Tampilkan postingan dengan label Wonosalam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wonosalam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Desember 2020

Agropolis Wonosalam : Sarana Mewujudkan Mimpi Punya Villa Unik Kebun Durian Sekaligus

 

Tak akan bosan mengusung konsep durian di Wonosalam. Wisatawan dari berbagai tempat akan selalu terpikir tentang Si Buah Berduri ini kala menyebut kawasan lereng Gunung Gede Anjasmoro ini. Bermunculan tempat-tempat yang mengusung elemen durian maupun bernama durian di berbagai lokasinya. Ada Warung Bukit Durian, dan De Durian Park. Kini yang terbaru ada Agropolis Durian Wonosalam.

Secara tak resmi, Agropolis Durian Wonosalam adalah kebun durian di wonosalam. Warga setempat sempat menyebutnya dengan De Durian Park 2, tapi pengelolanya beda. Pendirinya memiliki konsep sendiri sehingga mengusung sesuatu yang berbeda dalam kawasan agrowisata barunya.

Bila De Durian Park adalah wisata kebun durian dengan konsep kepemilikan kebun durian per kavling untuk para membernya, Agropolis Durian Wonosalam punya konsep serupa tapi tak sama. Kebun Durian tetap diusung, tapi bagian yang tak sama adalah member juga bisa memiliki villa berikut pekarangan yang ditanami pohon duriannya sekaligus. Konsep kepemilikan villa, mirip dengan cottage yang ada di Villa Kampoeng City. Bila diamati, Agropolis Durian adalah gabungan antara Villa Kampoeng City dan De Durian Park karena merupakan perpaduan antara konsep villa dan kebun durian sekaligus.

Selasa, 04 Agustus 2020

Makam Dewi Arimbi : Antara Teka-Teki dari Candi aRimbi dan Misteri Legenda Raksasi



Sebutan Candi aRimbi berasal dari lokasi dimana bangunan cagar budaya itu berada, yaitu dari nama Desa Ngrimbi. Meski secara administratif Candi aRimbi sekarang berada di Desa Pulosari yang merupakan tetangga Desa Ngrimbi. Sangat mungkin pada saat pertama kali didokumentasikan dulu di masa penjajahan kolonial Belanda, Candi Rimbi masih berada dalam lingkup Desa Ngrimbi. Sedangkan batas wilayah zaman Belanda dan masa sekarang sudah berbeda sehingga kini masuk Desa Pulosari. Namun demikian, nama yang tersemat pada Candi Rimbi masih dipertahankan.

Toponim Rimbi di Desa Ngrimbi berasal dari sosok wanita legendaris cerita rakyat setempat yaitu Dewi Arimbi. Sosok Dewi Arimbi terkait dengan dengan dua makam misterius yang bersebelahan, dekat sungai tak jauh dari Candi Arimbi. Salah satu dari tiga makam itu diyakini sebagai makam Dewi Arimbi. Kisah pewayangan menyebutkan seorang tokoh dengan nama yang sama yang diceritakan sebagai raksasa cantik, istri Bima salah satu dari pandawa lima, sekaligus ibunda Gatotkaca dalam kisah pewayangan.

Warga setempat meyakini, tiga makam itu diduga merupakan pesarean Prabu Arimba, Pangeran Arimbo dan adiknya Dewi Arimbi yang menjadi legenda kawasan ini. Meski belum ada bukti ilmiah apalagi catatan apapun tentang sosok tersebut, agaknya detail ini bisa jadi tambahan informasi mengenai asal muasal lokasi dan cerita budaya setempat.

Rabu, 01 April 2020

Mendem Duren di Rumah Durian Bu Sih


Durian lokal Wonosalam memang dikenal istimewa. Rasanya manis dengan sedikit pahitnya yang menjadi magnet utama Wonosalam. Berburu durian di Wonosalam juga tak ada habisnya. Hampir setiap rumah di pinggir jalan menjual durian, penduduk setempat pun juga menyetorkannya ke pengepul untuk dijual dalam skala besar. Sebagai sentra durian, wisatawan kadang sampai kebingungan memilih beli dimana durian yang paling enak.


Ilmu dari kontes durian lalu, menyatakan bila ingin makan durian yang enak perhatikan darimana durian didapat dan siapa yang jual. Intinya, penjual lah yang memainkan kunci terjamin tidaknya durian yang ada. Maka dari itu pentingnya memilih penjual yang sudah senior dalam kancah perdurianan di Wonosalam juga menjadi kuncinya.

Kamis, 09 Januari 2020

Pendakian Anjasmoro Menuju Tapak Bunder Bareng Gunung Bagging



Ada banyak jalur pendakian Anjasmoro, karena gunung yang punya nama yang diambil dari nama istri Damarwulan ini punya bentangan yang begitu luas dan masih berupa hutan rimba yang belum terjamah tangan manusia. Bentangan itu memungkinkan pendaki bisa mencapai berbagai titik tertentu yang harus dimulai dari starting point yang berbeda. Jangan sampai salah starting point, karena kalau berbeda bisa salah pencapaian puncaknya.


Jalur pendakiannya juga liar, dan bahkan bisa dibilang tak resmi. Jadi jangan heran bila jalur pendakiannya bukan berupa track ala hiking pada umumnya, melainkan berupa mbrasak pakai parang sekaligus jelajah hutan bekas dilalui penduduk setempat yang mencari hasil hutan. Tapi ada satu pengecualian untuk pos Kancil di Carangwulung yang menuju Puncak Cemorosewu, yang sudah punya perizinan dan jalur yang paling layak dibandingkan lainnya.

Selasa, 03 September 2019

Pesona Alam Lembah Winden : Persembahan Wisata dari Sumber Gogor


Lembah Winden, satu lagi destinasi wisata di Wonosalam dari regional Sumber Gogor. Terletak di Sumber Gogor, Lembah Winden memang merupakan destinasi wisata yang erat kaitannya dengan mata air Sumber Gogor yang mengalirkan air ke Sungai Gogor.


Pesona Alam Lembah Winden menawarkan wisata berupa keindahan lembah yang dipenuhi taman hijau dan asri dengan kolam renang yang airnya langsung dari aliran Sumber Gogor yang berada tak jauh dari destinasi ini.

Minggu, 04 Agustus 2019

Griya Kawitan : Destinasi Apik Nuansa Mojopahitan Yang Masih Tertutup Untuk Umum


Sebuah destinasi baru yang dilengkapi villa, taman, kolam renang, pendopo dan joglo, akan dibuka di Wonosalam. Obyek wisata apik itu bernama Griya Kawitan, yang mengusung nuansa Jawa-Mojopahitan. Griya Kawitan ini seakan mengingatkan kita pada Kampoeng Djawi yang sebelumnya sudah merajai Wonosalam sebagai jujugan idaman wisatawan di Lereng Anjasmoro.


Griya Kawitan, yang foto-fotonya sudah beredar di internet memang menawarkan destinasi wisata dengan konsep taman dan resort bernapaskan desain Jawa. Tampak dari gambar yang beredar, sudah selesai dibangun kolam renang, aneka taman dan gapura Majapahitan yang sekilas begitu mirip dengan Kampoeng Djawi.  Sepertinya mereka bisa saingan nih... atau mungkin mereka terkait???!!??

Selasa, 25 Juni 2019

Pendakian Anjasmoro via Cemorosewu Bareng Gunung Bagging



Pendakian Anjasmoro memang tak terlalu populer dengan rute gunung lain di Jawa Timur. Namun, diantara yang tak populer itu, ada satu jalur yang paling dikenal dari Gunung Anjasmoro ini : Puncak Cemorosewu via Carangwulung-Wonosalam. Lokasi start pendakian berada di Segunung yang memiliki ketinggian 755 mdpl.


Pegunungan Anjasmoro bukan merupakan gunung tunggal, melainkan sebuah gugusan pegunungan yang memilik banyak puncak. Anjasmoro membentang dari Mojokerto, Jombang, Malang, Batu, hingga Kediri yang mendapat bagian kakinya. Puncak Sejati berada di Malang, sedangkan Puncak Anjasmoronya sendiri malah menempati posisi tertinggi ketiga. Yang menarik, titik tertinggi di Mojokerto ada Puncak Kukusan dengan lekuknya yang begitu ikonik. Sedangkan Jombang memiliki Puncak Cemorosewu sebagai titik terpopuler, yang menjadi jalur pendakian paling ramai di antara seluruh track pendakian Anjasmoro.

Jumat, 01 Februari 2019

Refreshing Keluarga ke Wisata Alam Jurang Pethung


Satu lagi destinasi anyar yang bisa menjadi jujugan baru saat ke Wonosalam. Jurang Pethung, dibuka sekitar tahun baru 2019 yang menawarkan wisata jernihnya Sungai Gogor. Lokasinya berada tak jauh dari Pasar Buah Wonosalam yang ada di Dusun Sumber (Tengah), Desa Wonosalam, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. Teknisnya, Jurang Pethung berada di pinggirang Kali Gogor yang mengalir di belakang Pasar Buah Sumber.

Kejernihan Kali Gogor

Di sepanjang Jalan Arjuno sekitar Pasar Buah Wonosalam, sudah banyak spanduk dan bannner yang tertempel di tiang dan pohon, yang menandakan lokasi Wisata Jurang Pethung. Tampak ada banner di depan pasar Wonosalam, dan beberapa banner di gang masuk lokasi.

Sabtu, 06 Februari 2010

Legenda Joko Mujung dan Sang Boklorobubuh dari Gunung Anjasmoro Versi Panglungan


Bentuk Puncak Kukusan yang ikonik memunculkan cerita yang berkembang di kalangan penduduk setempat. Legenda Joko Mujung dan Sang Boklorobubuh juga menjadi cerita yang berkembang turun temurun. Lekuknya yang menarik dan tak biasa, serta memiliki bentuk yang berbeda tergantung darimana kita melihatnya, memberikan kisah tersendiri. Ada beberapa versi, yang kali ini Jombang City Guide akan menceritakan dari edisi yang berkembang dari warga Panglungan.

Via Blentreng

Secara administratif, Puncak Kukusan masuk wilayah Mojokerto dan dapat dicapai paling aman meski tetap super ekstrim melalui Nawangan. Meski demikian, view terdekat berbentuk lancip bisa didapat melalui Blentreng, sedangkan panorama paling cantik dari kemegahan Kukusan yang ikonik adalah dari Panglungan, Wonosalam.



Pemandangan mempesona dengan puncak lancip sempurna bisa dilihat lewat Bulu View Gua Sigolo-Golo, yang hanya dibatasi Sungai Boro di bawahnya sebagai tanda perbatasan dengan Mojokerto.

Panorama dari Gua Sigolo-Golo : ada yang mau endorse kamera ta???

Dari bentuk yang lancip sempurna itu, muncul kisah tentang panorama cantik itu dari versi Panglungan. Legenda ini, merupakan kisah yang berkembang di kalangan penduduk setempat dari bentuk-bentuk geologi Anjasmoro yang berasal dari kacamata Panglungan.

via Panglungan


Dikisahkan, Joko Mujung adalah seorang pemuda yang akan dinikahkan dengan seorang putri dari Ratu Pantai Selatan. Ibunda Joko Mujung, adalah Roro Bubuh yang dipercaya merupakan seorang selir dari Raja Majapahit. Roro Bubuh memang berada dalam pengasingan di Wonosalam, dan tinggal di Lereng Anjasmoro yang lokasinya berada tak jauh dari Trowulan dan Istana Kerajaan Majapahit.

Ilustrasi (saja)

Siluet Deretan Pegunungan Anjasmoro dari Mojowarno

Sayangnya, tak disebutkan nama Sang Putri dari Penguasa Pantai Selatan yang akan dinikahkan dengan Joko Mujung, termasuk apa keistimewaannya sehingga terjadi perjodohan itu. Selain itu tidak jelas pula mengapa Roro Bubuh tinggal jauh di Lereng Anjasmoro, berikut siapakah raja yang dimaksud.


Bisa jadi karena persaingan selir, maupun keinginan Roro Bubuh sendiri yang ingin menyendiri dalam pertapaannya di puncak gunung. Tak heran, menurut para pendaki memang banyak ditemukan bekas petilasan pertapaan maupun arca yang tersebar di pegunungan Anjasmoro, yang dipercaya sebagai bagian dari peninggalan Sang Roro Bubuh.


Layaknya sebuah pernikahan, tentunya banyak persiapan digelar termasuk berbagai kue dan makanan yang disajikan untuk para tamu. Kue dan makanan yang akan disajikan juga sama dengan hidangan dalam pernikahan pada umumnya seperti kue lapis, nogosari dan nasi uduk. Bahkan disiapkan pula pagelaran wayang kulit untuk menghibur para tamu. Intinya, semua kru dan personel sedang sibuk dan bersiap untuk segala pernak-pernik pernikahan berikut kelengkapannya.

via Mendiro

Sejatinya, pernikahan dilaksanakan malam hari karena Sang Pengantin Putri berasal dari kalangan bangsa jin ya iyalah ‘kan putrinya Ratu Nyi Roro Kidul, dimana mahkluk halus memang menguasai dunia malam. Sepertinya acara ini semacam unduh mantu dimana pengantin putri datang ke kediaman pengantin putra. Namun tak disangka, pagelaran berlangsung terlalu lama, sehingga mereka tak sadar datangnya fajar menyingsing dengan ditandai ayam jantan berkokok tanda datangnya pagi disertai kilauan sinar mentari.

Lancip Sempurna : Puncak Kukusan saat terbit matahari via Wonosalam

Tamu-tamu yang sebagian berasal dari bangsa jin kalang kabut, mereka pergi kocar-kacir menyelamatkan diri karena sadar dengan kedatangan Sang Fajar. Katanya sih, bangsa jin akan berubah menjadi batu bila terkena sinar matahari, karena itu mereka lari kocar-kacir menyelamatkan diri.


Kisah mengenai bangsa jin yang takut dengan sinar mentari juga terjadi dalam kisah Roro Jonggrang yang mengelabui pasukan jin arahan Bandung Bondowoso dengan mengerahkan para wanita untuk memukul alu dan lesung hingga bunyinya bertalu-talu seperti tanda datangnya pagi. Selain itu juga tertulis dalam kisah JJ Tolkien dalam The Hobbit yang menceritakan tiga orang troll yang membatu karena terkena sinar matahari.

Sinar matahari masuk melalui celah bebatuan

The Hobbit Unexpected Journey : Troll yang membatu

The Hobbit Unexpected Journey : Ketiga Troll membatu karena terkena sinar matahari

Acara pernikahan jadi morat-marit, dimana banyak kue dan sajian makanan berserakan, ditinggalkan begitu saja oleh para tamu. Sajian kue lapis itu kini bisa disaksikan di lekuk-lekuk batu berlapis di Air Terjun Selo Lapis. Kawasan Coban Selo Lapis kini menjadi destinasi wisata alam naungan PERHUTANI, yang sebenarnya juga punya kisah tersendiri dan dipercaya merupakan reruntuhan candi dan pemandian para putri kerajaan.

'Kue Lapis' di Air Terjun Selo Lapis

Sedangkan nasi uduk yang masih dikukus, ditampilkan oleh Puncak Kukusan yang bentuknya seperti tutup kemukus, yang kadang asapnya masih mengepul, yang sebenarnya awan dari Gunung Welirang.


Selo Lumbung yang dipercaya sebagai tempat penyimpanan beras untuk acara, termasuk dapur untuk memasak sajian makanan untuk para tamu juga membatu, dan kini tinggal reruntuhannya.

Selo Lumbung

Pagelaran Wayang yang sejatinya menjadi acara hiburan untuk para tamu juga membatu membentuk semacam batu yang mirip dengan tampilan acara wayang di kaki bukit Selo Ringgit yang bisa dilihat dari Sungai Boro. Kisah ini pun akhirnya menjadikan inspirasi bukit yang ramai sebagai lokasi hiking ringan itu disebut Bukit Selo Ringgit, dimana selo artinya batu dan ringgit artinya wayang.

Bukit Selo Ringgit

Kisah wayang ini juga menjadi legenda dari kawasan Argowayang yang masih satu area dalam Gugusan Pegunungan Anjasmoro. Penduduk setempat bahkan menduga bahwa alunan gamelan wayang yang sering terdengar di kawasan inilah yang menjadi penyebab kacaunya sinyal yang mengakibatkan kecelakaan pesawat di Wonosalam pada tahun 1964. Puing-puingnya bisa dilihat dengan menuruni Puncak Cemorosewu.

Secuil dari puing-puing kecelakaan pesawat tahun 1964

Sedangkan ayam yang berkokok itu turut menjadi batu, yang bisa dilihat dalam bentu Watu Jengger yang memang bentuknya seperti jengger ayam raksasa. Diceritakan, Joko Mujung bersedih hingga sempat mengatakan siapa yang mendatangi lokasi Watu Jengger pun akan bersedih sepertinya. Maka dari itu lokasi Watu Jengger disembunyikan oleh para penjelajah lokal karena mengandung semacam ‘kutukan’ dari Joko Mujung.

The Real Watu Jengger : Batu berbentuk jengger ayam. Serius jangan kesana, BAHAYA

Selain itu di balik Puncak Kukusan juga terdapat air terjun yang dipercaya sebagai air kencing dari Jaran Dawuk atau Kuda Kelabu yang katanya merupakan Pegasus abu-abu atau unicorn?!?!?!?, kendaraan dari iring-iringan pengantin putri. Jaran Dawuk itu juga menjadi inspirasi tarian tradisional Jawa Timur selain tari Ngremo yang aslinya Jombang lho. Air terjun di puncak gunung itu mengalir hingga sekarang, yang hanya bisa disaksikan dari balik puncak kukusan via Nawangan.

Ilustrasi Jaran Dawuk di kala fajar menyingsing

Oro-Oro Ombo yang berarti padang lapang, dipercaya sebagai lokasi pendaratan iring-iringan pengantin karena begitu luas areanya, sehingga menjadi semacam ground yang cocok untuk acara pertemuan dan pernikahan.

Air Terjun di samping Puncak Kukusan

Air terjunnya kelihatan dari sisi ini

Beberapa hutan di kawasan Anjasmoro dinamai dengan nama kue, seperti Alas Nagasari karena kue-kue nogosari berserakan di sana pasca hancurnya acara pernikahan. Sempat ada sumber pula yang awalnya menamakan Gunung Anjasmoro dengan Gunung Nagasari, namun setelah ditelusuri lebih lanjut kisah itu masih menemui jalan buntu. Ada juga Alas Gelaran yang dipercaya sebagai lokasi dimana para penampil wayang dan pagelaran berlatih untuk performance dalam acara besar tersebut.

Puncak Kukusan : Mengintip dari balik pepohonan

Watu Lapis

Tak diceritakan bagaimana nasib pengantin putri yang iring-iringannya kabur karena datangnya Sang Fajar. Namun di Puncak Cemorosewu, terdapat batu berlapis yang strukturnya mirip dengan bebatuan di air terjun Selo Lapis. Batu berlapis itu kemudian disebut Watu Lapis yang dipercaya sebagai tempat pertapaan seorang putri. Apa mungkin ada kaitannya???

Tempat Pertapaan Sang Putri

Setelah melihat acaranya kacau balau, Joko Mujung pun duduk terdiam sambil meluruskan kaki di samping panci kukusan yang masih mengepulkan asapnya. Karena itulah dia disebut Joko Mujung, atau Joko Semujung karena kakinya yang sembujung melihat acaranya pernikahannya bubar.


Kemudian ibunya Roro Bubuh pun menghibur di sampingnya sambil meratapi sisa-sisa acara yang berserakan. Karena itu banyak yang bilang pegunungan Anjasmoro dari sisi yang ikonik ini tampak seperti orang yang sedang tidur atau meluruskan kakinya.


Sumber lain menyatakan bahwa Joko Mujung berasal dari kata joko yang artinya pemuda, dan mujung yang dalam Bahasa Sansekerta artinya berbaring atau tidur berselimut. Dimana kadang dari view tertentu terutama dari Bareng, Jombang, tampak di samping Puncak Kukusan yang ikonik itu terlihat seperti seseorang yang sedang tidur berbaring.


Posisi Kukusan, Boklorobubuh dan Joko Mujung dalam gugusan Pegunungan Anjasmoro memang berdekatan. Berbeda dengan Panglungan, Kawan dari Rejosari bahkan menyebut Puncak Kukusan dengan Puncak Boklorobubuh. Bisa jadi karena beda tampilan lekuk akibat sudut pandang yang berbeda.



Ibunda Joko Mujung yaitu Roro Bubuh ini diduga kuat sebagai asal muasal penyebutan Boklorobubuh, yang mungkin berasal dari kata Mbok Roro Bubuh. Mungkin karena logat maupun faktor kesulitan dalam pengucapannya akibat kurang familiar dengan legenda ini, akhirnya muncul banyak versi penyebutannya seperti Blakorobubuh, Blokrorobubuh, Bokrobubuh dan lain sebagainya. Yang jelas variasi penyebutan tersebut masih menyisakan bagian ‘bubuh’ secara utuh.


Sayangnya, kini tak banyak yang tau mengenai Legenda Joko Mujung dan Sang Boklorobubuh sehingga nama kawasan jadi berkembang liar. Kawasan itu juga kini banyak yang rusak karena tangan-tangan manusia yang tak bertanggung jawab. Padahal, Joko Mujung merupakan salah satu lokasi paling indah yang dikagumi penjelajah setempat.


Nama Bukit Joko Mujung jadi tenggelam, dan digantikan oleh para pemuda perintis wisata pendakian dengan Bukit Watu Jengger. Ironisnya, para pemuda itu malah tak paham dimana letak Watu Jengger yang asli karena lokasinya yang sangat ekstrim. Watu Jengger sempat menewaskan seorang pendaki karena mengunjunginya karena medannya yang begitu berbahaya. Jadi mungkin ‘kutukan’ Joko Mujung lebih pada letak Watu Jengger yang sangat berbahaya sehingga ada larangan untuk tidak mengunjunginya. Selain banyak hewan buasnya juga sih.


Itulah sepenggal kisah Legenda Joko Mujung dan Sang Boklorobubuh dari kawasan Anjasmoro versi Panglungan. Ada yang mengatakan legenda ini terjadi jauh sebelum era Majapahit karena merupakan cikal bakal terjadinya Gunung Anjasmoro. Semoga bisa menjadi tambahan wawasan serta mengambil hikmah dari kisah tersebut.


Mungkin ada versi lain dari ini yang bisa melengkapi satu sama lain. Berbagai versi dari legenda Joko Mujung dan Sang Boklorobubuh bisa jadi merupakan kekayaan cerita setempat yang harus dilestarikan, supaya anak-cucu kita mengetahui kisah lokal daerahnya sebelum terheran-heran dengan cerita dari kawasan lain.


Legenda Joko Mujung dan Sang Boklorobubuh
Puncak Kukusan - Pengunungan Anjasmoro
Versi Panglungan, Wonosalam, Jombang

Foto dari berbagai sumber : Matur tengkyu buat yang motret karena sangat bermanfaat, semoga jadi amal jariyah yang barokah

Tentang Jombang Lainnya

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...