Rabu, 01 Agustus 2018

Wisata Sumber Banyu Biru : Makan Sambil Kecek-Kecek!


Destinasi Sumber Banyu Biru menawarkan sensasi wisata kuliner yang tak hanya berfokus pada makanannya melainkan keunikan cara menyantapnya. Sumber Banyu Biru membuat diferensiasi berupa warung air yang menyajikan sensasi wisata kuliner unik berupa makan sambil merendam kaki di sungai.


Warung air adalah elemen paling unik dari Wisata Sumber Banyu Biru. Para pemuda yang merintis destinasi Sumber Banyu Biru memiliki ide dengan menyediakan beberapa set meja dan kursi di tengah aliran sungai. Meja dan kursi air ini nantinya digunakan sebagai service convenience bagi pengunjung untuk merasakan sensasi andok di atas Sungai Biru yang mengalir di tengah areal wisata.

Menunggu pesanan sambil merendam kaki




Destinasi ini mulai dibuka menjelang lebaran dan cukup viral di media sosial, kemudian baru ramai pasca Idul Fitri. Warga setempat bergotong-royong sejak tiga bulan sebelumnya untuk mempercantik lokasi, pengelola sudah menanam aneka tanaman hias dan taman bunga serta melakukan pembangunan fasilitas penunjang seperti gubuk warung. Suasana sejuk khas pegunungan ala Wonosalam juga membuat pengunjung betah berlama-lama di areal wisata.







Obyek wisata ini disebut Sumber Biru oleh penduduk setempat, kadang pula disebut Banyu Biru oleh warganet. Nama Banyu Biru sudah menjadi tempat wisata di Pasuruan dan juga sebuah kolam renang di seberang Kebon Rojo Jombang. Sedangkan nama Sumber Biru juga sudah digunakan di Malang yang obyek wisatanya berada tak jauh dari Candi Singosari. Dari sinilah Jombang City Guide lebih memilih untuk menggabungkan nama keduanya menjadi Sumber Banyu Biru yang menjadi ikon wisata warung air di Wonotirto, Wonosalam.






Berada di Dusun Wonotirto, Desa Wonomerto, Kecamatan Wonosalam bagian selatan. Wonotirto kerap disebut kawasan Ngembag oleh penduduk setempat, meski tak ada hubungannya dengan Sungai Embag yang lekat dengan Wisata Bukit Embag di dekat Pasar Wonosalam.


Rute menuju Wisata Sumber Banyu Biru dari tengah kota Jombang lebih mudah ditempuh melalui Pasar Bareng. Dari Pasar Bareng lurus saja ke selatan, yang nantinya sampai di Wonosalam selatan. Jalur ini bisa ditempuh sekitar 20 menitan, dengan tipe lalu lintas normal. Akses jalan sudah lumayan dengan tipikal jalan aspal sederhana dan beberapa area yang sudah dilapisi beton. Meski bukan jalan yang lebar dan ada beberapa titik yang masih gronjal-gronjal, setidaknya rute ini sudah bisa dilalui mobil.


Karena buta arah, Jombang City Guide mengikuti petunjuk dari Google Maps tanpa mengutak-atik kembali ponsel. Pastikan baterai dan paketan data dalam kondisi prima sehingga tidak kehabisan daya maupun kuota ketika perjalanan. Wonosalam selatan masih krisis sinyal sehingga ancaman kehilangan jangkauan operator dan menyulitkan update lokasi termasuk mengubah arah haluan jalan. Sulitnya sinyal mungkin sebuah pertanda bahwa kembali ke cara tradisional dengan interaksi dan bertanya pada penduduk setempat merupakan metode petualangan paling ampuh.

Bertanya pada penduduk setempat


Sesampainya di dekat lokasi, rupanya jalur sudah bisa dilalui roda empat dan sudah ada tanda penunjuk jalan menuju lokasi. Sayangnya Jombang City Guide kurang banyak berdoa sehingga kurang beruntung dengan datang saat akses jalan baru saja diberi cor-coran. Jadi belokan masuk masih dipasang bambu dan hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Mungkin sekitar seminggu lagi baru boleh dilalui kendaraan roda empat.

Masih ada palang bambu

Terpaksa diparkir di luar, jauh dari lokasi

Jalanan menurun saat menuju lokasi masih oke, namun terimalah kenyataan ketika nanti harus pulang dengan jalur menanjak sambil gendong bayi yang mancal-mancal kegirangan melihat ayam dan ipus maupun Si Guguk di salah satu rumah yang tepat di tikungan. Walah dek, Iguknya jangan dipanggil nanti kalau dia ngejar susah nih larinyaaa….. Mendaki jalan ini ceritanya, bukan mendaki gunung.


Posyandu Melati Wonotirto


Gapura Wana Wisata Sumber Banyu Biru

Tak jauh dari Posyandu Melati dan sebuah bangunan sederhana yang seperti sebuah gereja, gapura masuk Wisata Sumber Banyu Biru sudah terlihat. Lahan parkir yang cukup luas bisa menampung banyak kendaraan, meski masih diisi kendaraan roda dua saja karena akses roda empat belum dibuka.


Jalanan menurun menuju lokasi


Untuk memasuki areal wisata, tak dipungut biaya. Pengunjung hanya dikenakan biaya parkir kendaraan saja. Pendapatan wisata ini berasal dari transaksi wisata kuliner yang disediakan di warung-warung yang berada di dalam area wisata. Pengunjung bisa memesan aneka makanan dari warung-warung yang tersebar di lokasi wisata, tinggal pilih sesuai selera.

Warung Anak Alam : Menu sego jagung dan aneka gorengan

Warung Artomoro : Menu bakso tumpeng, bakso mercon, rujak cingur dan tahu lontong


Warung Jempol : Menu bubur kacang hijau, bubur serunthul, gado-gado, aneka jus

Menu pecel dan sate ayam



Bakso Tumpeng di atas meja air

Menu yang disediakan cukup beragam dengan harga yang bersahabat, seperti Nasi Jagung, Nasi Pecel, Sate Ayam, aneka gorengan, Lontong Tahu, Sempol, Bakso Tumpeng, Aneka Penyetan, Rujak Cingur, Tahu Lontong, Gado-Gado, Mie Ayam, aneka jus alias smoothies, Bubur Kacang Hijau, Bubur Srunthul, Es Buah, Soda Gembira maupun minuman sachetan.

Menu Boy
Bakso Tumpeng
  

Bubur Serunthul

Gado-Gado

Menu salah satu warung

Bayi dan minuman sachetan

Para wisatawan bebas memesan aneka makanan dari beberapa warung sekaligus sehingga bisa merasakan kombinasi menu yang beragam. Nantinya, para kru warung akan mengantar pesanan ke meja air di tengah sungai.





Bagi pengunjung yang tak ingin makan sambil kecek-kecek, bisa menyantap hidangan di samping salah satu warung yang ada di lokasi. Seperti Jombang City Guide yang membawa bayi, sensasi makan sambil kungkum kaki di sungai belum memungkinkan. Akhirnya yang mencoba sensasi makan di atas sungai sementara ibuk dan bibinya dulu..




Kungkum sikil

Sungai di Wisata Sumber Banyu Biru disebut Sungai Biru. Air yang mengalir di sungai cukup bersih meski airnya tak berwarna biru sesuai ‘nama merek’nya. Kedalaman sungai sekitar betis orang dewasa sehingga memungkinkan andok sambil kungkum sikil. Sungai Biru sedikit membawa endapan lumpur yang agak ‘terobok-obok’ karena aktivitas andok para pengunjung yang membuat warna air agak kecoklatan. Meski agak coklat, sungai ini berasal dari aliran air terjun kecil yang berada tak jauh dari  meja makan air. Anak-anak bisa bermain di dekat air terjun itu yang tak terlalu tinggi.





Saat Jombang City Guide mampir, tak terlihat seekor ikan pun selama andok di atas sungai. Mungkin ikannya masih ndelik. Entah kebetulan atau tidak, Jombang City Guide tak melihat ratusan kupu-kupu yang berterbangan di lokasi seperti yang dituliskan dalam sebuah liputan. Bahkan Jombang City Guide tak melihat satu pun kupu-kupu maupun serangga air seperti capung maupun anggang-anggang seperti yang bisa dilihat di sungai Grojokan Selo Gonggo dan sungai di Selo Ageng.






Padahal, kualitas air sungai yang bisa dilihat dengan adanya serangga air yang berterbangan di sekitar sungai. Banyak sedikitnya serangga air di sungai merupakan indikator kadar pencemaran air. Mungkin para serangga sungai itu agak ‘terpinggirkan’ sejak antusiasme kunjungan wisatawan ke Sungai Biru yang kemudian ‘menjajah’ habitat mereka. Atau bisa jadi pula kualitas air sungai sedikit tercemar??? Mungkin kejelasannya perlu konsultasi dulu dengan ECOTON di Padepokan Wonosalam Lestari.





Di destinasi Sumber Banyu Biru ini, pengunjung juga tak melulu hanya bisa menikmati makan di atas sungai maupun merasakan nuansa hutan termasuk spot-spot foto yang bisa digunakan untuk berselfie ria yang nantinya bisa dipamerkan di media sosial. Beberapa spot yang disediakan diantaranya spot hati, spot gerbang ranting kembar, dan spot perahu bambu yang bisa dibuat bergaya ala Mbak Rose DeWitt Bukater dan Mas Jack Dawson di film Titanic. Sayang Jombang City Guide kok lupa kemarin gak kepikiran bikin foto itu ya.








Obyek wisata ini pada dasarnya menawarkan fitur wisata yang mengangkat potensi alam seperti wisata sungai dan keasrian hutan, dengan spot foto yang dibuat dari bambu dan kayu yang dihias sedemikian rupa. Fitur-fitur ini mirip dengan destinasi wana wisata lain yang sedang tren di Wonosalam seperti Wisata Bukit Embag dan Wisata Grojogan Selo Gonggo.



Istimewanya, ada spot lain yang berkaitan dengan cerita rakyat penduduk setempat seperti spot Watu Dingklik dan spot Tapak Seno. Watu Dingklik berada di samping sungai, dan untuk menuju ke watu dengklek hanya perlu memasuki gapura bambu dan menyusuri jalan setapak. Rupanya sesuai namanya, Watu Dingklik adalah batu yang berbentuk mirip kursi, dengan cekungan yang bisa digunakan untuk duduk. Penduduk setempat percaya dulunya batu ini digunakan oleh seorang pertapa untuk bersemedi sekian lama.




Sedangkan watu Tapak Seno berada tak jauh dari spot foto hati dan gerbang ranting kembar. Watu Tapak Seno adalah batu yang di permukaannya terdapat sebentuk jejak kaki yang menyerupai sebuah tapak kaki. Meski guratannya tak terlalu jelas seperti Maqam Ibrahim di samping Ka’bah, namun terlihat cekungan yang memang mirip sebuah jejak kaki lengkap dengan cekungan jempol dan jari kaki yang lain.



Jejak kaki ini dipercaya sebagai tapak kaki milik Seno, seorang tokoh pewayangan yang merupakan bagian dari Pandhawa dan punya nama lain Bima atau Werkudara. Tapak kaki ini yang terlihat adalah kaki kanan, dan dipercaya jejak kaki kirinya berada di Gunung Arjuno. Kebenaran cerita tentang sosok Seno masih perlu dipertanyakan  karena tokoh pewayangan hanyalah fiktif belaka.



Jejak kaki di Tapak Seno ini bisa jadi merupakan tapak kaki milik seseorang atau bahkan hanya cekungan batu yang kebetulan mirip dengan telapak kaki. Meski demikian, batu Tapak Seno tetap menjadi salah satu elemen wisata yang melengkapi obyek wisata Sumber Banyu Biru yang cukup digemari wisatawan lokal.





Dulunya, batu Tapak Seno ini batunya cukup besar. Entah mengapa seseorang membelah batu itu hingga berukuran seperti sekarang. Ada kemungkinan saat membelah batu itu baru ketahuan ada sebuah jejak kaki di permukaannya. Yang pasti tak ada lagi kisah yang bisa dikorek lebih lanjut karena Si Pembelah Batu kini telah tutup usia.




Wahana Mini Cross juga tersedia untuk anak-anak pecinta adrenalin tersedia di samping sungai. Track berupa jalanan kecil cukup menarik untuk dicoba. Sayangnya saat berkunjung wahana ini sedang off. Sedangkan Bayi Jombang City Guide masih belum cukup umur untuk mencobanya padahal ibuknya yang kepingin nyoba. Mungkin wahana ini bisa dicoba oleh Princess Dija sambil berkebaya Yuk Cilik Jombang. Xixixixi….


Lokasi wisata ini buka hingga malam hari dan sudah dilengkapi dengan lampu penerangan dan kelap-kelip yang menghiasi area. Jombang City Guide mampir siang hari, jadi maaf ya  nggak ada fotonya. Jadi bagi pengunjung yang ingin merasakan sensasi makan di sungai malam-malam sambil diterangi sinar temaram, bisa mencoba datang malam hari. Tapi akses jalannya jadi agak ngeri sih soalnya minim lampu penerangan.



Jangan lupa setelah andok dan berkecek ria di Sumber Banyu Biru untuk berziarah ke Makam Pangeran Benowo, melihat penggilingan kopi Wonosalam di De Luffi dan kecipak-kecipak di Kolam Renang Batu Pelangi yang ada di desa Jarak yang bersebelahan dengan Wonotirto, sambil menyusuri kebun kopi yang membentang di sepanjang mata memandang.





Destinasi ini cukup mengasyikkan dan menawarkan sensasi yang unik dan berbeda di tengah monotonnya pariwisata rintisan yang menawarkan fitur serupa yang hanya menawarkan wahana berupa spot foto. Obyek Wisata Sumber Banyu Biru ini merupakan obyek wisata alam sekaligus wisata kuliner. Ada air terjun, taman sungai, wisata cerita rakyat, dan andok  sambil kungkum sikil. Jadi, sekali kunjungan bisa menikmati banyak jenis wisata sekaligus. Patut dicoba, kapan main kesini???




Wana Wisata Sumber Banyu Biru
Dusun Wonotirto, Desa Wonomerto
Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang
Buka setiap hari
CP : Eko - 085251842167

1 komentar:

Tentang Jombang Lainnya

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...