Senin, 11 Januari 2010

Gagahnya Pegunungan Anjasmoro


Pegunungan Anjasmoro melintang dari timur ke barat dan bertahta di empat kota sekaligus, yaitu Mojokerto, Batu-Malang, Jombang dan Kediri yang memiliki sedikit bagian kakinya. Sayangnya, banyak yang tak tahu kalau Jombang punya pegunungan. Padahal gunung yang bernama Anjasmoro bertahta megah di kawasan yang masuk dalam kabupaten berjuluk Kota Santri yang menggunakan BERIMAN sebagai slogannya.

Menurut Kamus Kata, Anjasmoro atau Anjasmara berasal dari Bahasa Sansekerta yang berasal dari dua kata yaitu anjas dan asmara. Bila diartikan per kata, anjas artinya kubu pertahanan atau benteng, sedangkan asmara berarti cinta. Bila digabung, Anjasmara artinya kubu pertahanan cinta atau kubu pertahanan suka dan duka. Bisa dikatakan pula Anjasmara berarti pintar dan pandai bercinta menurut kamus bahasa sansekerta.

Nama Gunung Anjasmoro kedengarannya mirip dengan nama seorang aktor era ‘90an yang kini menggeluti dunia meditasi yoga, Anjasmara. Nama Anjasmoro sendiri memang lazim dipakai oleh kaum adam. Gunung ini juga masuk dalam salah satu kawasan kunjungan Alfred Russel Wallace saat melakukan survey hewan-hewan eksotis yang mendiami dataran tinggi Wonosalam.

Kala itu, Sang Ilmuwan dari Inggris ini salah mencatat nama gunung ini sebagai Gunung Arjuno akibat terlalu terpesona dengan kebun kopi, Candi Arimbi maupun burung merak yang begitu eksotis di Wonosalam. Bisa jadi kesalahan pencatatan ini karena unsur nama yang sama, dengan sesama awalan vokal ‘A’ dan akhiran ‘o’ serta nuansa getaran huruf ‘r’ di tengahnya. Anjasmoro. Arjuno. Wajarlah kalau kepleset dikit..


Mungkin juga Tuan Londo yang bukan dari Belanda ini agak luput dalam pencatatannya akibat mengira kedua gunung ini sama karena letaknya yang berdekatan. Wajarlah, ketika kunjungannya tahun 1861 Indonesia berada dalam penjajahan Belanda dan Jombang masih menjadi bagian dari wilayah Mojokerto sebelum akhirnya berdiri sendiri sebagai kabupaten di tahun 1910.

Kemungkinan yang lain, gunung yang berada di dataran tinggi Wonosalam ini waktu itu masih belum diberi nama. Seorang blogger pernah mencetuskan bahwa gunung ini dulunya bernama Gunung Nagasari dan memiliki keterkaitan erat dengan Kerajaan Majapahit, sama seperti Gunung Penanggungan yang punya ikatan erat dengan Kerajaan Singasari. Entah apa pula keterkaitannya dengan kue Nagasari dan seiring dengan perkembangan zaman, entah mengapa gunung ini lalu diubah namanya menjadi Gunung Anjasmoro.

Gunung Anjasmoro, jelas kalah populer dengan Gunung Arjuno, Gunung Penanggungan, Gunung Welirang, Gunung Semeru, apalagi Gunung Bromo. Bagi para pendaki, pendakian Gunung Anjasmoro masih sangat asing, tidak setenar Gunung Semeru yang jelas jalur pendakiannya.

Selain nama yang belum familiar di telinga pendaki gunung, tujuan puncak pendakian masih belum banyak yang tahu. Banyak diantara mereka yang tak mengerti ternyata ada mengerti tiga jalur pendakian lalu mencoba salah satunya, kemudian sampai di puncak yang bukan mereka maksud.

Medannya super licin, masih asri dan sepi pendaki, jadi tidak ada penanda yang jelas di setiap titiknya sepanjang perjalanan. Beberapa pendaki bahkan menyatakan bahwa pijakan telapak kaki bukan tanah tapi berupa tumpukan daun, dan 90% jalurnya menerobos semak-semak dalam dan basah.

Gunung Anjasmoro memiliki kawasan hutan dipterokarp dan hutan dipterokarp atas, perbukitan, hutan montane, dan hutan ericaceous. Vegetasinya masih begitu alami terlihat dari lebatnya pepohonan di gunung ini. Tahun 1992, Kementerian Kehutanan menetapkan Pegunungan Anjasmoro sebagai kawasan konservasi dengan pemangku wilayah TAHURA Raden Soerjo di bawah kendali Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Timur.

Biasanya para pendaki melakukan penaklukannya di musim durian karena Wonosalam adalah salah satu surganya durian di Jawa Timur. Hanya pendaki tertentu yang mungkin ‘meniatkan diri’ untuk mendaki gunung yang kurang populer ini.

Sebagai sebuah pegunungan, berarti Anjasmoro terdiri dari gunung-gunung yang ada dalam satu gugusan. Gunung Anjasmoro sendiri, terletak satu kluster dengan Gunung Argowayang serta bersebelahan dengan Gunung Arjuno dan Gunung Welirang. Kesemua deretan pegunungan itu sudah tidak aktif lagi, termasuk Gunung Anjasmoro. Meski demikian, aktivitas pascavulkanik gunung non-aktif ini masih terlihat di beragam sumber mata air alami yang kondisinya makin kritis.


Meski Gunung Anjasmoro terlihat seperti satu deret, sebenarnya gugusan pegunungan ini terdiri dari banyak gunung yang dipisahkan jurang. Di balik deretan pegunungan itu, masih ada gugusan gunung dan perbukitan lain yang tertutup kabut dan tak terlihat dari kejauhan dengan medan yang masih belum terjamah tangan manusia.


Tentunya, karena berbentuk gugusan pegunungan yang membentang maka terdapat banyak puncak di Pegunungan Anjasmoro dengan ketinggian yang bervariasi. Puncaknya pun belum banyak yang menaklukannya, selain karena kurang populer juga jalur pendakiannya masih berupa alam liar. Puluhan puncak itu juga terbagi dalam tiga kota dengan titik tertingginya masing-masing. Berikut daftarnya :
  • Batu Malang : Top Anjasmoro (2277 mdpl), Gunung Biru (Via Cangar, Pabrik Jamur)
  • Mojokerto : Puncak Kukusan (1950 mdpl) via Rejosari
  • Jombang : Puncak Cemorosewu (1800 mdpl) via Carangwulung, Wonosalam

 Di Mojokerto
Terdapat Puncak Kukusan (via Rejosari), Puncak Sigiran, Puncak Semar, Gunung Mrasih / Gunung Kencur.
Puncak Kukusan 1950 (mdpl) adalah puncak Gunung Anjasmoro yang paling berkesan karena dengan adanya titik tinggi ini, Gunung Anjasmoro tampak unik seperti krowak dari kejauhan. Dengan adanya puncak lancip nan cuil yang disebut juga dengan puncak kemukus, ini Gunung Anjasmoro lebih mudah dikenali dibandingkan gunung-gunung lain dengan bentuk puncak pada umumnya.
Para pendaki yang kurang familiar dengan Gunung Anjasmoro mengira puncak ini masuk wilayah Jombang, padahal sebenarnya masuk kawasan Mojokerto. Jalur pendakiannya lewat Rejosari tapi juga bisa dilakukan pendakian dari jalur Carangwulung, Wonosalam. Meski terpisah oleh sungai, terdapat jalur punggungan menuju puncak unik ini.
Sudah banyak pendaki yang mencapai puncak kemukus termasuk Dayak Kota, meski tidak ada jalur pendakian resminya. Medannya sangat curam karena bentuknya yang lancip seperti layaknya tutup kukusan di panci dapur. Bentuknya yang seperti cuil namun tampak seperti piramid dari sisi yang lain membuatnya diberi nama puncak piramid lagi-lagi oleh para pendaki yang tak paham medan Anjasmoro.
Meski terlihat lancip, namun ketika sampai di atasnya terdapat ground yang cukup luas sekitar luas pekarangan rumah. Dan uniknya, ada sebuah batu yang disinyalir sebagai petilasan. Sayangnya belum ada tanggapan apapun dari pemerintah maupun BPCB Trowulan tentang penemuan ini.

Di Jombang
·        Cemorosewu (1800 mdpl) di Gunung Gede (via Carangwulung) : Cemorosewu merupakan sebutan puncak ini karena di titik puncaknya ditumbuhi banyak pohon cemara, sehingga dijuluki Puncak Seribu Cemara. Padahal, populasi cemara yang tumbuh di puncak bisa jadi tidak sampai seribu, atau bahkan lebih dari seribu. Orang Jawa sering menganalogikan kata ‘sewu’ yang artinya seribu dengan sesuatu yang banyak, meski jumlahnya belum tentu seribu.
·        Tapak Bunder : Dinamai demikian karena di puncak Tapak Bunder terdapat batu yang berbentuk bundar
·        Puncak Alang-Alang : Sebutan ini muncul karena di puncaknya banyak tumbuh alang-alang.
·        Puncak Watu Bima : Terdapat batu dengan cap kaki kiri yang sangat besar. Sedangkan misteri tapak kaki satunya ternyata berada di Lereng Gunung Arjuna. Dulunya, bekas telapak kaki ini dipercaya sebagai jejak Bima.
·      Puncak Tepak Ayam
·      Puncak Watu Bima : Watu Bima, terdapat batu yang sangat besar berwarna agak loreng dimana terdapat telapak kaki kiri yang dipercaya sebagai telapak Bima. Meski Bima hanyalah tokoh fiksi dalam pewayangan, namun telapak ini dipercaya sebagai telapak orang yang berkedudukan tinggi sehingga jejak kakinya diabadikan dalam batu dan kemudian disebut Watu Bima.
·   Puncak Tego Pati : Puncaknya begitu unik karena kanan dan kirinya berupa jurang. Sangat berbahaya bila tergelincir di situ, sehingga jalan yang akan menuju puncak seakan antara hidup dan mati. Jalur menuju puncak ini kerap disebut punggungan atau igir-igiran oleh pendaki senior dan penduduk setempat.
Penamaan ini berdasarkan kearifan lokal, dimana orang Jawa sebagai penduduk setempat memang memberi nama yang sederhana supaya mudaih diingat. Sayangnya mayoritas warga tidak paham topografi maupun tidak bisa membaca peta buta, sehingga sulit untuk mempertemukan titik temu antara pendaki yang melalui medan dan penduduk setempat yang familiar dengan lokasi.

Karena Gunung Anjasmoro masih berupa hutan perawan, banyak pendaki kurang familiar dengan gunung ini. Hanya beberapa penduduk lokal yang benar-benar paham tentang seluk beluk Gunung Anjasmoro, sisanya tak tahu-menahu.

Para pendaki yang tak familiar ini memang menganggap penamaan titik-titik tersebut sifatnya masih baru dan bebarengan dengan jalur rintisan untuk pendakian komersil. Padahal jika mau menggali info lebih dalam, seharusnya perlu mengumpulkan puzzle informasi dari tiga kota yang memiliki gugusan pegunungan ini.

Karena ketidaktahuan ini, akhirnya banyak pendaki yang memberi nama lokasi maupun puncak gunung di Pegunungan Anjasmoro dengan nama-nama seadanya, nama baru yang tidak berdasar, bahkan saknjeplake. Sebagai contoh untuk Anjasmoro wilayah Mojokerto seperti perbukitan Joko Mujung menjadi Bukit Watu Jengger, tetapi tidak paham dimana Batu Jengger itu sendiri.

Kasus penamaan lain juga menimpa pada Puncak Kukusan yang dijuluki Puncak Piramid, Puncak Tusuk Gigi, bahkan kadang disebut puncak P1, P2, dan P3. Penamaan tanpa dasar ini bisa mengancam kelanjutan dongeng pada anak cucu mengenai kemegahan Anjasmoro, karena membuat generasi selanjutnya kebingungan karena terlalu banyak nama yang tak sesuai dengan nama awalnya.

Penamaan puncak Piramid juga bisa memicu konspirasi liar mengenai ada tidaknya hubungan antara ‘puncak piramid’ dengan piramid di Mesir, atau asal muasal cerita piramid hingga menjelma menjadi gunung berpuncak piramid. Dugaan-dugaan yang tentang piramida di Indonesia sudah bisa dilihat fenomenanya di kasus Gunung Salak Jawa Barat.

Perlunya penggalian yang lebih dalam seperti interaksi dengan warga lokal yang tak hanya dari satu sisi lereng gunung saja. Jadi penggalian kearifan lokal harus dilakukan dengan menyeluruh seperti interaksi dengan penduduk Wonosalam (Jombang), Rejosari (Mojokerto) dan Cangar (Batu, Malang). Jika telah demikian, bisa terkumpul nama-nama lokasi berdasarkan kearifan lokal dan sumber daya maupun potensi yang ada di kawasan tersebut.

Penggalian informasi pun tak bisa dilakukan dengan sekali pendakian. Hal ini memang tidak mudah, sehingga perlu informasi yang mendalam bahkan bila perlu ‘berguru’ dahulu dari para pendaki senior yang sudah berkali-kali melakukan ekspedisi di Gunung Anjasmoro dari berbagai jalur.

Cerita kearifan lokal memang menjadi puzzle informasi yang harus dikumpulkan para pendaki tentang Gunung Anjasmoro. Bila para pendaki seenaknya memberi nama tempat yang sebenarnya sudah ada namanya karena kisah lokal maupun potensi yang terkait lokasi, maka akan membuat kisah yang berkembang di kaki Gunung menjadi kacau.

Puncak Cemorosewu adalah puncak yang paling populer dan diklaim sebagai puncak tertinggi Pegunungan Anjasmoro. Gunung Gede, tempat dimana Puncak Cemorosewu berada adalah bagian dari Pegunungan Anjasmoro yang puncaknya masuk kawasan Carangwulung, Wonosalam, Jombang sedangkan gunungnya membentang hingga Desa Jarak di Wonosalam Selatan.  

Gunung Gede di Wonosalam ini dinamai ‘gede’ yang artinya besar. Gunung Gede memang gunung yang cukup besar, dan memiliki banyak puncak meski ketinggiannya bukan yang paling menjulang dibandingkan titik puncak Anjasmoro yang lain. Bila kita naik ke atas Gunung Gede, maka baru akan terlihat banyak puncak gunung dalam gugusan Anjasmoro. Salah satu puncak Gunung Gede yang cukup tinggi adalah Tapak Bunder dimana ketinggiannya hampir setara dengan Puncak Cemorosewu.

Sebutan Gunung Gede mirip dengan nama Gunung Gede di Taman Nasional Pangrango Jawa Barat. Bedanya, Gunung Gede di Pegunungan Anjasmoro ini masih kalah populer. Gunung Gede sebenarnya gunung terpisah dengan deretan gunung yang lain dan dipisahkan oleh Sungai Pait dan beberapa kali yang lain. Dari kejauhan Gede tampak seperti gunung biasa, karena banyak masyarakat lebih terpesona dengan Puncak Kukusan, yang selain lebih tinggi juga lebih unik.

Gunung Gede juga susah dipotret, karena puncaknya selalu berkabut dan diselimuti awan. Bahkan ada sebuah anekdot dari para pendaki senior yang menyatakan Gunung Gede susah dipotret dari manapun, karena meski mereka sudah melakukan berkali-kali pendakian selalu sulit mendapatkan potretnya, baik dari sisi Watu Jengger apalagi dari Puncak Kukusan.

Di Puncak Cemorosewu yang merupakan titik tertinggi di Gunung Gede, pendaki bisa melihat indahnya gugusan Pegunungan Anjasmoro dari ketinggian. Selain itu, dari titik ini akan bisa bertemu dengan jalur pendakian via Mojokerto yang menuju Puncak Kemukus / Puncak Kukusan. Bila beruntung dimana cuaca tidak berkabut, maka akan terlihat air terjun tersembunyi di kaki Gunung Anjasmoro.

Kepopuleran Puncak Cemorosewu tak lepas karena jalurnya yang sudah resmi dan lebih layak untuk pendakian, bahkan di puncaknya sudah terdapat plakat penanda ketinggian. Plakat ini tidak dimiliki puncak-puncak yang lain sehingga Puncak Cemorosewulah yang dianggap sebagai titik tertinggi. Sedangkan bila dilihat dari kejauhan, titik paling tinggi adalah Puncak Kukusan.  

Cemorosewu sendiri diklaim setinggi 2282 mdpl, terlihat dari plakat yang berdiri di puncak di Gunung Gede tersebut. Cemorosewu memang merupakan titik pegunungan Anjasmoro yang tertinggi di Jombang, tapi ketinggiannya masih kalah dengan Puncak Kukusan di Mojokerti dan jelas di bawah ketinggian Top Anjasmoro di Batu, Malang.

Menurut tim pendakian Dayak Kota, Top Anjasmoro di Batu Malang hanya sekitar 2277 mdpl, Puncak Kukusan yang setinggi 1950 mdpl. Puncak Cemorosewu jelas ada di bawah Kukusan dan Top Anjasmoro. Dayak Kota mencatat ketinggian Puncak Cemorosewu hanya mencapai 1800 mdpl. Sepertinya ada kesalahan pencatatan dan klaim yang meleset oleh pembuat plakat, sehingga perlu adanya ekspedisi lebih lanjut di puncak ini sehingga didapat catatan ketinggian yang tepat,.

Kejadian saling klaim dari semua pihak dari tiap jalur pendakian sebagai pemilik titik tertinggi ini masih berlanjut. Padahal, puncak yang tertinggi hanya akan terlihat bila kita berada di tengah-tengah pegunungan ini atau dengan mendaki semua medan dari titik satu ke titik yang lain. Nyatanya di sisi utara masih ada gunung yang lebih tinggi yang puncaknya dinamakan Top Anjasmoro selalu tertutup kabut sehingga selalu tak terlihat pucuknya.

Pendaki junior, termasuk para newbie, pendaki amatir maupun pendaki dari kota lain yang belum mengenal medan Pegunungan Anjasmoro hendaknya juga banyak menggali informasi sebelum melakukan pendakian, termasuk ‘berguru’ dahulu pada para senior.

Pendaki yang memberi batas aman juga kadang tidak mengerti medan dan tak paham jalur pendakian sedalam pendaki senior. Meski tujuannya baik namun ulahnya dengan  sering memberi nama baru di beberapa titik karena ketidaktahuain akhirnya menimbulkan kebingungan pendaki selanjutnya. Meskipun mengacu pada satu puncak, akhirnya berbeda penyebutan di setiap tempat.

Nama-nama baru juga akhirnya kurang mewakili keadaan di titik terkait. Berbeda dengan nama yang ada sebelumnya sudah jelas memberikan informasi mengenai potensi tempat terkait. Meski tidak ada patennya tapi nama yang sudah tersemat sebelumnya hendaknya jangan diganti sembarangan seenak udelnya.

Para pendaki senior setempat tentunya akan sangat senang memberikan informasi maupun sharing pengalamannya selama pendakian, karena merekalah yang selama ini ‘mbaurekso’ di kawasan pendakian Anjasmoro. Mereka jelas lebih paham dan pastinya bisa memberikan tips keselamatan dan informasi supaya pendaki selanjutnya bisa melakukan pendakian yang aman tanpa kehilangan momentum penaklukan puncak gunung yang diidamkan setiap pendaki.

Jadi bila ada yang mendaki di luar jalur pendakian dan keluar dari batas aman, hendaknya bergabung dengan pendaki senior, bukan pada pendaki yang berani membuka open trip tapi tidak paham medan dan suka mencuri video orang sembarangan. Sebagai pendaki senior yang lebih berpengalaman, Pendaki senior pasti memberikan saran pendakian. Sayangnya tak semua pendaki junior memahami maksud para pendaki senior. Jiwa labil pendaki kadang bisa menimbulkan korban, termasuk yang tewas beberapa waktu lalu.

Meski demikian, para pendaki senior tidak putus asa memberikan edukasi bagi para juniornya. Selain itu mereka masih melakukan ekspedisi lanjutan dan banyak pendakian ke berbagai titik serta menggali informasi tidak hanya dari penduduk satu lokasi saja tapi dari tiga kota pemilik puncak-puncak Anjasmoro sehingga ditemukan kesamaan pemahaman mengenai medan dan topografi yang bisa membantu pendaki lainnya supaya tetap aman dan selamat selama pendakian tanpa kehilangan kesempatan untuk menjelajah wilayah yang ingin dituju.

Tak jarang, pendaki luar kota banyak yang kecele’ karena puncak yang mereka datangi bukan yang mereka maksud. Sudah terlalu banyak info yang beredar antara saling klaim dan tulisan pendaki luar kota yang kadang agak menyesatkan sehingga menimbulkan kerancuan maupun kebingungan para pendaki, ditambah lagi medan yang masih sangat liar dan penduduk setempat yang juga minim informasi.

Dengan ‘berguru’ pada para pendaki senior, para pendaki yang akan melakukan pendakian bisa mendapat tips dan pengetahuan lebih awal, sehingga sedikit banyak bisa membayangkan medan. Bekal pengetahuan lebih awal juga baik untuk para pendaki supaya mereka juga mengetahui nama-nama lokasi dan potensi yang ada di ‘medan laga’.

Dengan bekal pengetahuan yang cukup, pendaki baru akhirnya tidak sembarangan memberi nama-nama baru pada beberpa titik yang sudah ada namanya, yang bisa berakibat mewariskan kesesatan untuk generasi pendaki selanjutnya. Dengan pengenalan lebih awal, mereka bisa memahami medan maupun jalur, sehingga kemungkinan kecele’ maupun tersesat bisa diminimalkan.

Pemberian batas aman untuk jalur pendakian komersil memang sangat dibutuhkan, terutama bagi keselamatan para pendaki newbie maupun pendaki amatir. Selain itu, aman juga mengacu untuk kelestarian lingkungan, tempat-tempat yang disakralkan warga termasuk tempat yang dianggap situs bersejarah peninggalan kerajaan yang bsia saja tersebar di pegunungan Anjasmoro.

Pemetaan wilayah mana saja yang boleh dan tidak boleh dijadikan jalur lalu lintas untuk pendakian sangat diperlukan, mengingat kawasan Pegunungan Anjasmoro termasuk daerah konservasi baik konservasi hutan, flora dan fauna, bahkan perlindungan mata air. Dengan melokalisasi daerah terlarang, maka interaksi langfsung dengan ekosistem endemik bisa diminimalkan, dan bisa melindungi flora dan fauna bahkan mata air yang dilindungi.

Meski demikian, para pendaki hendaknya sadar untuk menaati pembatasan jalur untuk kebaikan bersama ; kebaikan para pendaki, kebaikan warga setempat, kebaikan ekosistem yang ada di gunung Anjasmoro, hingga keselamatan semuanya karena bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pasti warga setempatlah yang akan membantu, kecuali memang mau niat bunuh diri.

Jombang City Guide masih meminjam foto dari para pendaki senior yang berjuluk Dayak Kota, yang telah menaklukkan banyak gunung termasuk seluruh titik yang ada di Pegunungan Anjasmoro kecuali Gunung Biru.

Meski tak terlalu tinggi dan kalah bergengsi, Gunung Anjasmoro bisa menjadi alternatif gunung yang ditaklukkan berikutnya. Apalagi ramainya para pendaki yang menuju gunung favorit, yang mengakibatkan suasana pendakian mirip seperti pasar menjelang lebaran. Jadi, alternatif ke Gunung Anjasmoro masih sangat menantang untuk ditaklukkan, ‘kan??

Gunung Anjasmoro
Puncak Cemorosewu
Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam
Kabupaten Jombang, Propinsi Jawa Timur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Jombang Lainnya

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...