Senin, 04 Maret 2019

Mencoba Wahana Air di Agrowisata Air Sumber Celeng Bulurejo


Kota Santri memang tidak memiliki destinasi pantai maupun rafting karena tidak berada di pesisir pulau. Meski bukan kota pesisir, kini Jombang punya destinasi keluarga yang bisa memenuhi kebutuhan warga Kota Santri akan wisata bertema air : Agrowisata Air Sumber Celeng Bulurejo.


Terletak di Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Sumber Celeng termasuk destinasi baru di Kota Santri. Selain berkonsep wisata air, nantinya destinasi ini akan diprospek untuk destinasi edukasi dan agrowisata. Jadi, mungkin Jombang City Guide lebih suka menyebutnya dengan Agrowisata Air Sumber Celeng Bulurejo.




Lokasinya cukup mudah dijangkau. Dari Jombang kota, lurus ke selatan arah Cukir. Pabrik Gula Cukir belok kiri, lurus saja hingga tampak bangunan Universitas Urwatun Wurtsqo yang seperti benteng di kiri jalan. Belok kanan ke jalan sebelum ‘benteng’ itu yang nantinya juga menuju ke pondok pesantren yang satu naungan dengan bangunan ‘benteng’.


Perempatan pertama, bila ke pondok pesantren UW belok kanan, sedangkan ke destinasi Sumber Celeng belok kiri. Panduan Google Maps mendukung destinasi ini, namun bila kuota habis maka bertanya pada penduduk setempat sepertinya lebih ampuh. Jalan masuk menyusuri ladang sawah di kanan kiri dengan medan agak gronjal-gronjal karena belum sempurna dilapisi aspal. Meski demikian, destinasi yang ada nantinya ada di kanan jalan ini bisa dicapai dengan kendaraan roda empat.

Akses jalan


Destinasi ini sebenarnya hanyalah kolam sedalam dua meter yang sangat panjang,  kemudian dijadikan arena lintasan wahana air yang disediakan pengelola. Ada perahu kano, sepeda air dan perahu bebek yang dikayuh bersama-sama.


Hanya dengan tarif setara selembar sepuluh ribu rupiah, kita bisa menikmati wahana mengayuh perahu bebek sepuasnya, yang mungkin menjadi sensasi lain dari wisata air dibandingkan hingar bingar main game di pusat perbelanjaan, maupun wisata selfie yang menjamur di Jombang.



Meski sederhana, namun tetap dilengkapi dengan perangkat keselamatan seperti pelampung sehingga membuat pengunjung wisata tampak seperti berwisata ala baywatch maupun arung jeram.

Perahu kano

Wahana sepeda air

Terdapat wahana lain berupa lintasan untuk mini cross yang cocok untuk anak-anak pecinta adrenalin. Permainan ini sebagai wahana alternatif dan pelengkap sehingga bisa dicoba bagi pelancong yang tak ingin berbasah-basah karena wisata air.



Meski hanya wisata sederhana, namun tak menyurutkan warga Jombang untuk berbondong-bondong datang dan mencoba wahana-wahananya sejak resmi dibuka di tengah guyuran hujan oleh Bu Estu Sadarwati Anggota DPR RI Komisi V dari Partai Banteng. Kala itu, pembukaan dihadiri oleh Kepala Desa Bulurejo yang merupakan inisiator desa wisata ini dengan istighosah dan dilanjutkan alunan albanjari dari para santri Pondok Pesantren Urwatul Wurtsqo yang memang lokasinya bersebelahan dengan destinasi wisata ini.


Pemandangan eksotis dari pegunungan Anjasmoro

Megahnya Pegunungan Anjasmoro tergelar begitu indah sebagai latar pemandangan selama mendayung ria di Agrowisata Air Sumber Celeng ini. Bila cuaca cerah tanpa awan, tampak puncak kukusan yang ikonik menjadi daya tarik utama pemandangan yang menjadi kebanggaan Jombang. Sebuah nilai tambah destinasi yang sangat menarik sekaligus memenuhi kebutuhan warga Jombang akan wisata keluarga yang dekat dan terjangkau sehingga masyarakat memiliki hiburan dan jujugan untuk berlibur tapi juga mengedukasi.



Wisata anyar ala Bulurejo ini merupakan perwujudan cita-cita kepala desa yang bernama Pak Aunu Rofiq yang kemudian didukung program pemerintan dalam pembangunan desa wisata.
Meski sarjana bergelar agama, tak menyurutkan Pak Ainu Rofiq berinovasi dengan memunculkan ide-ide untuk memajukan desa melalui sektor pariwisata.


Melalui Kementerian Desa dan Kementerian Wisata, terdapat support pembangunan destinasi untuk mewujudkan desa wisata untuk masyarakat desa. Diharapkan, dengan adanya Desa Wisata ini, bisa memperluas lapangan kerja sehingga pendapatan masyarakat setempat mengalami peningkatan yang signifikan.


Sektor pariwisata ini juga ditujukan untuk mengenalkan wisatawan mengenai sejarah Desa Bulurejo yang dicerminkan dalam nama-nama tempat seperti Sumber Welut dan Sumber Celeng. Tentunya, nama-nama ini juga punya kisah tersendiri yang tak tiba-tiba muncul begitu saja.


Misalnya nama Sumber Celeng, yang memang punya asal muasal yang berhubungan dengan babi hutan. Dulunya Bulurejo adalah hutan belantara yang kemudian dibabat untuk pemukiman oleh para sesepuh desa. Saat membabat kawasan ini, dulunya banyak babi hutan yang berkeliaran sehingga tercetuslah nama Sumber Celeng.


Sumber tak melulu diartikan sebagai sumber, tapi bisa juga berarti pusat, kawasan, atau sarang. Nama Sumber Celeng bisa diartikan sebagai sarang celeng yang merujuk pada banyaknya babi hutan yang berkeliaran ketika masih menjadi kawasan hutan. Meski kini babi hutan ‘tak lagi eksis’, nama Sumber Celeng tetap digunakan sebagai catatan sejarah asal muasal kawasan ini.


Sedangkan Sumber Welut, berasal dari kisah seorang warga desa yang sedang memancing di persawahan. Tak disangka, didapat banyak ikan belut hingga satu karung. Akhirnya nama Sumber Welut yang berarti Sumber Belut digunakan sebagai cerminan ‘potensi’ kawasan. Hingga kini, masih banyak ikan yang didapat warga saat memancing di persawahan di kawasan Sumber Welut.


Desa Bulurejo sebenarnya terdiri dari Dusun Kedaton, Dusun Bedok, Dusun Tanjunganom, dan Dusun Bulurejo sendiri. Dari empat dusun ini, didominasi area persawahan yang rata-rata penduduknya berpenghasilan dari sektor agraris, sedangkan lainnya sebagai pengepul rosok, dan pengrajin batu bata merah.


Sedangkan nama Dusun Kedaton, dan banyaknya penduduk yang berprofesi sebagai pengrajin batu bata merah, bisa jadi ada hubungan sejarah dan budaya yang berkaitan dengan Wilwatikta. Nama sebuah kawasan, tak mungkin tiba-tiba tercetus jika tak ada hubungannya dengan apa-apa yang ada di lokasi berikut sejarah kawasan terkait. Meski belum ditemukan penemuan benda kuno, namun bisa jadi peninggalan bersejarah masih terkubur dalam misteri.



Desa Wisata ini memang masih dalam pengembangan. Berhubung masih benar-benar baru, destinasi ini masih belum banyak dinaungi pepohonan untuk meneduhkan suasana. Sedangkan arena parkir dan lahan kosong yang tersedia masih belum diberi landasan paving sehingga menimbulkan kejembrotan pascahujan. Meski cukup becek, namun tak menyurutkan para wisatawan untuk berkunjung.



Terdapat sebuah bangunan yang difungsikan sebagai lokasi penyimpanan properti wisata seperti dayung, pelampung dan perahu karet. Bangunan yang disebut gazebo warung bersama ini awalnya dijadikan kios kuliner, namun saat Jombang City Guide berkunjung sepertinya sedang tidak difungsikan untuk kegiatan santap menyantap.




Di depan gazebo ini, menggantung patung Spiderman yang cukup menarik untuk dijadikan ajang selfie. Selain manusia laba-laba, juga ada dua patung berbentuk babi dan sosok bocah yang sekilas mirip dengan Upin dalam serial kartun Si Kembar dari Negri Jiran.



Babi ini mungkin menggambarkan celeng sesuai nama destinasi ini. Patung babi yang mengingatkan kita pada seperti Patkay dalam serial Kera Sakti, The Monkey King ini sebenarnya malah bukan celeng sama sekali karena warnanya yang pink. Warnanya yang merah jambu, menandakan dia adalah babi ternak yang jelas beda dengan babi liar. Meski sama sekali tak seperti Pumba dalam Lion King, upaya pengelola untuk membuat maskot ini harus tetap diapresiasi. 


Si Celeng Pumba : Tokoh Babi Hutan di Film Lion King


Sedangkan sosok bocah yang mungkin rambutnya sengaja dibuat ‘letoy’ mirip kuncung Ronaldo untuk menandakan Si Bocah ini dari Indonesia. Hehehhe…. Jombang City Guide lebih suka menyebutnya dengan Si Apin. Si Apin ini tampak berada di atas kano yang seolah menunjukkan identitas wisata ini yang ramah untuk anak-anak dan destinasi yang cocok bagi keluarga.

Berjumpa dengan Si Apin

Salim dulu : Eh, bukannya Apin itu malah kucingnya Si Kembar ya??

Apinnya naik kano

Di samping Gazebo, disediakan toilet untuk pengunjung, termasuk untuk wisatawan yang mungkin basah kuyup setelah bermain air di arena. Sedangkan kolam ikan di samping toilet sepertinya masih dalam taraf pembangunan.



Selain arena kolam dayung, konsep kolam renang, kolam pancing, wisata kuliner dan UKMK akan diwujudkan dalam bentuk wisata edukasi. Lokasi yang berdekatan dengan lahan Pondok Pesantren Urwatun Wurtsqo, memungkinkan dibuka sebagai wisata desa berkonsep agrowisata. Lahan pondok pesantren seluas dua hektar yang berisi kebun kelengkeng, selain menghasilkan income dari hasil panen, juga bisa digunakan sebagai wisata edukasi kunjungan kebun yang berpotensi menyaingi Kebun Kelengkeng Suwarno di Plandaan.



Destinasi ini buka setiap hari, dari pukul 08.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. Namun teknisnya, Sumber Celeng buka pagi hari dan ditutup ketika pengunjung habis. Saran dari Jombang City Guide, sebaiknya berkunjung di pagi hari sebelum terik dan sore hari saat berkunjung ke Wisata Sumber Celeng karena belum banyak pepohonan dan tanaman hias di lokasi.


Panas mentari tropis yang menyengat cukup menimbulkan ketidaknyamanan saat berwisata. Cuaca panas di lokasi setidaknya sudah diantisipasi pengelola dengan memasang jaring di atas kolam supaya pengunjung tak terlalu ‘hangus’ disengat sinar mentari. Meski demikian, pengunjung tetap dianjurkan membawa payung sebagai sarana peneduh pencegah hangus akibat ‘panas neraka yang tembus ke bumi’.



Dari panasnya suasana siang di Sumber Celeng, terbersit ide dari benak Jombang City Guide tentang destinasi ini yang punya potensi untuk dibuka sebagai jujugan malam yang apik. Seandainya dipasang lampu kelap-kelip berbentuk aneka hiasan di sepanjang kolam dan area wisata, pastinya destinasi ini jadi mirip wisata dayung Sungai Kalimas yang ada di Surabaya, yang identik dengan gemerlap lampu cantiknya di malam hari. Jadi wisatawan bisa menikmati kilau lampu cantik yang membentuk aneka hiasan dan berpendar di kegelapan malam.


Sebuah destinasi wisata harus selalu mengembangkan diri dan tak boleh berhenti melakukan pembaharuan dan penambahan wahana. Ini semua dilakukan supaya pengunjung tak bosan dan yang sudah berkunjung akan selalu ingin datang lagi dan lagi. Mungkin perlu ditunggu hasil pengembangannya, seandainya terwujud wisata lampu malam ide Jombang City Guide, pasti alangkah indahnya.


Letak geografis Jombang tak menyurutkan semangat perangkat desa untuk menciptakan wisata air yang cukup menghibur warganya yang mungkin membutuhkan destinasi yang unik dan menarik. Sensasi mendayung ala kano dan kayak di Agrowisata Air Sumber Celeng Bulurejo sementara ini cukup menghibur para pengunjung yang minim hiburan air di Jombang. Selain seru, lokasinya dekat dan pemandangannya indah. Ayo ramaikan, supaya wisata-wisata di Jombang makin maju!


Agrowisata Air Sumber Celeng
Desa Bulurejo
Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang
Buka Setiap Hari
Pukul 08.00 WIB – 16.00 WIB
IG : @agrowisatasc

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Jombang Lainnya

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...