Minggu, 15 Maret 2020

Meriahnya Festival Avokad - Andum Apokat Sambirejo 2020


Maret 2020 Wonosalam punya banyak gawe. Setelah hingar bingar festival durian berjuluk Kendurenan 2020, minggu berikutnya langsung diselenggarakan festival bagi-bagi avokad gratis yang diadakan di Lapangan Desa Sambirejo, Dusun Sumber Arum, lokasi yang dipercaya sebagai peradaban pertama yang ada di Wonosalam oleh para sesepuh pembabat alas.

Ora mewah ora mbrawah,
Waton guyub rukun kabeh sumringah

Desa Sambirejo, memang merupakan penghasil avokad selain buah-buahan lain yang juga tumbuh subur di sana. Berhubung manggis sudah dipatok sebagai festival dari Desa Jarak, Galengdowo identik dengan salak, sedangkan Wonosalam punya perhelatan durian, maka Sambirejo menahbiskan diri untuk menghelat festival avokad berjuluk Andum Apokat.





Festival avokad ini diselenggarakan pemerintah Desa Sambirejo atas syukur kepada Allah berupa hasil bumi yang melimpah. Selain itu, dengan menggelar event tahunan seperti ini diharapkan dapat menarik wisatawan hingga meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Kegiatan ini rupanya juga didukung oleh Taman Wisata Sari Bumi Mulia dari Dukuh Sumber Lamong, Dusun Jumok. Nah, inilah yang masih menjadi misteri dan harus ditelusuri oleh Jombang City Guide untuk dieksplorasi. Mungkin ada yang bisa kasih info???

Taman Wisata Sari Bumi Mulia???

Hiasan yang dipasang panitia berbentuk belahan avokad

Andum apokat, begitu menyebut festival ini yang artinya berbagi avokad. Istilah andum juga dipilih untuk dari kata dum-dum yang menjabarkan kegiatan bagi-bagi avokad gratis untuk masyarakat yang hadir. Karena bertema avokad pula, jangan kaget saat di lokasi banyak ornamen atau hiasan berupa bentuk avokad yang dipasang oleh panitia.

Logo Andum Apokat Sambirejo

Logo acara pun dibuat begitu indah oleh pelukis kenamaan asal Galengdowo, Triyoso Yusuf yang juga membuat aneka kreasi logo untuk berbagai perhelatan di Wonosalam. Karya-karya Mas Triyoso Yusuf memang banyak terinspirasi dari keindahan budaya Lereng Anjasmoro. Logo Kendurenan, logo pia durian argowayang, dan Jazz Kampoeng Djawi juga merupakan hasil karyanya. Kebetulan, Pak Polo yang berwenang merupakan kawan SMP Sang Pelukis sehingga permintaan beliau pun langsung disanggupi.

Karya Triyoso Yusuf : Digunakan di setiap lini

KBBI menyebut avokad sebagai kata baku untuk menyebut buah kaya lemak tak jenuh dari jenis nabati yang sangat baik untuk tubuh. Istilah apokat atau apukat merupakan versi Jawa yang mungkin dipengaruhi logat dan kebudayaan daerah. Kadang ada pula yang menyebut buah ini dengan alpukat. Yang penting tak sampai salah menyebut avokad dengan advokat, karena punya arti yang sangat jauh berbeda.

Tiket Parkir Resmi : satu pintu

Meski sedikit antiklimaks akibat adanya perhelatan kenduren minggu lalu, tak menyurutkan masyarakat yang hadir. Jalur sudah direkayasa dengan rute memutar arah sebaliknya. Panitia sudah memberlakukan parkir resmi termasuk penetapan rute satu pintu sehingga tak ada oknum bandel yang mengambil kesempatan aji mumpung. Karcis parkir untuk mobil dibanderol seharga sepuluh ribu rupiah, dan untuk sepeda motor mungkin ditarif setengahnya. Karena sistem satu pintu, meski timbul macet tapi semuanya jadi tertib dan terkendali.

Macet menuju lokasi

Jombang City Guide pun bergabung dalam kerumunan dan antrian, termasuk terpaksa terjebak menjadi penghalang mobil Pak Wakil Bupati yang akan hadir. Beruntung, dari kesempatan itu Si Bakpo malah jadi bisa salim langsung saat Pak Wabup Sumrambah turun dari mobil dan berjalan kaki menyapa para hadirin di tengah kemacetan.

Pak Wabup sedang memberikan sambutan

Acara dimulai saat pagi menjelang siang dan berlangsung meriah. Setelah dibacakan sholawat dan basmalah, rebutan buah pun dimulai. Grebeg buah dimulai dengan berebut tumpeng kecil yang dipersembahkan tiap RT di Sambirejo untuk dilombakan. Lalu dilanjutkan pembagian avokad dan aneka buah lain yang ada di tumpeng besar. Petugas mencabut buah satu per satu dari gunungan avokad itu dan melemparkannya ke kerumunan. Masyarakat pun menangkapnya dengan sigap. Beruntung Jombang City Guide kebagian satu avokad. Hehehehehhe............

Kebagian satu

Kok mewek?


Mungkin bagi orang luar ataupun bule, cukup ngeri melihat orang-orang berebut avokad dalam kerumunan. Termasuk kengerian akibat bergumul dengan orang lain karena ancaman virus corona. Sebenarnya beli sendiri pun bisa, toh di belakang rumah pun ada pohonnya. Tapi bagi masyarakat Indonesia, buah yang didapat dari acara sejenis dipercaya punya berkah tersendiri. Semacam makan makanan untuk syukuran, seperti ada doa untuk ke berkahan di dalamnya.

Dipercaya mengandung berkah

Sebuah keluarga yang dapat banyak



Selama pembagian, acara berlangsung tertib, sembari panitia menginfokan dari pengeras suara untuk berhati-hati atas barang bawaan karena riuhnya kerumunan. Biasanya memang, ada copet beraksi saat orang-orang bersuka ria menangkap lemparan buah berdasarkan pengalaman-pengalaman tahun-tahun sebelumnya dari acara sejenis. Sehingga siapapun harus selalu mengutamakan kewaspadaan untuk keselamatan.

Kok jadi ingat salah satu scene di film kartun Coco yang ada Frida Kahlo-nya ya

Rokokan sebelum pembagian....

Sayangnya, namanya berupa acara terbuka jadinya lokasi terasa full asap rokok oleh para pengunjung sehingga lumayan tak bisa bernapas. Beruntung, acara tak terlalu padat seperti event kendurenan minggu lalu sehingga masih ada jeda tempat untuk menjauh dari orang lain. Memang, ancaman virus covid-19 yang masih menghantui dunia saat ini menyarankan orang untuk menjaga jarak dengan lainnya. Tapi kali ini seperti biasanya perhelatan di Indonesia, asap rokok merupakan ancaman nyata sebagai penyesak dada.






Usai acara, perhelatan dilanjutkan dengan rangkaian kegiatan lainnya seperti orkes dangdut, parade hiburan kuda lumping, minum jus avokad dan kopi wonosalam gratis. Sebagai info ada pula kirab hasil bumi berupa tumpeng cilik persembahan dari tiap RT yang juga dilombakan. Total ada 13 tumpeng cilik yang nantinya setelah dinilai akan diperebutkan hadirin selama acara.






Bentuk tumpeng cilik ini bisa beragam sesuai kreasi pembuatnya. Namun ada satu tumpeng yang dibentuk sangat menarik seperti buah avokad betulan. Tumpeng cilik yang akhirnya tak lagi berupa tumpeng ini menjadi favorit pengunjung karena unik dan mengusung identitas Sambirejo sebagai penghasil avokad. Jadi sebelum dikirab, panitia bahkan berebut untuk berfoto bersama ‘tumpeng’ ini.

Gak salah kalau rebutan, wong bentuknya ayu gitu

Ada harapan dari Jombang City Guide supaya bentuk gunungan avokad untuk perhelatan tahun depan dibentuk semirip mungkin dengan buah avokad. Sehingga identitas Sambirejo dan Wonosalam makin kental. Jadi, bentuknya pun tak melulu berupa tumpeng raksasa yang dihias dengan buah terkait di atasnya, tapi benar-benar berupa buah raksasa yang makin unik dan menarik.

Berbentuk tumpeng biasa : Tahun depan semoga dibuat mirip dengan avokad betulan

Bentuk yang sesuai dengan buah yang difestivalkan ini pastinya bisa menjadi pembeda perhelatan di Wonosalam dengan acara sejenis dari kota lain. Misalnya saat melihat potret festival buah terkait, tak usah membaca judul maupun beritanya, pembaca pasti sudah langsung paham kalau acara gunungan buah itu pastinya dilangsungkan di Wonosalam.
Jadi, bentuknya tak melulu berupa tumpeng raksasa yang dihias buah di atasnya,

Semoga tahun depan, tumpengan festival buah lain di Wonosalam seperti Kenduri Durian Wonosalam, Tumpeng Manggis Jarak, Bancakan Salak Galengdowo dibuat semirip mingkin dengan buah aslinya. Jadi makin unik dan menarik pastinya. Atau mungkin tahun depan ada Festival Buah Naga Panglungan??? Hmmm.. hayo hayooo.................

 

Andum Apokat – Festival Avokad 2020
Dusun Sumber Arum, Desa Sambirejo
Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang
Steff : 085648 4545 79

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Jombang Lainnya

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...