Jumat, 02 Desember 2011

Wisata Nambang Mireng : Sensasi Naik Perahu Tradisional Yang Bertahan dalam Kemajuan Zaman


Nambang, adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan aktivitas menyeberangi sungai naik perahu rakit atau getek. Penyeberangan dengan perahu ini dilakukan karena ketiadaan jembatan penyeberangan dan terlalu jauhnya rute yang harus dilewati untuk memutar demi mencapai titik seberang sungai yang ingin dituju. Untuk mempersingkat waktu dan memangkas jarak memutar, adanya ‘kapal feri’ berupa perahu tambang ini sangatlah bermanfaat.



Perahu yang digunakan untuk nambang biasanya berupa rakit atau getek. Getek atau  rakit adalah perahu tradisional yang disusun dari bambu. Tapi tak jarang beberapa ‘penambang’ menggunakan jukung sebagai perahunya. Rakit sendiri biasanya ditopang dengan tong tertutup sebagai ruang udara supaya tetap mengapung. Rakit tambang ini sangat kuat. Bisa mengangkut banyak orang, bahkan kendaraan bermotor. Bila perahunya besar, nambang juga bisa mengangkut mobil.


Istilah nambang berasal dari kata tambang yang artinya tali kekang yang besar dan kuat yang biasanya dipakai untuk lomba tarik tambang. Dulunya, para nahkoda perahu tambang ini menggerakkan perahunya dengan menarik tali tambang untuk mencapai seberang sungai.


Kini di zaman modern, para penyedia jasa penyeberangan sungai dengan perahu ini lebih memilih menggunakan diesel untuk menggerakkan perahunya dan tak lagi menggunakan tali tambang saat beroperasi. Peralihan metode penggerak penyeberangan ini tidak serta merta menjadikan ‘ndiesel’ untuk menggantikan istilah ‘nambang’. Hingga kini, aktivitas penyeberangan ini masih populer menggunakan istilah nambang.




Aktivitas nambang kini sudah jarang dilakukan oleh pendududuk perkotaan, mengingat mereka sudah memiliki kendaraan sendiri dan sudah sangat majunya infrastruktur yang tersedia. Nambang masih banyak dilakukan di desa atau wilayah yang biasanya tidak terdapat jembatan penyeberangan yang layak.



Salah satu titik penyeberangan sungai dengan perahu yang masih eksis adalah Tambangan Mireng di Desa Mireng Megaluh Jombang. Tambangan Mireng ini berada Jl. Tambangan yang berlokasi di tepian sungai yang sudah lengkap dengan dermaga untuk pendaratan jukung milik pak nahkoda perahu tambang. Aktivitas penyeberangan tidak lagi dilakukan dengan menarik tambang, tapi dengan diesel dan dayung.




Hanya dengan tarif Rp. 2500,- per orang, kita bisa menikmati suasana menyeberangi sungai. Beberapa orang bahkan membawa hasil bumi kebunnya dengan mengendarai motor ketika naik perahu tambang.




Sungai yang diseberangi adalah Sungai Brantas, yang merupakan sungai terbesar di Jawa Timur. Kondisi sungai tampak bersih, airnya keruh pertanda membawa endapan lumpur yang subur. Pemandangan sepanjang sungai tampak indah, sepertinya penduduk sekitar cukup paham akan konsep kelestarian sungai.



Dulunya, Sungai Brantas berukuran dua atau tiga kali lebih besar dari ukuran yang sekarang. Pendangkalan serta material sungai yang terbawa hanyut oleh aliran air membuat ukurannya menyempit menjadi seperti sekarang. Namun meski ukurannya agak mengecil, Sungai Brantas tetap menjadi yang terbesar di Jawa Timur.



Sungai Brantas, adalah jalur transportasi utama di masa kerajaan kuno di Jawa Timur. Dulunya, Selain lebih cepat, jalur darat dulunya masih berupa hutan belantara sehingga sangat berbahaya untuk dilalui. Kerajaan yang menggunakan Sungai Brantas sebagai jalur transportasi utama diantaranya Kerajaan Mataram Kuno dan Kerajaan Majapahit.


Megaluh, tempat dimana Tambangan Mireng berada, dulunya adalah dermaga yang ramai karena menjadi lokasi pelabuhan kapal-kapal di masa Kerajaan Mataram Kuno. Memang, Megaluh dulunya adalah salah satu kota penting di masa kerajaan yang didirikan oleh Mpu Sindok itu, selain Watugaluh yang menjadi ibukota kerajaannya. Bisa jadi, Mireng dulunya juga salah satu titik pendaratan kapal-kapal kuno tersebut.


Aktivitas penyeberangan di Sungai Brantas ini masih aktif dilakukan penduduk, mengingat belum adanya jembatan yang menghubungkan kedua titik. Sebenarnya ada jalan menuju seberang sungai, namun lokasi jembatan terlampau jauh sehingga harus mengambil jalur memutar. Selain mengakibatkan jarak tempuh yang lebih panjang, tidak adanya efisiensi waktu. Karena nambang dirasa lebih praktis, banyak penduduk yang masih menggunakan jasa ini.


Sebenarnya dari aktivitas nambang ini, selain menyeberangi sungai kita bisa juga menikmati keindahan pemandangan perairan yang bersih tentunya.  Selain sebagai sarana cuci mata yang murah, menikmati indahnya pemandangan perairan juga membuat kita bisa mengamati habitat sungai dan sekelilingnya.



Banyak tanaman yang tumbuh di sepanjang sungai, termasuk bunga bintang yang begitu indah dan unik yang merupakan bunga favorit Jombang City Guide selain Bunga Jombang. Selain berwisata menyeberangi sungai, kita juga bisa thenguk-thenguk di pinggir sungai. Bersantai dan memandangi sungai, termasuk suatu hal yang mungkin sudah jarang Jombang City Guide lakukan karena kesibukan mencari nafkah di weekdays.



Kita juga sekaligus menapak tilas masa-masa dimana sungai ini berjaya sebagai jalur transportasi utama pelayaran. Bayangkan, kapal-kapal perdagangan dan kerajaan berlalu-lalang dan berlabuh di dermaga ini. Miriplah seperti Raja Hayam Wuruk Sang Prabu Wilwatikta pulang dari Blitar dan mendarat di Bekel-Perak, tak jauh dari Megaluh. Sang Baginda melalui Sungai Konto dengan mengendarai jukung yang aliran sungainya bermuara di Sungai Brantas.



Menyeberangi Brantas di Mireng dengan getek berupa jukung ini juga bisa menjadi sebuah edukasi dan wisata pengenalan bagi anak-anak mengenai moda transportasi tradisional di masa lampau. Biasanya anak-anak perkotaan di zaman modern sudah jarang yang mengetahui eksistensi jasa penyeberangan sungai dengan menggunakan perahu ini.



Selain itu, aktivitas warga setempat bisa menjadi edukasi untuk anak-anak mengenai habitat tepian sungai maupun pengenalan lingkungan. Tampak beberapa penggembala sedang menggiring kambingnya di titik yang berbeda. Ini juga bisa menjadi sarana pengenalan hewan bagi bayi maupun anak-anak yang turut serta dalam ‘wisata sederhana’ ini.




Meski belum seindah wisata naik cruise melintasi Selat Bosporus di Turki, kegiatan menyeberangi sungai dengan perahu tradisional bisa menjadi jujugan wisata baru untuk masyarakat. Seandainya dikembangkan lebih lanjut, Wisata naik perahu menyeberangi sungai ini bisa dikembangkan lagi secara swadaya. Mengingat tren banyaknya tempat wisata yang bermunculan dan digagas oleh warga sendiri.



Di Jember, penyeberangan dengan rakit ini dikemas sedemikian rupa hingga menjadi sebuah jujugan wisata yang menarik. Wisata perairan dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang lengkap bisa menjadi daya tarik yang mendatangkan banyak keuntungan. Misalnya masing-masing penumpang disediakan pelampung untuk keselamatan, meski penyeberangan relatif aman. Para penumpang duduk berderet di kursi yang ada di rakit yang sudah dihias sebagai ‘pemanis’ kegiatan wisata.



Selain banyaknya manfaat dari kegiatan yang sepele ini, wisata menyeberangi sungai adalah salah satu low budget tourism yang cukup seru dilakukan. Anak-anak yang turut serta dalam rombongan Jombang City Guide senang sekali dengan kegiatan ini.



Di Desa Mireng, juga terdapat reruntuhan Candi Mireng yang merupakan candi pendermaan Lembu Tal, kakek buyut dari Prabu Hayam Wuruk. Mireng juga tak jauh dari Kompleks Petilasan Damarwulan yang masih dalam satu area Kecamatan Megaluh. Jadi tak rugi menuju kesini karena dalam satu area ada beberapa jujugan yang lokasinya berdekatan dan bisa dikunjungi.



Semoga dengan ditulisnya artikel ini, bisa menjadi inspirasi masyarakat untuk memanfaatkan hal sederhana sebagai hiburan yang mungkin sudah jarang dilakukan dan didapat di zaman modern.


Wisata Naik Perahu Nambang Mireng
Jalan Tambangan Desa Mireng
Kecamatan Megaluh – Kabupaten Jombang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Jombang Lainnya

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...