Senin, 10 November 2014

Gang Suling Jombang

Selama bulan Ramadhan ada yang unik di Jombang. Selain ada bazaar ramadhan yang bikin kalap itu, ada sirine penanda buka dan imsak selama bulan puasa. Ya, sirine ini lebih dikenal sebagai suling oleh masyarakat Jombang. Seruling yang berupa sirine ini akan berbunyi saat waktu imsak dan buka puasa tiba sepanjang bulan Ramadhan.


Di Jombang ada dua suling yang berbunyi yaitu di Gardu Suling sebelah lapangan tenis Pendopo Kabupaten Jombang dekat Alun-Alun Jombang, dan di Gang Suling yang menghubungkan antara Jalan Achmad Yani dan Jalan Professor Buya Hamka.



Gang Suling sebuah gang kecil yang hanya bisa dilalui oleh motor dan kendaraan kecil, adalah gang dimana seruling kedua yang dimiliki Jombang berada. Disebut Gang Suling, mungkin karena di sini ditempatkan seruling sirine penanda waktu yang ada di Jombang.

Gang Suling


Sirine seruling ini sendiri terletak hampir di ujung gang yang lebih mendekat ke arah Jalan Professor Buya Hamka. Penanda buka puasa ini bertempat di sebuah menara besi yang menempel pada sebuah rumah kecil (atau lebih tepatnya sebuah pos kecil) yang saat kami mengunjunginya, sedang terkuci rapat namun dengan kondisi yang cukup terawat. Selain terawat, meski sudah tua rumah kecil ini juga tidak berbau pesing seperti gerdu suling yang ada di Alun - Alun Jombang. Salut!

Tampak bibir gang yang berhadapan dengan Jalan Professor Buya Hamka

Rumah kecil atau gardu ini, seperti rumah-rumah Indonesia pada umumnya, dan memiliki sebuah pintu yang digembok dengan gembok yang tua pula. Pintu ini dicat biru, yang senada dengan belang-belang cat yang ada di trotoar seberang jalan, dan serasi dengan baju Jombang City Guide yang kebetulan sedang mengenakan Kaos Batu Petir Ponari by Kaos Abangidjo. Xixixi……

Kaos Batu Petir by Kaos  Abang Idjo

Salut juga, seruling di Gang Suling ini tidak tersentuh oleh kuningisasi yang diderita Jombang saat ini. Berbeda dengan saudaranya yang ada di alun-alun yang tak bisa menghindar dari kuningisasi, seruling ini seakan mengambil langkah netral dengan sama sekali tidak mengambil warna hijau maupun merah yang menjadi ciri khas Jombang, maupun kuning yang sedang berkuasa.


Salutnya, rumah ini tidak dicoreti oleh tangan-tangan jahil yang kadang-kadang mengatasnamakan dirinya komunitas grafitty tetapi miskin seni (Kasihan komunitas mural yang asli ya jadinya). Selain itu meski besi menara sudah terlihat tua, namun terlihat masih kokoh.


Rumah kecil ini mungkin berisi sebuah peralatan otomatis yang bisa mengaktifkan sirine untuk berbunyi. Digerakkan dua kali oleh operator setiap harinya selama Ramadhan, sirine ini bisa didengar hingga belasan kilometer.



Katanya, sirine ini mulai ada di abad ke-18 dan sirine ini dibunyikan sebagai penanda waktu kerja para pekerja dan pegawai Belanda. Namun setelah kemerdekaan, sirine ini difungsikan sebagai penanda buka puasa dan imsak masyarakat Jombang, karena di zaman itu, kadang bunyi beduk kurang menjangkau seluruh kota dan belum banyak speaker yang dimiliki oleh warga Jombang seperti di masa kini. Meski sudah berusia tidak muda lagi dan sudah banyak speaker maupun aplikasi ponsel penanda adzan, sirine ini masih aktif difungsikan sebagai penanda waktu imsak dan buka puasa di Jombang.


Jombang City Guide masih ingat betul dulu sirine ini bunyinya keras sekali, terdengar sampai rumah Jombang City Guide yang tinggal sekitar satu kilo dari sirine ini berada. Namun sejak era reformasi, mungkin karena faktor usia atau hal lain, suaranya hanya terdengar sayup-sayup. Meski sudah tidak sekeras dulu lagi bunyinya, namun warga Jombang patut berbangga karena masih bisa menikmati adanya eksistensi sirine ini, dimana di kota lain sirine sejenis sudah tidak berfungsi lagi, bahkan sudah raib entah kemana.


Yang unik disini, sirine di Gang Suling ini bertempat di kawanan pecinan, dimana kebanyakan warganya keturunan tionghoa yang mayoritas tidak menjalankan puasa Ramadhan. Bisa jadi merekalah yang paling bising saat sirine ini berbunyi karena lokasinya yang sangat dekat. Namun inilah bentuk toleransi warga Jombang yang hidup damai dan bersahaja, dimana tepa selira hidup rukun berdampingan satu sama lain.


Sirine dan Gang Suling, salah satu cagar budaya Jombang yang menjadi saksi sejarah perkembangan Jombang. Semoga kebanggaan masyarakat Jombang akan ciri khas unik selama Ramadhan dari Gang Suling ini tidak luntur, termasuk peran pemerintah yang diharapkan dapat menjaga dan melestarikan peninggalan bersejarah Kota Santri tercinta ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...