Minggu, 15 Juni 2014

BeRingin Conthong : Saksi Sejarah Yang Tak Conthong Lagi




Ringin Conthong memang sebuah ikon utama Kota Santri Jombang BERIMAN, tapi banyak yang lebih mengeksplorasi menara air peninggalan Belanda. Padahal, bundaran Ringin Conthong kebanggaan kota kelahiran presiden keempat negeri ini, terdiri dari dua elemen penting, yaitu menara air dan sebuah pohon beringin yang julukannya dijadikan nama landmark Jombang yang paling populer.



Tidak banyak yang mengupas tuntas tentang beringin yang dulunya berbentuk conthong ini, karena minimnya dokumentasi tentangnya. Kali ini, Jombang City Guide akan sedikit berkisah tentang pohon beringin yang legendaris yang kini bentuknya seperti enthong ini.
Ringin Conthong adalah saksi bisu berdirinya Kota Santri setelah terjadinya ‘disintegrasi’ Jombang dengan Mojokerto. Pohon yang kemudian dijadikan logo oleh partai kuning yang kini memelopori kuningisasi di Kota Santri ini awalnya ditanam oleh Bupati Jombang yang pertama kali menjabat yaitu Raden Adipati Arya Soeradiningrat V.


Raden Adipati Arya Soeradiningrat V ini memilih menanam pohon beringin ini di sebuah bundaran yang berada di jantung Kota Santri kita tercinta yang dulunya masih disebut Afdeeling Djombang. Bundaran ini dipilih karena ramainya warga beraktivitas dan berlalu lalang dalam hiruk pikuk masyarakat, yang sebelumnya sudah ditetapkan sebagai titik nol Jombang pada 20 September 1877. Seperti sebuah sumbu di tengah roda, yang terus berputar, bundaran ini adalah sumber kekuatan dengan jeruji-jeruji yang bertumpu para sumbunya. Ibaratnya titik tumpunya adalah bundaran pohon beringin ini, yang jerujinya berputar terus menerus seiring dengan perkembangan masyarakatnya.


Dipilihnya jenis pohon beringin untuk ditanam oleh Kanjeng Sepuh – julukan Raden Adipati Arya Soeradiningrat V -, juga bukan tanpa alasan. Beringin atau nama latinnya Ficus benjamina, melambangkan pengayoman, dimana Kanjeng Sepuh berharap beliau dan para pegawai afdeeling dJombang mampu memberikan perlindungan untuk masyarakatnya.


Pohon yang juga menjadi lambang sila ketiga Pancasila ini adalah jenis tanaman berakar tunjang. Akar tunjang adalah akar yang panjang menghujam ke dalam tanah, yang menunjang pohon ini bisa tumbuh sangat kokoh. Sedangkan dari ranting-rantingnya, banyak akar menggelantung. Akar yang menjuntai seperti tirai ini melambangkan banyaknya perbedaan yang ada di dalam kehidupan bermasyarakat.


Beringin juga melambangkan sifat kemasyarakatan, dan kepribadian masyarakat Indonesia yang kokoh berakar. Harapannya dengan kekokohan itu, masyarakat tidak mudah goyah oleh cobaan dan gempuran.

Secara keseluruhan, pohon beringin mencerminkan persatuan dan kesatuan masyarakat yang tetap kokoh dan tahan gempuran, meski ada dalam berbagai perbedaan. Sama seperti konsep dalam lambang perisai Garuda Negara Kesatuan Indonesia tercinta ini.


Penanaman pohon yang dalam bahasa Belandanya adalah waringin ini dilakukan tanggal 22 Februari 1910, yang juga bertepatan dengan peletakan batu bata pertama Pendopo Kabupaten Jombang.

Di hari penanaman itu, selain menanam beringin untuk bundaran yang akhirnya menjadi ikon utama Jombang, juga ditanam beringin kecil lain di depan tempat yang kini dijadikan Pendopo Kabupaten Jombang.

Memang, saat itu, setelah memisahkan diri dari Mojokerto, Jombang masih belum punya fasilitas sendiri, sehingga ‘kota bayi’ yang baru lahir ini sedang giat-giatnya melakukan pembangunan di berbagai lini, terutama di bidang fisik.


Tahun 1929, untuk memastikan cadangan air warga afdeeling Jombang tetap terjaga, pemerintah Hindia Belanda yang berpusat di Surabaya memutuskan untuk membangun sebuah watertoren. Akhirnya dibangunlah menara air di samping pohon ini yang kemudian menemani Sang Beringin bertahta di bundaran yang menjadi titik nol Kota Santri Jombang BERIMAN.

Legenda Kebo Kicak Karang Kejambon juga sempat menyebutkan pohon beringin ini dalam kisahnya, dimana dalam pengejarannya memburu Surontanu dan Banteng Tracak Kencana, Sang Kebo Kicak sempat berteduh di bawah pohon beringin. Banyak versi yang beredar dalam masyarakat, meski pohon beringin ini paling diyakini sebagai pohon yang dimaksud.


Mungkin sejarah perlu ditelusuri lebih lanjut, mengingat kisah Kebo Kicak merupakan kisah yang sudah ratusan tahun menjadi legenda di Jombang, sedangkan ditanamnya pohon beringin untuk bundaran titik nol ini baru dilakukan pada 1910.


Penyebutan pohon beringin dalam bundaran ini sebagai ‘Ringin Conthong’ juga memiliki sejarah tersendiri. Pohon yang ditanam Kanjeng Sepuh ini sama seperti pohon-pohon lain pada umumnya yang berkembang dan bertumbuh besar. Namun dalam perkembangannya, pohon beringin ini berkembang membentuk seperti kerucut. Padahal umumnya, pohon beringin akan berkembang menjadi berbentuk bundar, mirip seperti brokoli.


Meski tidak berwujud kerucut sempurna, namun bentuk puncak pohon yang menjulang dan lancip menjadikan pohon ini seperti conthong. Bentuk kerucut inilah yang akhirnya menjadi asal muasal penyebutan istilah conthong oleh warga sekitar. Conthong dalam bahawa Jawa berarti kerucut, dan kata sifat itulah yang digunakan oleh warga untuk menggambarkan keunikan pohon beringin ini.


Dalam perkembangannya, Ringin Conthong menjadi pohon beringin yang sangat kokoh dan besar sehingga memunculkan kisah-kisah sakral dari warga sekitar. Beberapa kisah angker pun muncul karena warga mempercayai adanya peristiwa mistis yang terjadi saat berada di dekat pohon ini. Wajarlah karena sifat pohon beringin yang memang menarik bagi makhluk gaib.



Meski sebagai pusat lalu lintas yang ramai, jarang sekali orang yang duduk maupun menghabiskan waktu di bawah Ringin Conthong karena terpengaruh kisah-kisah yang beredar di kalangan masyarakat.

Karena pohon ini tumbuh makin besar, pernah suatu ketika dinas tata kota Jombang kala itu pun memutuskan untuk memangkas pohon ini. Namun upaya ini gagal karena petugas yang ditugaskan untuk memangkas pohon jatuh sakit. Peristiwa serupa selalu berulang ketika ada perintah untuk pemangkasan, Sang Pemangkas pohon selalu jatuh sakit. Berbagai versi beredar ada yang jatuh sakit sebelum memangkas maupun setelah memangkas sedikit bagian pohon. Bahkan ada versi yang menyatakan bahwa ada pemangkas yang meninggal dunia karena akan memangkas pohon ini.


Gosip yang beredar kala itu, petugas yang ditugaskan untuk melakukan pemangkasan harus berpuasa dulu selama 40 hari berturut-turut. Kemudian akhirnya barulah pohon ini bisa dipangkas. Wallahualam. Dari kegiatan pemangkasan ini, akhirnya Ringin Conthong pun tidak lagi berbetuk kerucut seperti awalnya.


Ada juga versi lain yang mengatakan dimana pohon ini tiba-tiba mati tanpa sebab, sehingga dinas pertamanan kala itu langsung melakukan tindakan untuk mencabut pohon hingga akar-akarnya lalu menanam pohon beringin baru.


Entah yang mana yang benar, yang pasti Jombang City Guide yang setiap hari selalu melewati landmark utama Kota Santri ini dulunya menghabiskan masa-masa terindah di sekolah dasar di samping Ringin Conthong. Kami mengingat suatu ketika pohon beringin di bundaran Ringin Conthong tiba-tiba gundul tinggal batangnya saja. Mengenai proses pemotongan, Jombang City Guide tidak sempat menyaksikan karena ‘tragedi’ gundulnya pohon beringin legendaris itu terjadi saat liburan panjang kenaikan kelas. Jadi ketika hari pertama masuk, kami cukup kaget karena Si Brokoli berubah menjadi gundul.

Foto Lama : Jombang City Guide ingat setelah dipangkas, tak ada sehelaipun daun di Beringin Conthong
Foto ini masih ada daunnya, berarti diambil saat sudah agak tumbuh

Meski pohon beringin ini yang menjadi cikal bakal nama Ringin Conthong, masyarakat Jombang kadang sedikit lupa tentang eksistensinya. Banyak merek dan logo yang mengatasnamakan Ringin Conthong dalam labelnya, namun tak satupun yang menjadikan pohon legendaris ini sebagai ikon utama. Malah tetangganya yang tak lain adalah watertoren peninggalan Belanda-lah yang menjadi lebih populer dengan sebutan ini.


Jarangnya penggunaan Sang Beringin Legendaris ini mungkin disebabkan sudah banyaknya logo yang menggunakan pohon sejenis seperti Partai Kuning dan Sila Ketiga Pancasila, sehingga dikhawatirkan adanya kerancuan persepsi masyarakat. Namun demikian, kedua elemen yang bertahta di titik nol Jombang ini bagaikan dwitunggal yang tak bisa dipisahkan satu sama lain.


Kini dalam perjalanannya, Si Brokoli ini kembali tumbuh lebat hingga hampir setara tingginya dengan watertoren di sampingnya. Meski tidak lagi berbentuk conthong alias kerucut, tapi menjadi berbentuk seperti centhong atau mirip brokoli, nama Ringin  Conthong tak bisa dihapuskan begitu saja dalam benak warga Jombang yang membanggakannya. Dinas Pertamanan sepertinya juga sudah melakukan banyak perbaikan, termasuk mengganti pagar keliling bundaran dan menghiasi taman Ringin Conthong dengan lebih asri.


Di bawah rimbunnya Sang Pengayom, kadang dimanfaatkan para tunawisma untuk tinggal. Terbukti saat Jombang City Guide mengambil beberapa potret, tampak beberapa tunawisma sedang tidur dan anak-anak mereka berlarian mendekati kami. Sebelum mereka meminta sesuatu, seketika Jombang City Guide langsung wer-dor kabur. Bukan bermaksud pelit, tapi kami berharap supaya mereka tidak terbiasa mengemis. Naudubilah.

Tunawisma

Ringin Conthong, memang menyaksikan perkembangan Kota Santri dari masa ke masa. Namun perjalanan waktu Jombang tidaklah indah disaksikan bila warganya tidak sepenuh hati mengisi kemerdekaan ini dengan prestasi-prestasi yang membanggakan. Semoga arus kuningisasi yang diderita Jombang segera berakhir, dan masyarakatnya semakin makmur sejahtera. Aamiin aamiin Yaa Robbal alamin.

Beringin Conthong
Bundaran Ringin Conthong
Titik Nol Jombang
Jalan Wahid Hasyim – Jalan Gus Dur – Jalan Achmad Yani -- Jalan Seroja
Desa Jombang, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...