Kamis, 07 Maret 2013

STMJ Pak Gempol : Murni Poll






Dulu ketika saya kecil yang saya masih bisa ingat, Ayah saya tercinta yang penggemar susu sapi, selalu mengajak saya membeli susu disini. Ayah saya suka minum STMJ disini, entah mengapa. Sedangkan saya, sering dipesankan susu sirup yang berwarna pink.



Selama beberapa lama, saya tidak pernah tahu bahwa nama penjualnya bernama Pak Gempol. Baru tahu setelah baca spanduk yang dipampang. “STMJ Pak Gempol”.


Jombang memang tidak punya sesuatu yang khas. Adapun makanan yang dijadikan kuliner khas Jombang adalah Soto Dhog. Namun dengan kemurnian rasa STMJ ini, pantaslah dijadikan salah satu kulinerisme kota santri yang begitu aman dan damai....





Lokasinya berada di teras pertokoan di sebelah Plaza 21, satu-satunya bioskop di Jombang yang masih bertahan, meski bertahannya juga tertatih-tatih, karena hanya memutar film yang agak porno, atau film Indonesia yang nggak mutu banget atau yang sudah lamaaaa sekali premiernya. Yaah... Marilah bersyukur, setidaknya warga Jombang masih punya bioskop, daripada warga kota sebelah...
 


Awalnya saya tidak tahu-menahu apa yang membuat ayah saya suka membeli STMJ disini. Saya hanya seorang anak yang dibelikan susu oleh ayahnya di sebuah warung susu. Saya dulunya berpikir bahwa semua penjual STMJ sama saja. Setelah saya dewasa, saya baru sadar bahwa ada penjual susu (atau STMJ) yang menggunakan susu tidak asli misalnya dengan susu bubuk. Atau bisa juga dengan susu sapi murni, tapi dicampur air. Sehingga rasanya tidak pekat lagi. Olala... mungkin inilah alasan mengapa Ayah saya suka minum disini ; karena rasanya masih asli, pekat rasa susu sapi murni.



Selain itu Pak Gempol itu adalah orang yang gemar kebersihan. Setiap melakukan pergerakan, selalu mengakhirinya dengan mengelap bagian yang kotor. Ada susu yang tercecer sedikiiiit saja, Pak Gempol selalu sigap mengelapnya. Jadi warung STMJ Pak Gempol selalu bersih.

Saya selalu memesan susu pink yang lucu itu, atau STM tanpa J, karena unsur jahe yang saya rasakan begitu membara di mulut saya. Saya memang tidak suka jahe...


Selain menjual susu sapi dan STMJ, disini juga menjual aneka camilan seadanya, tapi tetap menimbulkan kerinduan (bagi saya, selaku pelanggan tetap). 

Ada Sate Telur Puyuh yang berwarna coklat yang begitu nikmat. Sate inilah yang suka saya minta ketika saya berkunjung bersama Ayah saya dulu.




Ada bihun praktis yang dibungkus rapi berjajar dan siap disantap, yang ditaburi bawang goreng diatasnya (maaf gambar penampakan BIHUNnya belum tersedia). Bawang inilah yang membuat rasanya makin enak, apalagi disantap dengan sate telur puyuhnya. Wow. Bihun disini memang enak, walaupun sebenarnya rasanya seperti bihun lain. Namun serasa spesial saja bila beli di warung STMJ Pak Gempol, meski pernyataan saya ini dianggap lebay oleh kakak saya. Heheheh..... Intinya saya suka makan bihun, dibanding ‘spesies’ mie lain. 

 

Ada juga roti bakar isi selai yang siap dipanggang sesuai pesanan. Ada rasa coklat dan rasa stroberi...



 

Ada kacang dan kerupuk untuk pelengkap camilan dan sajian STMJ yang panas.... Ah... saya memang suka susu sapi. Saya adalah orang yang suka minum susu, tapi tidak suka susu putih, tapi suka susu sapi. Aneh ya??? (curhat terselubung).

Sudah lama saya tidak kesana, karena sering tutup ketika saya lewat. Selain itu, Ayah saya harus menjaga makanan yang dikonsumsinya untuk kesehatan, sehingga tidak lagi meminum susu sapi. Kadang saya kesana, namun yang menjual adalah Si Ibu. Saya ingat, ketika ditanya dimana Bapak, Si Ibu menjawab bahwa suaminya sedang sakit. ”Olala... semoga cepat sembuh ya Pak STMJ...”, gumamku.



Ketika saya berkunjung kesana, saya tidak mendapati Pak Gempol yang biasa berjualan. Saya hanya mendapati pemuda gaul yang berpotongan Korea banget.
”Mas, Bapaknya mana???” Tanya saya kepada Si Rambut Korea.
”Sudah nggak ada Mbak. Sudah meninggal..” Jawab pemuda gaul itu.
Jawaban itu seperti sambaran petir di film-film India. Innalillahi Wa Innailahirojiun.... Bapak STMJ itu telah pergi...
”Sejak kapan meninggalnya Mas?? Kenapa??”
”Setahun lalu, Mbak... Darah Tinggi...” Si pemuda Korea ini menjawab.
”Terus, Mas ini anaknya???” Tanyaku dengan penuh keprihatinan.
”Ya.....”, jawabnya singkat dengan wajah mulai melas dengan ekspresi yang ’ditabah-tabahkan’.
  

Allah telah mengambil pria itu, pria yang saya kenal sejak memori otak saya mulai bekerja. Beliau belum terlalu tua, bahkan kalah tua dibanding ayah saya. Badannya juga terlihat sehat ketika terakhir kali bertemu. Dan takdir berkata demikian; saya sedang melanjutkan kuliah saat ini, dan beliau telah tiada. 

Usahanya dilanjutkan oleh putranya, yang masih berusia delapan belas tahun ketika beliau tinggalkan. Istri Sang Bapak juga kadang membantu disini, namun lebih sering anaknya yang bergaya korea inilah yang berjualan. Salutnya, si anak ini tetap konsisten bergaya rambut Korea dan tidak malu berjualan STMJ warisan bapaknya.



Coba lihat pelajar yang sering tawuran dan membawa benda-benda yang tidak semestinya dalam tasnya untuk peralatan tawuran, yang tidak paham betapa sulitnya orang tua mencari nafkah untuk mereka. Sungguh sebuah ironi yang menyayat hati... T_T Naudubilah….




Seharusnya semangat anak-anak itu tidak perlu dihilangkan, seperti dilakukan pembinaan berlebihan. Karena sebenarnya semangat bertempur mereka sangat berguna bila mereka dikirim ke Palestina. Supaya semangatnya bisa dimanfaatkan untuk membantu pemuda Palestina mengalahkan Israel...
 

Itu baru namanya gagah berani


Apapun itu, STMJ Pak Gempol dengan berbagai camilannya tetap enak ketika saya nikmati di rumah. Semoga Si Anak tetap teguh pendirian, dan menjadi pribadi yang makin kuat di jalan yang benar. Semoga STMJ Pak Gempol masih bertahan, meski telah berganti kepemimpinan, dengan tetap menjaga konsistensi rasa, dan kehalalan bahannya. AMIN.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...