Rabu, 08 November 2017

Rumah Hobbit di Ekowisata Taman Banyumili


Setelah berpetualang menemani Frodo Baggins membuang cincin sakti ke Kawah Gunung Mordor, Samwise Gamgee membangun keluarga kecil barunya. Sayangnya Frodo dan Bilbo Banggins harus pergi dari Shire ke alam keabadian bersama Gandalf Sang Penyihir Putih dan para peri termasuk Lord Elrond serta Lady Galadriel, sehingga meninggalkan rumah warisan keluarga Baggins. Akhirnya Sam yang menjaga dan merawat rumah medhag itu di Ekowisata Banyumili. Xixixixix………

Di seberang atas Villa Rosari Refresh Wonosalam, tak jauh dari Kampoeng Djawi, dibuka destinasi wisata baru. Ekowisata Banyumili, dibuka tanggal 4 November lalu yang sudah banyak didatangi para wisatawan yang penasaran dengan foto-foto rumah para Hobbit yang beredar di media sosial.

Tak jauh dari Kampoeng Djawi

Seberang Rosari Refresh


Ekowisata Banyumili menambah deretan lokasi wisata di Indonesia yang menyajikan spot foto dan selfie berbentuk rumah Hobbit seperti dalam film Lord of The Rings, salah satu film kesukaan Jombang City Guide. Hehehhehe…..

Dua Rumah Hobbit yang bertetangga

Ada dua rumah hobbit di taman ini. Satu rumah hobbit yang agak sedikit lebih besar dan satu lainnya lebih sederhana. Ukuran keduanya dibuat lebih kecil dari tinggi manusia normal supaya makin mirip dengan Hobbit Hole yang memang memiliki ukuran  skala anak-anak. Jadi, Liang Hobbit ini seperti rumah kecil yang begitu imut, dan menjadi kegemaran anak-anak dan spot foto favorit pengunjung.

Rumah Hobbit yang lebih besar dan lebih rumit

Dua rumah Hobbit ini bertetangga, jadi makin mirip seperti di Shire, Hobbiton ya... Mungkin rumah satu milik Bilbo dan yang satunya milik Samwise. Atau malah milik Pippin??? hehhehe....

Rumah Hobbit yang sederhana

Sayangnya, seperti yang ada di Selandia Baru pula, rumah hobbit ini hanyalah sebuah pintu tanpa ‘liang’ Hobbit betulan di dalamnya. Seandainya ada ruangan di dalamnya, mungkin kita harus membungkuk seperti Gandalf yang sampai tak sengaja kesamplak lampu. Dua rumah Hobbit inilah yang menjadi spot foto yang paling digemari oleh para pengunjung.

Menunduk ala Gandalf

Untuk mengunjungi spot foto favorit berupa Liang Hobbit ini, beberapa pengunjung memang harus tertib mengantre supaya mendapat giliran. Mungkin dengan bergiliran secara tertib, sebaiknya giliran selanjutnya secara sukarela memfotokan giliran sebelumnya, jadi ceritanya saling memfotokan gitu lho. Itung-itung menyenangkan orang, sodaqoh juga kan. Heheheheh…..


Bayi Jombang City Guide sampai ketiduran saat antre

Meski sudah dibuka awal November ini, Taman Banyumili masih belum rampung seratus persen. Belum selesainya pembangunan taman ini tidak mengurangi animo masyarakat untuk mengunjungi destinasi wisata yang sementara ini paling baru di Kota Santri. Terbukti meski kami berkunjung di hari Jumat, tempat ini cukup ramai oleh para wisatawan.



Masih dikerjakan

Tetap ramai

Tiket masuk seharga selembar lima ribu rupiah per orang digunakan untuk kebersihan dan pembangunan tempat ini. Tarif ini dibayarkan ketika masuk ke lokasi parkir yang tak jauh dari baliho gerbang Taman Banyumili.


Gate
Drive Thru Ticketing
Tarif

Pembayaran dilakukan secara 'drive thru', dengan kendaraan pengunjung yang melalui loket tanpa terlebih dahulu menurunkan penumpang. Tukang Parkir menghitung jumlah pengunjung langsung yang ada di dalam mobil, sambil menambahkan tarif parkir untuk kendaraan. Setelah membayar, kendaraan pengunjung menuju lokasi parkir yang ukurannya cukup luas untuk menampung banyak mobil.

Tiket Perorangan

Karcis Parkir

Tentunya, memasuki lokasi wisata ini juga dilarang membawa benda tajam berbahaya, narkoba-psikotropika, maupun minuman keras. Sebenarnya larangan ini juga berlaku di mana saja, demi kenyamanan dan keselamatan orang di sekitar kita.


Jalan masuk parkir sepeda motor



Di samping lahan parkir, terdapat jalan setapak ala taman yang menuju ke lokasi wisata. Beberapa petugas masih mengerjakan beberapa spot, termasuk membangun gazebo-gazebo untuk kenyamanan pengunjung. Beberapa jalan setapak sudah dipaving, namun beberapa ada yang belum selesai sehingga jalan seakan terputus. Meski demikian, lokasi ini masih aman untuk dilalui.

Putus
  

Di jalan setapak yang belum dipasang paving tampak kontur tanah merah wonosalam dan medannya yang bergelombang tak rata. Beberapa jalan setapak kadang berubah menjadi tangga sehingga tidak memungkinkan untuk kunjungan manula atau difabel dengan kursi roda.

Bergelombang





Terdapat ground yang dikhususkan untuk lokasi hammock gratis bagi para wisatawan yang mungkin ingin tidur bergaya mirip Bibi Lung-nya Mas Yoko. Biasanya digunakan untuk bersantai oleh keluarga, atau sekedar duduk melepas penat karena medan yang bergelombang. Jombang City Guide mendapati seorang pelajar yang sedang serius mengerjakan laporan kunjungannya di Taman Banyumili ini sambil duduk di hammock.




Ada pula kolam yang ukurannya tak terlalu besar yang nantinya akan dioperasikan sebagai sarana dayung-mendayung santai. Entah kapan mulai dioperasikan, namun dermaga yang masih berupa pondasi dan perahu yang masih bersandar di daratan di samping kolam menandakan belum siapnya infrastruktur ini.







Bagi wisatawan yang lapar, sudah ada stan makanan yang oke punya di Taman banyumili ini. Tarifnya beragam sesuai selera. Sayangnya saat Jombang City Guide berkunjung, sepertinya pramuniaganya belum standby di posisinya. Ketika Jombang City Guide berkunjung di lain kesempatan, tempat ini begitu ramai karena menjadi satu-satunya 'logistik perut' di lokasi.




  

Meski demikian, pihak pengelola sudah berupaya memoles Taman Banyumili ini dengan  tanaman hias sehingga mengundang banyak kupu-kupu yang berterbangan dengan riangnya. Taman Banyumili tampak semakin asri dengan hiasan bunga ini.



Disamping itu, banyak pohon yang khas Wonosalam seperti kopi, durian, coklat dan avokad.  bahkan bisa dikatakan, karena banyaknya coklat yang tumbuh di Banyumili, lokasi ekowisata ini semacam Wisata Kebun Kakao ala Wonosalam lho...

Pohon Kakao



Memang, Taman Banyumili ini adalah destinasi berkonsep ekowisata karena berada di dataran tinggi Wonosalam. Tempat ini menyajikan wisata segarnya bermain air di sungai, kebun kakao, dayung perahu di kolam, pemandangan pepohonan mirip hutan yang asri namun tetap dikemas apik dengan infrastruktur yang modern. 

Kebetulan pas ada pertunjukan air




Pengerjaan infrastrukturnya begitu apik, halus, unik dan modern. Kesan 'masa kini' dan begitu telaten dalam pemolesan desainnya. Pengerjaan ini mengingatkan kita pada imut dan uniknya ornamen-ornamen yang ada di Agrowisata Bale Tani. 




Rupanya kemiripan ini ada kaitannya. Bale Tani merupakan agrowisata sekaligus balai pelatihan pertanian, dan Ekowisata Banyumili adalah murid dari Bale Tani. Sepertinya, selain berguru tentang pertanian, Banyumili juga berguru tentang pariwisata dan pembangunan infrastrukturnya. Jadi pantaslah tipe pengerjaannya mirip dengan Bale Tani.



Banyaknya infrastruktur yang masih dikebut pengerjaannya ini, ternyata juga memiliki sebab tersendiri. Dari penuturan pengelola Bale Tani, Banyumili sebenarnya belum siap buka sepenuhnya. Namun karena pengunjung Bale Tani sudah begitu overload, sehingga Banyumili sebagai murid perguruan diburu untuk segera menerima wisatawan. 



Bale Tani membantu mempromosikan Banyumili, dan mengarahkan pengunjung untuk datang juga di Banyumili. Dengan segala kondisi yang ada, Banyumili membuka tempat wisata seadanya sambil melanjutkan pengerjaan. Semua ini demi memecah konsentrasi wisatawan supaya sedikit teralihkan ke Banyumili. 

Gemericik air dari gelas raksasa mengisi kolam


Taman Banyumili, orang-orang biasa menyebutnya, dinamakan banyumili mungkin karena banyaknya air dari sumber mata air yang mengalir gemericik mengisi olam-kolam yang ada di lokasi. Selain itu, beberapa aliran air terjun kecil tampak menghiasi beberapa sudut taman sehingga cocoklah dengan namanya, yaitu banyu yang airtinya air, dan mili yang artinya mengalir lembut.

Diisi air mengalir lembut

Kola diisi dari gelas



Memang taman ini belum selesai sepenuhnya, mungkin perlu waktu beberapa bulan lagi untuk mendapatkan bentuk terbaiknya. Mungkin Jombang City Guide akan mengupdate liputan ini setelah taman ini selesai. Selain itu saat berkunjung mungkin karena sedang libur sehingga belum ada petugas yang bisa ditanya-tanya. Masih syukur boleh masuk ya… matur nuwun sanget..


Sssttt....... Adik Bayi Jombang City Guide ketiduran....




Setidaknya, dengan adanya Taman Banyumili ini warga Jombang yang ingin berfoto dengan gaya rumah para Hobbit tak perlu jauh-jauh ke Taman Kelinci Batu Malang, atau ke Seribu Batu Songgo Langit Bantul Jogjakarta, atau ke Pinewood Lodge and Organic Farm Cisarua Bogor, atau ke Kubu Hobbit Pedawa Buleleng, atau ke Farmhouse Susu Lembang Bandung, atau bahkan ke Auckland Selandia Baru untuk berfoto langsung di Shire desa para Hobbit. Bangga lho, di Jombang juga ada kok………


Ekowisata Taman Banyumili
CarangWulung, Wonosalam
Di seberang atas Villa Rosaria Refresh
Buka Setiap hari (kecuali Jumat)

Gandalf The Grey versi perempuan yang mengintip rumah Bilbo

Setelah mengintip rumah Bilbo dari jendela, lalu Gandalf memberi tanda seperti huruf F di pintu Bilbo... Bilbo pun sangat ketakutan. Wajarlah Gandalfnya bentuknya kayak gini. Hyahahahaay......

1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...