Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Februari 2021

Candi aRimbi dalam Ekspedisi Wallace ke Wonosalam

 

Candi Rimbi pertama kali ‘ditemukan’ dan dipublikasikan oleh Alfred Russel Wallace yang sedang berkunjung ke Wonosalam untuk mengambil spesimen burung merak dan hewan-hewan endemik dari Gunung Anjasmoro. Ilmuwan Inggris itu sedang melakukan penjelajahan dan pencatatan dalam ekspedisinya menguak jenis-jenis flora dan fauna di nusantara. Rupanya, Wonosalam di Jombang menjadi salah satu destinasi dalam ekspedisinya.


Catatan Wallace tersebut dirangkum dalam buku The Malay Archipelago. Dalam catatan kunjungannya itu, Wallace melalui Surabaya sebagai pelabuhan tempatnya mendarat setelah perjalanannya ke Ternate, Kepulauan Maluku. Dengan mengendarai kereta sapi jantan atau biasa kita sebut dengan cikar, Wallace melanjutkan ekspedisinya ke Mojokerto, lalu Mojoagung. Dari Mojoagung, Wallace melanjutkan perjalanannya ke Wonosalam dengan menunggang kuda.

Selasa, 01 September 2020

Unfinished Arca Jemparing : Berhasil Lolos dari Perdagangan Ilegal

Tak jauh dari lokasi Candi aRimbi, terdapat sebuah desa yang bernama Jemparing. Sudah bukan rahasia lagi bila kawasan ini dan sekitarnya dikenal sebagai wilayah yang banyak peninggalan purbakala yang tersebar di berbagai sudut. Diantaranya adalah dua arca yang belum tuntas dikerjakan dan kini sudah diboyong ke Museum Trowulan.

Seperti pada umumnya, kedua arca ini dijadikan atribut punden bin pekunden yang dikeramatkan warga Jemparing, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. Warga menjadikan dua arca ini sebagai patung yang sakral dan menjadi warisan leluhur yang sangat dihormati.

Selasa, 04 Agustus 2020

Makam Dewi Arimbi : Antara Teka-Teki dari Candi aRimbi dan Misteri Legenda Raksasi



Sebutan Candi aRimbi berasal dari lokasi dimana bangunan cagar budaya itu berada, yaitu dari nama Desa Ngrimbi. Meski secara administratif Candi aRimbi sekarang berada di Desa Pulosari yang merupakan tetangga Desa Ngrimbi. Sangat mungkin pada saat pertama kali didokumentasikan dulu di masa penjajahan kolonial Belanda, Candi Rimbi masih berada dalam lingkup Desa Ngrimbi. Sedangkan batas wilayah zaman Belanda dan masa sekarang sudah berbeda sehingga kini masuk Desa Pulosari. Namun demikian, nama yang tersemat pada Candi Rimbi masih dipertahankan.

Toponim Rimbi di Desa Ngrimbi berasal dari sosok wanita legendaris cerita rakyat setempat yaitu Dewi Arimbi. Sosok Dewi Arimbi terkait dengan dengan dua makam misterius yang bersebelahan, dekat sungai tak jauh dari Candi Arimbi. Salah satu dari tiga makam itu diyakini sebagai makam Dewi Arimbi. Kisah pewayangan menyebutkan seorang tokoh dengan nama yang sama yang diceritakan sebagai raksasa cantik, istri Bima salah satu dari pandawa lima, sekaligus ibunda Gatotkaca dalam kisah pewayangan.

Warga setempat meyakini, tiga makam itu diduga merupakan pesarean Prabu Arimba, Pangeran Arimbo dan adiknya Dewi Arimbi yang menjadi legenda kawasan ini. Meski belum ada bukti ilmiah apalagi catatan apapun tentang sosok tersebut, agaknya detail ini bisa jadi tambahan informasi mengenai asal muasal lokasi dan cerita budaya setempat.

Sabtu, 02 Mei 2020

Prasasti Katemas : Warisan Arkeologis Yang Belum Terkuak

Tak banyak yang diketahui mengenai Prasasti Katemas. Keberadaannya yang bersemayam bersama sekumpulan prasasti lain di Museum Mandala Majapahit di Trowulan membuat eksistensinya kurang terekspos. Berdiri tegak di antara rekan-rekannya dalam kondisi tanpa profil, membuat sejarahnya terasa tenggelam.

 

Bahkan tak banyak yang tahu bahwa Prasasti Katemas merupakan salah satu inskripsi yang dari masa Prabu Airlangga yang berasal dari kawasan Jombang di utara Brantas. Bersama empat prasasti lain yang pernah ditemukan dalam jarak yang tak jauh, eksistensi tugu batu bertulis dari Katemas ini sedikit terpinggirkan.

Sabtu, 07 Desember 2019

Candi Glagahan : Bangunan Suci Cantik Yang Disebutkan dalam Prasasti Poh Rinting


Berawal dari niat membuat sumur untuk membuat kebutuhan air lancar, Candi Glagahan ditemukan. Penggalian dilanjutkan hingga menguak adanya struktur bangunan kuno dengan batu bata merah khas era kerajaan di masa lalu. Seperti bangunan pemujaan, yang juga diperkirakan berbentuk petirtaan. Keluarga Bu Tonah sendiri juga tak menyangka ternyata di halaman belakang rumahnya terdapat sebuah candi yang memiliki nilai sejarah tinggi bagi Jombang.



Candi ini berada Dusun Glagahan, Desa Glagahan, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang. Dari nama desa ditemukannya candi, kemudian bangunan kuno ini pun disebut Candi Glagahan. Karena ditemukan di Desa Glagahan, maka candi ini disebut Candi Glagahan dan telah terdaftar sebagai bangunan cagar budaya oleh BPCB. Kini rumah yang memiliki lahan itu ditinggali oleh salah satu putra Bu Tonah yang sekarang menjabat Ketua RT setempat di RT.03 RW. 02. 

Jumat, 08 November 2019

Watu Mbah-Mbeh : Relief Unik WatuGaluh Petunjuk Ibukota Kerajaan Mdang



Sebuah patok batu andesit berdiri agak miring di tengah sawah. Patok batu itu bukan sekedar tugu biasa. Patok batu itu, menjadi asal usul sejarah Desa Watu Galuh yang kini hari jadinya didasarkan dari penetapan lokasi itu sebagai ibukota Kerajaan Mataram Kuno dalam era Wangsa Isyana yang dipimpin Mpu Sindok, Sang Mahamantri Rakyyan i Hino.


Penduduk setempat menyebut patok Watu Galuh ini sebagai Watu Mbah-Mbeh, yang entah darimana penamaan ini berasal. Patok ini mungkin sebuah srandu yang menandai lokasi tertentu sebagai bagian dari batas kota. Jika memang benar, maka bisa jadi masih ada patok batu yang lain sebagai penandanya. Mirip dengan konsep yoni naga raja milik Majapahit yang menjadi pembatas wilayah ibukota kerajaan.

Minggu, 06 Oktober 2019

Candi Dempok : Singgasana Pertapaan Damarwulan



Tumpukan bata kuno membentuk bangunan mirip candi Majapahit disinyalir merupakan peninggalan Damarwulan. Dari cerita penduduk setempat, dulunya tumpukan batu bata berukuran jumbo itu merupakan lokasi dimana Sang Ksatria andalan Majapahit itu bersemedi.


Diantara batu bata merah berukuran jumbo itu, terdapat beberapa yang memiliki ukiran khas guratan peninggalan bersejarah kerajaan kuno. Kebanyakan situs non-andesit memang tersusun dari batu bata kuno yang dihiasi guratan bentuk setengah lingkaran di permukaannya. Situs bersejarah yang dominan dari batu bata kuno bisa ditemukan di Situs Sugihwaras, Prasasti Tengaran, Prasasti Watu Gilang, Petilasan Damarwulan Sudimoro, dan masih banyak lagi.

Rabu, 07 Agustus 2019

Prasasti Watu Gilang : Jejak Ibukota Kerajaan Medang Kamulan



Prasasti Watu Gilang diduga merupakan peninggalan Kerajaan Medang Kamulan. Tugu batu ini sudah menjadi ‘inventaris’ cagar budaya Jombang dengan nomor 10/JMB/91 dan masuk dalam pendataan benda bersejarah peninggalan kerajaan kuno.


Seseorang pernah mengatakan bahwa gilang artinya hitam, sedangkan watu dalam bahasa Jawa artinya batu. Jika memang benar perkataan itu, Watu Gilang artinya batu hitam. Kalah wes Hajar Aswad, xixixixi… Namun saat diteliti lebih lanjut, tak ada terjemahan gilang dalam Bahasa Sansekerta.  Memang benar, Watu Gilang berwarna hitam. Memang bukan sepenuhnya hitam, namun prasasti ini jelas dibuat dari batu andesit sehingga warnanya hitam, bukan batu bata yang berwarna merah.

Selasa, 19 Maret 2019

Mengagumi Kemegahan UNDAR di Tengah Kemelut


Begitu jelas dalam ingatan, suasana perkuliahan yang sangat ramai saat masa jaya-jayanya. Kampus yang asri, bangunan yang megah. Miriplah dengan suasana kampus bergengsi pada umumnya. Mahasiswa ada dimana-mana, sibuk dengan berbagai kegiatan dan tugasnya. Berlalu-lalang, hilir mudik kesana kemari.


Bisa dikatakan, Jombang City Guide juga 'warga' UNDAR, meski tak pernah menempuh pendidikan di perguruan tinggi kebanggan Jombang itu. Dulunya, Jombang City Guide masuk taman kanak-kanak di samping UNDAR. Hampir setiap Jumat, para guru mengajak para krucilnya untuk berjalan-jalan pagi di sekitar sekolah.

Sabtu, 10 November 2018

Jalan Pahlawan : Dedikasi Untuk Sang Patriot



Penataan nama jalan di Jombang masih belum tersusun rapi. Banyak nama jalan yang tidak memperhatikan aspek sejarah maupun kisah yang terkait yang berhubungan dengan wilayah tersebut. Namun ada satu nama jalan yaitu Jalan Pahlawan, yang memiliki sejarah penting yang terkait dengan tokoh yang pernah tinggal di tempat itu.


Minggu, 09 September 2018

Patok Menturo : Jejak Sungai Yang Hilang


Patok kecil berbentuk persegi dengan sudut lembut setia berdiri di pinggir jalan Desa Menturo, tak jauh dari kediaman keluarga Cak Nun dan rumah kepala desa. Tepat di depan pagar sebuah rumah kuno bergaya Belanda, patok batu yang sekilas terlihat seperti batu biasa setinggi sekitar betis bawah orang dewasa itu sebenarnya menyimpan sejarah tentang rangkaian kisah Majapahit yang tercecer.

Patok Batu Kuno di depan rumah kuno

Minggu, 15 Juli 2018

Puing-Puing Candi Mireng : Perabuan Sang Perwira Yudha


Selain sebagai bagian dari ibukota Majapahit, Jombang juga merupakan wilayah ibukota Kerajaan Mataram Kuno atau yang kerap disebut Medang Kamulan pimpinan Raja Mpu Sindok. Dengan dua kerajaan besar yang bertahta di Jombang pada masa lalu, tentunya banyak benda peninggalan era kerajaan kuno yang ada di Jombang.


Senin, 02 Oktober 2017

Penemuan Situs Karobelah : Pesanggrahan Tamu Kerajaan Majapahit


Setelah penemuan situs pra-Majapahit di Sugihwaras, ditemukan lagi situs dengan material bata kuno berukuran besar khas zaman Majapahit di Karobelah, Mojoagung. Penemuan Situs Karobelah menambah panjang daftar penemuan situs kuno di Jombang, yang diduga dulunya adalah bagian bangunan dari ibukota kerajaan Majapahit.

Struktur bangunan yang ditemukan oleh Pak Slamet saat mencangkul di ladang untuk jalan lingkungan di bekas saluran irigasi. Saat menggali, cangkul Pak Slamet mengenai benda keras. Ketika mencoba mencangkul di titik lain tak jauh dari titik pertama, ternyata terjadi hal yang sama. Karena berkali-kali membentur benda keras, Pak Slamet pun melakukan penggalian sedikit demi sedikit. Ketika digali lebih lanjut, ditemukanlah susunan batu bata yang menyerupai sebuah dinding.


Jumat, 01 September 2017

Yoni Gambar : Tapal Batas Kota Raja Wilwatikta


Yoni Gambar berada di tengah hamparan sawah yang berada di Dusun Sedah, Desa Japanan, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang. Yoni Gambar, disebut demikian karena lokasinya yang berkaitan dengan Mbah Gambar, yang dianggap sebagai sesepuh desa setempat. Berbeda dengan rekannya yaitu Yoni Badas yang diduga sudah diboyong ke Museum Nasional Indonesia, lokasinya Yoni Gambar masih In Situ, yang artinya masih berada di tempat aslinya.



Rabu, 05 April 2017

Wana Wisata Gua Jepang : Wisata Sejarah Sambil Cuci Mata dan Berfoto Ria


Goa Jepang di Alas Gedangan, yang dulunya dijadikan tempat persembunyian senjata tentara Jepang sekarang dijadikan tempat wisata yang menarik untuk kalangan muda. Pihak Perhutani selaku pengelola menggandeng karang taruna setempat untuk menyulapnya menjadi destinasi wisata baru yang tak hanya menyuguhkan nilai sejarah tapi juga rekreasi yang digandrungi anak muda masa kini. Kids Jaman Now gitu loh.


Selasa, 09 Agustus 2016

Prasasti Kusambyan : Prasasti Grogol Peninggalan Prabu Airlangga Dirusak Hanya Demi Emas


Ada sembilan bongkahan batu yang berasal dari pecahan Prasasti Grogol. Dulunya, prasasti ini utuh seperti prasasti batu balok pada umumnya. Diperkirakan dulunya prasasti ini berbentuk balok berpuncak runcing. Sayangnya karena ketololan tingkat tinggi, oknum yang mengklaim mendapat ilham alias bisikan setan bahwa di dalamnya ada emas, akhirnya batu bertulis berisi informasi penting yang penuh sejarah itu dipecah hingga menyisakan sembilan bagian. 



Faktanya, emasnya ada atau tidak??? Jelas tidak, tapi prasasti telanjur dirusak. Entah alat apa yang digunakannya, entah pula apa yang dipikirkannya. Yang pasti pelakunya adalah oknum congok pol. Tak ada catatan apapun mengenai kapan terjadinya peristiwa pengrusakan Prasasti Grogol. Yang jelas ketika Pak Badri Sang Juru Pelihara Prasasti Grogol mulai bertanggung jawab merawat tugu batu bertulis ini, kondisinya sudah tinggal pecahan berkeping-keping.

Selasa, 02 Februari 2016

Yoni Watukucur : Tanpa Cerat Bersanding Umpak dan Reruntuhan Candi


Beberapa umpak bundar sedikit persegi, struktur batu bata kuno dan dua yoni persegi berukuran cukup besar berceceran di sebuah lahan persawahan. Ada sekitar sembilan umpak berbentuk bundar yang mungkin dulunya menjadi pondasi pilar sebuah bangunan. Sedangkan pondasi memanjang dengan sisa sebuah struktur batu bata kuno menandakan di lokasi ini dulunya pernah ada bangunan bersejarah. Bisa jadi bangunan suci atau sisa sebuah pemukiman penting.


Menariknya, ada dua yoni yang berukuran cukup besar di sekitar umpak-umpak tersebut. Yoni tersebut berbentuk persegi dan tak punya pahatan apapun di permukaannya. Memang, kedua yoni ini ukurannya tak sebesar Yoni Gambar maupun lekuknya yang semegah Yoni Badas. Meski tak punya ukiran apapun, tapi lekuknya tak bisa dikatakan polos layaknya Yoni Balongrejo di Sumobito. Lekuk-lekuk dan ukuranya menandakan bahwa yoni ini seakan punya 'kasta' sedikit lebih tinggi dibanding rekan-rekannya yang punya bentuk polos.

Kamis, 12 Maret 2015

Beringin Kunthing : Adik Kecil Ringin Conthong


Tak banyak yang tahu bila Ringin Conthong punya adik kecil. Ceritanya, saat menanam Ringin Conthong di Bundaran Titik Nol Jombang, Kanjeng Sepuh Sang Bupati Pertama Jombang juga memiliki bibit pohon beringin yang lain yang ukurannya lebih kecil. Si Beringin Kecil ini kemudian ditanam sesaat setelah menanam kakaknya, di depan Pendopo Kabupaten, tempat yang sampai sekarang menjadi kediaman orang nomor satu di Kabupaten Jombang.


Penanaman pohon beringin kecil ini juga bersamaan dengan diletakkannya batu pertama pembangunan Pendopo Kabupaten Jombang pada tanggal 22 Februari 1910. Setelah memisahkan diri dari Mojokerto dan berdiri sebagai afdeeling sendiri, Jombang mulai membangun berbagai sarana dan prasarana untuk fasilitas mandirinya. Sebelumnya, semuanya masih ‘ikut’ afdeeling Mojokerto, sehingga Jombang belum punya banyak infrastruktur sendiri, termasuk belum memiliki Pendopo Kabupaten. Kala itu, dengan dibangunnya pendopo dan ditanamnya pohon beringin kecil ini, diharapkan dapat ‘mengisi’ Jombang secara bertahap.

Minggu, 15 Juni 2014

BeRingin Conthong : Saksi Sejarah Yang Tak Conthong Lagi




Ringin Conthong memang sebuah ikon utama Kota Santri Jombang BERIMAN, tapi banyak yang lebih mengeksplorasi menara air peninggalan Belanda. Padahal, bundaran Ringin Conthong kebanggaan kota kelahiran presiden keempat negeri ini, terdiri dari dua elemen penting, yaitu menara air dan sebuah pohon beringin yang julukannya dijadikan nama landmark Jombang yang paling populer.


Tentang Jombang Lainnya

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...