Sabtu, 01 Februari 2020

Reruntuhan Gapura Paduraksa di Candi Mlaten : Pemukiman Bangsawan era Kerajaan Kediri



Gemparnya penemuan benda cagar budaya di Jombang belum berhenti. Masih dari kawasan Ngoro yang hanya bertetangga dusun dari laporan Candi Mandapa Ngrembang. Penemuan dinding pondasi dan berbagai kelengkapan bangunan yang diperkirakan dari era Kerajaan Kediri terjadi di Mlaten.



Mlaten terletak di samping Ngrembang, dimana laporan penemuan benda kuno ini terjadi hampir bersamaan. Kedua lokasi ini berdekatan dan masih masuk dalam kawasan Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang yang ‘hampir’ berbatasan dengan Kandangan, Kediri.

Kamis, 09 Januari 2020

Pendakian Anjasmoro Menuju Tapak Bunder Bareng Gunung Bagging



Ada banyak jalur pendakian Anjasmoro, karena gunung yang punya nama yang diambil dari nama istri Damarwulan ini punya bentangan yang begitu luas dan masih berupa hutan rimba yang belum terjamah tangan manusia. Bentangan itu memungkinkan pendaki bisa mencapai berbagai titik tertentu yang harus dimulai dari starting point yang berbeda. Jangan sampai salah starting point, karena kalau berbeda bisa salah pencapaian puncaknya.


Jalur pendakiannya juga liar, dan bahkan bisa dibilang tak resmi. Jadi jangan heran bila jalur pendakiannya bukan berupa track ala hiking pada umumnya, melainkan berupa mbrasak pakai parang sekaligus jelajah hutan bekas dilalui penduduk setempat yang mencari hasil hutan. Tapi ada satu pengecualian untuk pos Kancil di Carangwulung yang menuju Puncak Cemorosewu, yang sudah punya perizinan dan jalur yang paling layak dibandingkan lainnya.

Sabtu, 04 Januari 2020

Candi Mandapa Ngrembang : Sisa Pondasi Batur, Persemedian Para Resi




Perlu turun ke pematang sawah untuk melihat langsung benda peninggalan purbakala yang terletak di Dusun Ngrembang, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang ini. Bangunan kuno itu, berada di bawah pohon jati muda yang tegak sendirian di tengah sawah. Seakan pohon itu ditanam untuk menandai lokasi dimana tumpukan batu bata kuno itu berada.

Mbrasak bersama Pak Polo

Jombang City Guide diantar langsung oleh Pak Kasun M. Yunus, yang berperan begitu penting dalam ‘penemuan’ benda purbakala ini. Tanpa mengenakan alas kaki, dengan luwesnya beliau menerobos kebun tebu milik Sari yang mulai meninggi hingga dedaunannya mampu menerpa wajah. Sesampainya di lokasi, bangunan kuno ini tampak sudah mulai ditumbuhi rerumputan dan bunga perdu liar yang cukup menutupi bagian atas bangunan kuno ini.

Rabu, 01 Januari 2020

Nikmatnya Jus Durian Wonosalam Berpadu Bakso Durian Spesial



Warung Tombo Luwe adalah warung yang menyajikan makanan pedesaan lereng Anjasmoro pada umumnya. Tombo Luwe dalam Bahasa Indonesia artinya penawar lapar. Warung Tombo Luwe ini dimiliki oleh Pak Slamet, karena itulah, kadang kedai ini disebut juga Warung Pak Slamet. Warung Tombo Luwe ini, memiliki spesialisasi pada hidangan seperti sate-gule dan rica-rica  meski kolak ketan durian dan nasi jagung tetap menjadi andalan. Warung Tombo Luwe menawarkan satu menu yang sangat istimewa di sini dan tak banyak orang menjualnya : Jus Durian.


Di berbagai sudut kota banyak penjual minuman smoothies atau yang di Indonesia lebih sering dikenal dengan jus buah. Aneka varian jus ditawarkan, hingga mix buah pun dijadikan alternatif untuk modifikasi rasa bagi minuman yang diblender dalam pembuatannya ini.

Senin, 09 Desember 2019

Kikil Balungan Warung Sate H. Faqih : Kuota Terbatas, Grab It Fast!



Jombang memang sedang gencar-gencarnya menahbiskan dirinya sebagai kota berkuliner khas kikil. Pelangi Kikil di Mojosongo, Kikil Mojokrapak, Lodeh Mak Semah adalah buktinya. Namun Semuanya itu masih dalam kategori lodeh kikil, bukan sajian sup kikil sesungguhnya. Meski demikian, masih ada pula Kikil Jumbo Bu Shokib yang baru bisa dikategorikan sajian murni ‘sikil’ yang porsinya lumayan bikin klenger.


Lebih dari 50 tahun

Kuliner kikil yang unikmat satu lagi disumbangkan oleh Warung Sate H. Faqih yang berasal dari kawasan Cukir samping Pabrik Gula Tjoekir yang legendaris itu. Bertempat di jalan Raya Cukir-Mojowarno dekat lampu merah perempatan Cukir, ternyata warung sate ini tak kalah legendarisnya dengan pabrik gula tetangganya. Sepak terjangnya dalam dunia sate sudah tak perlu diragukan lagi karena sudah lebih dari 50 tahun menggelutinya. Jadi rasanya agak membosankan bila bahasan berkisar tentang sate.

Sabtu, 07 Desember 2019

Candi Glagahan : Bangunan Suci Yang Disebutkan dalam Prasasti Poh Rinting



Dalam Prasasti Poh Rinting dinyatakan bahwa Dang Acaryya membuat permohonan kepada raja dan Sang Prabu pun mengabulkannya, dengan menetapkan Desa Poh Rinting yang memiliki bangunan suci dimana masyarakat desa setempat berkewajiban untuk memeliharanya.

Tanggal Prasasti Poh Rinting dikonversikan oleh Damais (1955) dengan tanggal 23 Oktober 929 Masehi. Prasasti Poh Rinting, ditemukan di Dusun Glagahan, Desa Glagahan, Kecamatan Perak,Kabupaten Jombang yang saat ini sudah diboyong dan disimpan di Museum Purbakala di Trowulan dengan nomor inventaris 82.

Senin, 02 Desember 2019

The Ground Canyon of Jombang : Ngarai Mini Tersembunyi nan Eksotis ala Wisata Kedung Cinet


Ngarai kecil nan tersembunyi ala Jombang kini serius digarap oleh PERHUTANI sebagai destinasi wisata alam yang mempesona para traveler. Dipoles dengan konsep masa kini, Ground Canyon Kedung Cinet bahkan ditahbiskan sebagai urutan teratas dalam 10 Top Destinasi Jombang.



Disebut Ground Canyon karena destinasi ini berupa ngarai yang spot paling indahnya bisa dilihat dengan menuruni lereng sungai. Bila Grand Canyon di Colorado merupakan ngarai terbesar di dunia, Green Canyon di Pangandaran adalah versi hijaunya, maka Kedung Cinet berupa bentuk mininya, yang tersembunyi di tengah hutan di ujung kota Jombang. Jadi, disebutlah Kedung Cinet sebagai Ground Canyon ala Jombang.

Jumat, 08 November 2019

Watu Mbah-Mbeh : Relief Unik WatuGaluh Petunjuk Ibukota Kerajaan Mdang



Sebuah patok batu andesit berdiri agak miring di tengah sawah. Patok batu itu bukan sekedar tugu biasa. Patok batu itu, menjadi asal usul sejarah Desa Watu Galuh yang kini hari jadinya didasarkan dari penetapan lokasi itu sebagai ibukota Kerajaan Mataram Kuno dalam era Wangsa Isyana yang dipimpin Mpu Sindok, Sang Mahamantri Rakyyan i Hino.


Penduduk setempat menyebut patok Watu Galuh ini sebagai Watu Mbah-Mbeh, yang entah darimana penamaan ini berasal. Patok ini mungkin sebuah srandu yang menandai lokasi tertentu sebagai bagian dari batas kota. Jika memang benar, maka bisa jadi masih ada patok batu yang lain sebagai penandanya. Mirip dengan konsep yoni naga raja milik Majapahit yang menjadi pembatas wilayah ibukota kerajaan.

Jumat, 01 November 2019

Taman Kututan : Keindahan Tersembunyi di Tengah Hutan


Tak disangka, di persimpangan jalan setapak menuju dua air terjun, terdapat taman yang begitu indah. Taman Kututan namanya, yang letaknya tersembunyi di dalam area hutan di Wonosalam. Bunga-bunga hutan menghiasi lokasi, pengunjung juga dimanjakan dengan jembatan dan ayunan di atas sungai yang jernih.


Jadi, taman ini sebenarnya merupakan bagian dari Taman Hutan Raya R.Soerjo regional Wonosalam Selatan Dusun Pengajaran, Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang  yang bersebelahan dengan tepi Kediri.

Rabu, 09 Oktober 2019

Si Manis Jumbo Salak (Baron) Galengdowo


Tak melulu bumi durian, Wonosalam juga merupakan penghasil salak berkualitas. Komoditas salak yang bisa dipanen sepanjang tahun benar-benar menguntungkan petani. Bahkan seluruh penjuru Wonosalam adalah penghasil salak. Galengdowo dan sekitarnya merupakan pusat kebun salak Galengdowo yang menjadi primadona kebanggaan Wonosalam selatan.

Salak Galengdowo memang terasa lebih istimewa. Salaknya terkenal sangat manis, tanpa rasa kecut sama sekali. Ukurannya besar dan begitu renyah. Dari ukurannya, Salak Galengdowo jelas memiliki daya tarik yang disukai penjual dan pembeli. Selain penampilannya yang sangat menggiurkan, rasanya juga enak. Salak Galengdowo ini pun makin menggoda dan cocok sebagai oleh-oleh yang istimewa bagi penerimanya.

Minggu, 06 Oktober 2019

Candi Dempok : Singgasana Pertapaan Damarwulan



Tumpukan bata kuno membentuk bangunan mirip candi Majapahit disinyalir merupakan peninggalan Damarwulan. Dari cerita penduduk setempat, dulunya tumpukan batu bata berukuran jumbo itu merupakan lokasi dimana Sang Ksatria andalan Majapahit itu bersemedi.


Diantara batu bata merah berukuran jumbo itu, terdapat beberapa yang memiliki ukiran khas guratan peninggalan bersejarah kerajaan kuno. Kebanyakan situs non-andesit memang tersusun dari batu bata kuno yang dihiasi guratan bentuk setengah lingkaran di permukaannya. Situs bersejarah yang dominan dari batu bata kuno bisa ditemukan di Situs Sugihwaras, Prasasti Tengaran, Prasasti Watu Gilang, Petilasan Damarwulan Sudimoro, dan masih banyak lagi.

Selasa, 01 Oktober 2019

Petik Langsung Sayur Segar di Wisata Kampung Hidroponik Mojowarno


Berawal dari bencana badai yang merusak ratusan rumah warga di Desa Karanglo tahun lalu, akhirnya pemerintah Kabupaten Jombang dengan sigap menurunkan bantuan. Dari sinilah kemudian dilakukan inovasi dengan budidaya tanaman hidroponik yang digagas pertama kali oleh seorang warga yang berhasil menggunakan metode ini dalam aktivitas bercocok tanamnya.


Budidaya tanaman hidroponik ini kemudian diikuti oleh beberapa warga desa lain sehingga membuat Camat Mojowarno berani menetapkan Dusun KarangLo, Desa KedungLo sebagai kampung hidroponik pertama di Jombang kebanggaan Mojowarno. Dari keberhasilan inilah, akhirnya Wisata Kampung Hidroponik tercetus kemudian diresmikan di akhir November 2018 oleh Bupati Jombang terpilih.

Rabu, 04 September 2019

Menguak Sosok Anjasmoro



Namanya Pegunungan Anjasmoro, yang merupakan salah satu gugusan pegunungan paling kompleks se-Jawa Timur. Sebagai bagian dari kluster pegunungan, tentunya Anjasmoro punya banyak puncak dan gunung-gunung yang masuk dalam gugusannya. Jombang punya bagian Gunung Gede dalam wilayahnya, masuk wilayah dataran tinggi yang bernama Wonosalam dengan puncaknya yang berjuluk Cemorosewu.

Sayangnya, meski menjadi salah satu ‘pemilik’ Anjasmoro, tak banyak yang tahu pula bahwa wilayah Jombang juga punya kawasan pegunungan. Kunjungan Alfred Russel Wallace yang menjadi satu-satunya catatan ilmiah mengenai kawasan ini. Dalam laporan kunjungannya, dia menuliskan dataran tinggi ini sebagai bagian dari ‘Wonosalem yang ada di lereng Gunung Arjuno’.


Selasa, 03 September 2019

Pesona Alam Lembah Winden : Persembahan Wisata dari Sumber Gogor


Lembah Winden, satu lagi destinasi wisata di Wonosalam dari regional Sumber Gogor. Terletak di Sumber Gogor, Lembah Winden memang merupakan destinasi wisata yang erat kaitannya dengan mata air Sumber Gogor yang mengalirkan air ke Sungai Gogor.


Pesona Alam Lembah Winden menawarkan wisata berupa keindahan lembah yang dipenuhi taman hijau dan asri dengan kolam renang yang airnya langsung dari aliran Sumber Gogor yang berada tak jauh dari destinasi ini.

Senin, 02 September 2019

Situs Punden Medelek dan Kisah-Kisah Mistis Yang Menyertainya


Di dalam area Makam Medelek, terdapat puing-puing batu bata kuno yang disinyalir sebagai peninggalan Kerajaan Medang Kamulan. Puing-puing itu dipercaya sebagai sisa bangunan kuno yang bentuknya sudah tak bisa diperkirakan lagi. Oleh penduduk, dan juru kunci makam, pecahan batu bata kuno itu disusun melingkar mirip sumur.

Batu bata kuno berwarna merah tampak sudah banyak yang pecah menjadi beberapa bagian. Terlihat ukurannya yang lebih besar dari batu-bata produksi zaman modern. Tampak beberapa ada yang memiliki ukiran seperti batu-bata khas peninggalan kerajaan Medang yang berhiaskan pahatan setengah lingkaran.

Minggu, 25 Agustus 2019

KanSa : Wisata Edukasi Kandang Sapi Wonosalam


Setelah lama dinanti akhirnya terwujudlah destinasi baru yang benar-benar berupa wisata edukasi tentang sapi perah berikut segala kelengkapannya : KanSa – Kandang Sapi Wonosalam. Ternyata, destinasi ini tak melulu berisi kandang sapi sesuai namanya. Ada restoran, kolam renang, rumah hobbit, rumah jamur dan cafĂ© susu yang jelas murni dan segarnya.


Kansa, atau KanSaLam -begitu Jombang City Guide lebih suka menyebutnya- berkonsep sebagai one stop shopping destinasi sapi perah, dimana semua yang berkaitan dengan ‘kegiatan laktasi’ dan peternakan salah satu hewan memamah biak ini ada dalam satu area khusus yang sangat layak dikunjungi wisatawan.

Jumat, 09 Agustus 2019

Peyek Cantik ala Keripik Kembang Goyang


Ada sebuah perusahan produsen kerupuk rempeyek di Wonosalam yang melakukan sebuah inovasi dengan membuat keripik peyek yang tidak biasa. Ketidak-umuman peyek yang diproduksi ini berupa keripik peyek yang digoreng menjadi bentuk yang sangat cantik seperti bunga. Keripik peyek Mentari Putri Ayu produksi Jombang ini berbentuk seperti keripik kembang goyang. Ada-ada saja.

Rabu, 07 Agustus 2019

Prasasti Watu Gilang : Jejak Ibukota Kerajaan Medang Kamulan



Prasasti Watu Gilang diduga merupakan peninggalan Kerajaan Medang Kamulan. Tugu batu ini sudah menjadi ‘inventaris’ cagar budaya Jombang dengan nomor 10/JMB/91 dan masuk dalam pendataan benda bersejarah peninggalan kerajaan kuno.


Seseorang pernah mengatakan bahwa gilang artinya hitam, sedangkan watu dalam bahasa Jawa artinya batu. Jika memang benar perkataan itu, Watu Gilang artinya batu hitam. Kalah wes Hajar Aswad, xixixixi… Namun saat diteliti lebih lanjut, tak ada terjemahan gilang dalam Bahasa Sansekerta.  Memang benar, Watu Gilang berwarna hitam. Memang bukan sepenuhnya hitam, namun prasasti ini jelas dibuat dari batu andesit sehingga warnanya hitam, bukan batu bata yang berwarna merah.

Minggu, 04 Agustus 2019

Griya Kawitan : Destinasi Apik Nuansa Mojopahitan Yang Masih Tertutup Untuk Umum


Sebuah destinasi baru yang dilengkapi villa, taman, kolam renang, pendopo dan joglo, akan dibuka di Wonosalam. Obyek wisata apik itu bernama Griya Kawitan, yang mengusung nuansa Jawa-Mojopahitan. Griya Kawitan ini seakan mengingatkan kita pada Kampoeng Djawi yang sebelumnya sudah merajai Wonosalam sebagai jujugan idaman wisatawan di Lereng Anjasmoro.


Griya Kawitan, yang foto-fotonya sudah beredar di internet memang menawarkan destinasi wisata dengan konsep taman dan resort bernapaskan desain Jawa. Tampak dari gambar yang beredar, sudah selesai dibangun kolam renang, aneka taman dan gapura Majapahitan yang sekilas begitu mirip dengan Kampoeng Djawi.  Sepertinya mereka bisa saingan nih... atau mungkin mereka terkait???!!??

Jumat, 02 Agustus 2019

Semangat Nasionalisme di Puncak Merah-Putih Gunung Kekep


Warna merah-putih terlihat begitu mencolok dari kejauhan saat menyusuri Jalan Cemorosewu menuju De Durian Park. Warna bendera pusaka kebanggaan negeri ini, sangat kontras dengan hijaunya perbukitan di seberang lereng. Sepertinya itu sebuah bendera, tapi sebenarnya itu tempat apa???


Lokasi menarik itu akhirnya terkuak. Rupanya tempat itu merupakan sebuah musholla sederhana, yang pemiliknya mendirikan bendera merah putih raksasa. Bendera itu bukan dikibarkan, tapi didirikan di dua buah tiang. Awalnya Jombang City Guide mengira Sang Dwiwarna itu adalah dinding yang diwarnai merah-putih, ternyata terbuat dari kain. Bendera merah-putih itu begitu besar, ukurannya sekitar 9 meter hingga tampak dari seberang bukit.

Tentang Jombang Lainnya

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...