari jauh

Namun bila melihat posisinya, yang dipertahankan membelah jalan, dan berada di depan pendopo, tebakan Jombang City Guide bisa jadi benar.

Gerbang Alun-Alun Bagian Timur
Ada yang bisa beri kami pencerahan??

Beringin Kunthing
Jalan Alun-Alun Jombang
Di Depan Gerbang Timur Alun-Alun Jombang


Bingung : Naik Odong-Odong aja ah...

Jumat, 27 Februari 2015

Kesenggol Saat Senggol-Senggolan Belanja di Pasar Senggol Jombang


Pasar di Jalan Melati Jombang, lebih dikenal sebagai Pasar Senggol, karena lapak pedagang ada di kanan dan kiri  di sepanjang jalan, seakan-akan para pembeli yang sedang berbelanja akan tersenggol barang dagangan plus belanjaan dan saling senggol-senggolan saat belanja karena saking ruwetnya, terutama jalan ini juga masih dilalui kendaraan bermotor.

Kamis, 12 Februari 2015

Sabar Menanti dan Mengantri Pecel Petra ala Mak Nah



Selain Pecel Pintjoek Bu Djiah dan Pecel Merah Kebon Rojo, Jombang juga punya sajian kuliner pecel unggulan lainnya. Adalah Pecel Pincuk Mak Nah yang berada di salah satu emperan trotoar Jalan Profesor Buya Hamka. Pecel ini mangkal dekat sekolah Kristen Petra, sehingga Pecel Mak Nah ini jadi sering disebut Pecel Petra. Setiap hari setiap pagi kira-kira pukul setengah enam pagi, Mak Nah dan putrinya bersiap dan sudah dikerubuti pelanggan yang ganas. Hehhehe… *Lapar maksudnya…. Kruyuk-kruyuk….


Senin, 05 Januari 2015

The Ground Canyon of Jombang : Ngarai Mini Tersembunyi nan Eksotis ala Wisata Kedung Cinet

Ngarai kecil nan tersembunyi ala Jombang kini serius digarap oleh PERHUTANI sebagai destinasi wisata alam yang mempesona para traveler. Dipoles dengan konsep masa kini, Ground Canyon Kedung Cinet bahkan ditahbiskan sebagai urutan teratas dalam 10 Top Destinasi Jombang.



Disebut Ground Canyon karena destinasi ini berupa ngarai yang spot paling indahnya bisa dilihat dengan menuruni lereng sungai. Bila Grand Canyon di Colorado merupakan ngarai terbesar di dunia, Green Canyon di Pangandaran adalah versi hijaunya, maka Kedung Cinet berupa bentuk mininya, yang tersembunyi di tengah hutan di ujung kota Jombang. Jadi, disebutlah Kedung Cinet sebagai Ground Canyon ala Jombang.
Terletak di area hutan milik PERHUTANI di Pojok Klitih, Plandaan, Jombang, yang kemudian kawasan ini dijuluki oleh para pemuda KKN dengan Cinet Adventure Forest. Ground Canyon Kedung Cinet memang tersembunyi di tengah hutan. Maka tak heran Kedung Cinet kadang juga disebut Secret Canyon, selain Mini Canyon karena ukurannya yang mungil dibandingkan saudara raksasanya di Colorado sana. Jadi digabung saja : Mini Secret Ground Canyon.
Eksotisme Ground Canyon Kedung Cinet awalnya dikira sebagai lokasi pemandian putri Majapahit. Namun isu itu terbantahkan dengan adanya konfirmasi dari pemangku wilayah setempat yang menyatakan bahwa sejarah tentang Kedung Cinet berawal dari era Kolonial Belanda. Lagipula, belum ada artefak apapun yang mampu membuktikan teori keputran ala Majapahit ini.
Ceritanya, dulu pemerintah kolonial Belanda banyak membangun fasilitas untuk melengkapi infrastruktur perusahaannya termasuk rel kereta api, bangunan-bangunan dan aneka kebun. Aneka infrastruktur ini sayangnya menggunakan tenaga pribumi melalui kerja rodi. Kebetulan saat mengelola kebun yang ada di Kedung Cinet, ditemukanlah ngarai yang indah ini. Para pekerja rodi ini kemudian menggunakan sungai berngarai indah ini sebagai tempat membersihkan diri. Sisa dari kerja paksa itu bisa dilihat dari jembatan ber-rel bekas lori yang masih terlihat kokoh dan tetap dilewati oleh penduduk setempat.
Di era modern beberapa tahun belakangan eksotisme Ground Canyon masih belum banyak dieksplorasi, bahkan oleh Perhutani Sang Empunya Hutan. Keindahan hutan yang tersembunyi ini hanya dinikmati warga setempat, dan ketika itu belum ada tiket masuk. Bersyukur, Jombang City Guide menjadi salah satu yang berhasil memancing penasaran para pemburu destinasi sehingga potensi wisata ngarai eksotis ini makin menjanjikan.
Dalam perjalannya, Ground Canyon Kedung Cinet sempat ramai tanpa pengelolaan. Hanya pemuda setempat yang menyediakan fasilitas seadanya, sehingga kebersihan area wisata tak terjaga. Pengunjung banyak yang menjadikan Ground Canyon Kedung Cinet sebagai jujugan kencan dan membuang sampah sembarangan selama berada di lokasi.
Dari kejadian-kejadian ini, akhirnya muncul banyak keprihatinan mengenai destinasi ini karena rusaknya habitat sungai akibat sampah pengunjung yang tak terkontrol. Dari kejadian itu, sebuah komunitas menggalang aksi peduli lingkungan dengan melepaskan ribuan ikan guppy untuk menjaga keseimbangan ekosistem sungai yang sepertinya agak tercemar karena ramainya kunjungan. Komunitas ini bahkan berjanji akan menggalang aksi yang tertib dan mau memberikan sebagian dari pendapatan event-nya untuk pengelola setempat. Acara berlangsung sukses. Lancar dan sangat berhasil.
Sayangnya ikan guppy yang dilepaskan untuk kembali menyeimbangkan ekosistem perairan sungai, habis tanpa jejak hanya dalam waktu dua hari. Pengelola ‘yang memiliki lahan’ sama sekali tidak diberi apapun : termasuk seorang anak yang mungkin ngiler karena terlalu inginnya memiliki seekor ikan guppy untuk dipelihara, yang akhirnya gagal mendapatkan ikan impiannya. Mungkin inilah akibatnya bila sebuah komunitas yang mengadakan event penting tanpa perencanaan dan konsultasi dulu dengan pengelola setempat.
Meski demikian, destinasi ini masih saja diminati pengunjung. Hingga akhirnya, pihak PERHUTANI sebagai pemilik area membuka lokasi ini sebagai sebuah destinasi resmi tahun 2017 berjuluk Wisata Kedung Cinet. Dibangunlah spot-spot selfie, jembatan, maupun kelengkapan-kelengkapan seperti dermaga, perahu dan pos ticketing. Dari situlah diharapkan pengunjung punya tambahan ‘hiburan’ selain menikmati keindahan Ground Canyon Kedung Cinet.
Spot selfie yang dibangun berupa aneka gardu pandang yang terbuat dari kayu-kayu hutan khas destinasi buatan PERHUTANI yang memanfaatkan sumber daya setempat. Taman-taman dibangun, meski belum tumbuh maksimal karena karakteristik lahan kering khas hutan jati. Terdapat gubuk asmara, rumah kayu kerucut, gerbang kayu dan masih banyak lagi termasuk tangga yang layak untuk dilalui.
Jombang City Guide tentunya tak ketinggalan mencoba wahana perahu yang disediakan pengelola. Dengan tarif setara selembar lima ribu rupiah per orang, perahu biru ini bisa dinaiki tiga orang sekaligus, plus tambahan seorang petugas pendayung. Dengan perahu ini, pengunjung bisa menyusuri sungai dan menyaksikan keindahan ngarai sepuasnya.
Sementara hanya ada satu perahu kecil yang disediakan pengelola. Awalnya ada dua perahu dan satu rakit bambu untuk wahana para pengunjung. Namun dua kendaraan sungai itu hanyut hilang terbawa banjir saat musim kemarau. Jadi bila ingin menikmati keindahan sungai dengan, mungkin harus bergantian dengan pengunjung lain karena keterbatasan armada perahu. Monggo kalau ada yang serius mau nyumbang perahu.
Suasana tenang dan sejuk memungkinkan pengunjung menikmati keindahan lokasi. Hanya saja, jembatan lori peninggalan Belanda sering memecah keheningan karena menimbulkan bunyi yang agak mengagetkan bagi pengunjung saat dilintasi kendaraan roda dua. Jembatan ini melintang tepat di atas ceruk koral sehingga pengunjung yang berada di bagian bawah jembatan yang menghubungkan tebing-tebing.
Meski bukan daerah pegunungan, namun Kedung Cinet cukup nyaman dikunjungi di siang hari karena rindangnya pepohonan. Selain itu, spot paling epic memang berada di ngarai bagian bawah yang terlindung dari sinar matahari. Jadi tetap menyenangkan meski mengadakan kunjungan saat mentari bersinar dengan tenaga penuh.



Saat menyusuri celah ngarai, tampak batuan koral menjadi penyusun utama bebatuan daerah ini. Lekuk-lekuk khas ngarai menjadi keindahan tersendiri. Uniknya, ada sebuah batu yang bentuknya mirip dengan benjolan yang seperti air mata yang hampir menetes. Bila legenda bajak laut banyak menyebut air mata putri duyung, maka di Ground Canyon Kedung Cinet dari bentuknya unik, disebutlah benjolan itu sebagai ‘Air Mata Bidadari’.



Cerita setempat tentang batu air mata bidadari ini cukup unik, yang mirip dengan cerita-cerita pada umumnya yang menyatakan bahwa bila mencuci wajah dengan air yang ada di bawahnya berkhasiat membuat awet muda. Selain itu, bila berdoa dengan tulus dan yakin kepada Allah di dekat air mata bidadari maka keinginannya terkabul. Menariknya, Mas Bee yang menjadi pengelola destinasi ini sudah membuktikannya dari doanya saat mencari pasangan hidup. Hehehhehe….



Keindahan bebatuan koral di bagian sungai atas bisa dinikmati oleh pengunjung dengan didampingi oleh pemandu. Biasanya pemuda pengelola Kedung Cinet yang bertugas yang akan mendampingi pengunjung menikmati tebing koral dari ngarai mini ala Jombang ini.
Uniknya, ada sebuah batu yang melintang di ujung jalur dayung di sungai bagian bawah yang dulunya tidak ada. Dulunya sebelum batu ini ada, pengunjung bisa mendayung hingga tebing koral bertingkat tempat jatuhnya air dari sungai bagian atas. Sejak ada batu ini, kini aktivitas mendayung tak lagi bisa mencapai tebing bertingkat karena terhalang batu yang diduga dalam kondisi mengapung ini.
Saat dicari oleh pengelola, tak ada tebing yang erosi atau batu lain di lokasi yang terlepas dari tempatnya. Sedangkan batu misterius yang tiba-tiba muncul setelah banjir besar ini menghalangi pendayungan ke tebing bertingkat. Menurut kesimpulan pengelola, bisa jadi batu ini memang ‘diletakkan’ oleh penunggu destinasi ini sebagai ‘pembatas’ supaya pengunjung yang makin ramai itu tak mendekati tebing bertingkat yang berbahaya. Kini, dibuatlah hiasan bertuliskan Kedung Cinet oleh pengelola di atas batu misterius itu.
Air yang mengalir di lokasi Ground Canyon Kedung Cinet cukup jernih, meski tak terlihat serangga sungai seperti capung dan anggang-anggang. Meski tak bisa sampai melihat bagian bawah sungai, tapi menurut pengelola, banyak ikan hidup di habitat sungai ini seperti mujair, patin, wader dan spesies ikan sungai air tawar pada umumnya. Mungkin ikan-ikan inilah yang memangsa ribuan ikan guppy yang dilepaskan di acara kemarin. Hehehhehehe

Warna airnya terlihat hijau, mungkin karena alga yang berkembang biak di habitat sungai. Saat sinar matahari menembus sela-sela dedaunan dan menerpa tebing, tampak pemandangan yang begitu indah karena air sungai memantulkan cahaya dari koral hingga berpendar kehijauan. Dari sinilah foto-foto ciamik dari Ground Canyon Kedung Cinet tampak seperti editan, padahal memang tampilan aslinya demikian.



Debit air sungai yang mengalir diantara ceruk tebing koral begitu rendah saat musim kemarau, namun menjadikannya seperti air terjun kecil yang bertingkat-tingkat. Memang, pengunjung hanya disarankan datang saat musim kering tiba karena dari debit air yang kecil itu, wisatawan bisa mengambil keuntungan dengan mengunjungi bagian bawah sungai berngarai eksotis ini.
Keberuntungan melihat ngarai eksotis ini tak bisa disaksikan saat musim penghujan karena debit air yang begitu tinggi yang bahkan bisa membuat lokasi duduk untuk pengunjung di tepian sungai sampai banjir meluber hampir ke taman selfie. Derasnya air bahkan menimbulkan suara deburan yang bisa didengar dari radius 100 meter.



Air yang mengalir deras itu bahkan sampai ke bagian bawah jembatan hingga deburannya bisa begitu membahayakan. Bebatuan menjadi licin dan bahkan pernah menggelincirkan seorang remaja hingga tewas karena terbawa arus sungai dan terbentur batu koral yang begitu lancip. Jadi destinasi ini hanya disarankan dikunjungi saat musim kemarau karena faktor keselamatan.
Yang tak asyik dari destinasi ini adalah belum adanya toilet untuk MCK. Jadi misalnya bila tiba-tiba ada yang ingin buang air, bisa mendatangi pemuda yang bertugas untuk diantar ke rumah penduduk terdekat.
Ketidaktersedianya toilet juga mengakibatkan sulitnya sembahyang di lokasi. Sudah dibangun beberapa pondok bambu yang bisa digunakan untuk sholat, namun sementara ini untuk mengambil air wudhu sepertinya harus memakai air sungai. Tenang, airnya bersih dan mengalir, jelas lebih dari dua qullah lah ya.


Untuk mencapai Ground Canyon Kedung Cinet, sayangnya belum didukung akses jalan yang memadai. Kedua Tebing hanya dihubungkan oleh jembatan lori buatan Belanda yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Pengunjung kendaraan roda empat disarankan menggunakan arahan Gmaps meski sebenarnya ada dua jalur menuju ngarai tersembunyi ala Jombang ini.
Jalur pertama lewat Pojok Klitih pernah Jombang City Guide cantumkan dalam artikel sebelumnya, yang melalui Plandaan. Dari arah Jombang Kota, ke Jembatan Ploso kemudian belok kiri. Polsek Plandaan belok kanan, lurus hingga sampai Pojok Klitih. Dulunya hanya ada jembatan gantung yang hanya bisa dilalui sepeda motor. Kemudian oleh pemerintah dibangun jembatan beton untuk roda empat. Meski tetap harus berjalan kaki, jembatan beton ini setidaknya bisa memangkas jarak berjalan kaki pengunjung yang bermobil hingga separuhnya.
Jalur Pojok Klitih memang lebih dekat dari Jombang kota, namun pengunjung bermobil tetap harus memarkir kendaraannya di tepi hutan tanpa pengawasan, kemudian harus lanjut berjalan kaki sekitar 500 meter untuk mencapai lokasi. Sebagai jalanan hutan, tentunya kondisinya bergelombang, becek saat hujan dan berdebu di musim kemarau. Meski demikian, bila kita meniti jalan kaki di jalur ini, kita bisa menikmati pemandangan hutan, kicauan burung di alam bebas dan sedikti demi sedikit mengamati tebing-tebing dan karakter bebatuan khas koral yang bertebaran di sepanjang jalan.
Meski demikian, bila pengunjung roda empat terlanjur salah jalur dan malas jalan kaki seperti yang dialami Jombang City Guide yang awalnya menggunakan rute Pojok Klitih, maka bisa mengubungi pemuda pengelola Ground Canyon Kedung Cinet untuk jasa ojek menuju lokasi, yang nomor teleponnya Jombang City Guide cantumkan di contact person dengan tarif sepantasnya.
Jalur kedua sesuai arahan Gmaps yang lebih ramah untuk pengendara roda empat. Dari arah Jombang kota, menuju Jembatan Ploso lalu belok kanan. Melalui keramaian Ploso hingga perempatan Brambangan. Dari perempatan ini belok kiri, lurus saja sampai di Jipurapah. Kondisi jalan lebih baik karena padat penduduk sehingga akhirnya pengendara harus lebih  sabar karena sering terjebak acara tenda pengantin yang menutup akses jalan satu-satunya.
Dari Jipurapah, pemandangan sawah dan hutan milik PERHUTANI juga menjadi pemandangan sepanjang jalan. Meski akses akhir mendekati Ground Canyon Kedung Cinet berupa jalan gronjalan, namun tetap bisa dilalui kendaraan roda empat. Sangat disarankan menggunakan kendaraan non-sedan untuk mencapai ngarai mini ala Jombang ini, kecuali bagi yang sudah kebanyakan mobil sehingga tak sayang mobilnya menghadapi medan terjal nan urban legend.
Tanda saat sudah sampai di Ground Canyon Kedung Cinet adalah adanya tebing koral di sisi kanan. Dari jalur Jipurapah, pengunjung bermobil hanya perlu berjalan sekitsar 100 meter ke lokasi. Selain itu pengunjung roda empat bisa memarkir kendaraannya di samping tebing, dan lebih aman daripada ditinggalkan di tepi hutan seperti di jalur sebelumnya. Jadi, meski mengambil rute agak jauh memutar, rute Jipurapah lebih aman dan nyaman bagi pengunjung roda empat.
Tiket masuk Ground Canyon Kedung Cinet dibanderol seharga selembar lima ribu rupiah, dengan tarif parkir kendaraan roda dua dengan jumlah yang sama. Jangan tertipu dengan gambar rafting yang tertera di lembaran tiket, karena meski destinasi alam, Ground Canyon Kedung Cinet bukan arena arung jeram. Mungkin pembuat tiketnya mati gaya sehingga bingung mau mencantumkan gambar apa. Hehehhehe
Destinasi ini memang hanya menawarkan wisata alam berupa keindahan ngarai yang tersembunyi di tengah hutan. Sangat ditunggu datangnya investor yang berminat mengembangkan Ground Canyon, tentunya dengan konsultasi dan kerjasama dengan pihak PERHUTANI sebagai pemilik lahan.



Ada pula destinasi lain yang mirip dengan Ground Canyon Kedung Cinet yang berada tak jauh dari lokasi : Kedung Sewu. Penampilannya berupa sungai berbatu koral putih yang sepertinya pantas juga dijadikan jujugan selanjutnya : The White Coral Garden. Rute Jipurapah sepertinya cukup dekat dengan ‘adik’ Ground Canyon Kedung Cinet ini. Sedangkan bila dari Pojok Klitih, destinasi lain yang cukup menarik dan searah juga ada Telaga Jambe, Kebun Kelengkeng Suwarno, dan sensasi naik perahu tambangan mobil di Gebangbunder.
Jadi, sekali rute ke utara Jombang setidaknya bisa mengunjungi beberapa destinasi sekaligus. Ayo, yang mana yang belum didatangi???


Mini Secret Ground Canyon Kedung Cinet
Cinet Adventure Forest
Pojok Klitih – Jipurapah
Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang
Buka Setiap Hari
Pak Sugeng PERHUTANI : 081357101733
Pemuda Pengelola dan Ojek Insidental :
Mas Bee : 08222 965 898
Mas Ali : 081 315 429 172

Tentang Jombang Lainnya

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...