Sabtu, 04 April 2020

Warung Kali Wonosalam : Andok Rica-Rica dalam Nuansa Rumah Negeri Dongeng


Wonosalam memang sedang rame-ramenya, ada perhelatan penting berupa Kendurenan, sebuah festival durian tahunan. Tentunya, para wisatawan dari berbagai daerah sudah wara-wiri berburu durian di seantero Lereng Anjasmoro.  Tak jauh dari Selo Ageng, tampak ada tempat baru di pinggir sungai yang cukup menarik. Terlihat ada sebuah rumah kayu bak dongeng yang berdiri di halamannya.


Rumah kayu cantik itu ternyata bagian dari sebuah destinasi kuliner baru yang namanya Warung Kali. Lokasinya memang berada di pinggir kali, sehingga sepertinya pemilik pun menamakannya dengan Warung Kali. Memang, para pemilik warung di Wonosalam sepertinya sedang keranjingan memberi nama lokasi berdasarkan letaknya, seperti Warung ngGunung, Warung Tanjakan, Warung Tikungan dan masih banyak yang lainnya. Warung Kali agaknya juga meramaikan penamaan berdasarkan ‘letak geografis’ ini.

Jumat, 03 April 2020

Candi Blawu : Menanti Ekskavasi Setelah Efek Racun Sirna


Awal tahun 2018, Jombang digegerkan dengan adanya penemuan benda purbakala di kompleks makam sesepuh desa yang kerap disebut Punden Mbah Blawu. Setelah tahun sebelumnya Jombang digegerkan dengan berbagai penemuan benda pondasi bangunan candi yang misterius di berbagai lokasi, tampaknya tren ini masih berlanjut hingga periode berikutnya.

Punden Mbah Blawu kerap disebut Makam Sentono oleh warga setempat. Lokasi makam keramat yang dipercaya merupakan pesarean pembabat lahan setempat berada di Dusun Sukosari, Desa Sumbersari, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang. Jika dilihat dari radius lokasi, Punden Mbah Blawu ini bertetangga dengan Candi Pandegong yang masuk dalam kompleks makam keramat Mbah Nambi dan Mbah Ijo.

Rabu, 01 April 2020

Mendem Duren di Rumah Durian Bu Sih


Durian lokal Wonosalam memang dikenal istimewa. Rasanya manis dengan sedikit pahitnya yang menjadi magnet utama Wonosalam. Berburu durian di Wonosalam juga tak ada habisnya. Hampir setiap rumah di pinggir jalan menjual durian, penduduk setempat pun juga menyetorkannya ke pengepul untuk dijual dalam skala besar. Sebagai sentra durian, wisatawan kadang sampai kebingungan memilih beli dimana durian yang paling enak.


Ilmu dari kontes durian lalu, menyatakan bila ingin makan durian yang enak perhatikan darimana durian didapat dan siapa yang jual. Intinya, penjual lah yang memainkan kunci terjamin tidaknya durian yang ada. Maka dari itu pentingnya memilih penjual yang sudah senior dalam kancah perdurianan di Wonosalam juga menjadi kuncinya.

Minggu, 15 Maret 2020

Meriahnya Festival Avokad - Andum Apokat Sambirejo 2020


Maret 2020 Wonosalam punya banyak gawe. Setelah hingar bingar festival durian berjuluk Kendurenan 2020, minggu berikutnya langsung diselenggarakan festival bagi-bagi avokad gratis yang diadakan di Lapangan Desa Sambirejo, Dusun Sumber Arum, lokasi yang dipercaya sebagai peradaban pertama yang ada di Wonosalam oleh para sesepuh pembabat alas.

Ora mewah ora mbrawah,
Waton guyub rukun kabeh sumringah

Desa Sambirejo, memang merupakan penghasil avokad selain buah-buahan lain yang juga tumbuh subur di sana. Berhubung manggis sudah dipatok sebagai festival dari Desa Jarak, Galengdowo identik dengan salak, sedangkan Wonosalam punya perhelatan durian, maka Sambirejo menahbiskan diri untuk menghelat festival avokad berjuluk Andum Apokat.

Minggu, 08 Maret 2020

Taman Kanigoro : Cantiknya Kebun Bunga Matahari Jombang


Sebuah kebun benih bunga matahari kini sedang mekar-mekarnya. Kebun Bunga yang sebenarnya dibuat untuk dijual benihnya itu, menjadi destinasi wisata baru Jombang dari bagian utara brantas. Hamparan kebun bunga matahari seluas lebih dari 150 meter persegi ini sukses mempesona para pengunjung yang datang dari berbagai daerah.


Berada di Jalan Kebun Bunga Matahari, Dusun Bulurejo, Desa Kepuhrejo, Kecamatan Kudu, ladang bunga kuning cantik ini menjadi jujugan baru pemburu foto apik. Sayangnya lokasinya agak nyuplik masuk ke dalam, bukan di pinggir jalan utama desa. Meski demikian, akses jalan sudah lumayan dengan medan beton. Jalan Bunga Matahari yang menuju lokasi berupa aspal yang sudah lumayan protol, tapi masih bisa dilalui kendaraan roda empat.

Sabtu, 07 Maret 2020

Kentalnya Nuansa Kerakyatan Wisata Pedesaan di Kampung Adat Segunung


Hiruk pikuk perkotaan tak jarang membuat banyak orang merindukan syahdunya suasana desa, berikut budaya tradisional yang tak lagi ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Kerinduan itulah yang kemudian memunculkan ide untuk menciptakan destinasi khas pedesaan di Wonosalam. Untuk mengobati kerinduan itu, sebuah kampung di Dusun Segunung, Desa Carangwulung, didapuk sebagai destinasi desa wisata yang menyajikan nuansa pedesaan khas Lereng Anjasmoro.


Destinasi tradisional itu, dinamakan Kampung Adat Segunung yang diproyeksikan berupa destinasi wisata yang menyajikan kekentalan suasana pedesaan berikut keramahan warganya. Ide pembuatan kampung adat ini tak luput dari campur tangan Pak Sumrambah Wakil Bupati Jombang, yang merasakan kerinduan yang sama akan nuansa pedesaan berikut hal-hal tradisional yang sudah tak lagi bisa ditemui dalam kehidupan sehari-hari di perkotaan.

Minggu, 01 Maret 2020

Tips dari Kontes Durian Wonosalam : Kriteria Si Raja Buah Pemenang Kontes Durian Unggulan



Festival Durian Wonosalam berjuluk Kendurenan sudah di depan mata. Hingar bingar pemberitaan tentang pesta durian ini tampaknya agak menenggelamkan  beberapa acara lain yang juga menjadi rangkaian perhelatan terbesar Wonosalam ini. Beberapa acara lain juga dihelat, termasuk Kontes Durian Wonosalam.

Sebenarnya, setiap ada perhelatan Kendurenan pastilah ada lomba durian berkualitas yang mengiringinya. Kontes Durian Wonosalam kali ini menggunakan kata unggulan sebagai bukti kepercayaan diri kawasan lereng Anjasmoro regional Gunung Gede ini sebagai penghasil durian berkualitas tinggi.

Minggu, 09 Februari 2020

Pecel Sate Kapur Bu Malika : Kuliner Unik Yang Dirindukan



Jombang rupanya tak kehabisan stok kuliner unik nan legendaris. Adalah pecel Sate Kapur Bu Malika yang punya daya tarik tersendiri. Dari namanya, jangan dikira makan sate dari panggangan kapur atau makan kapur betulan seperti yang dipakai Rudy Tabuti dalam kartun Chalk Zone, karena pakai papan kapur sudah gak zaman. Sekarang pakai white board semua! Hahhahahaha... Bukan bukan bukan.


Daging kapur yang dimaksud adalah bagian dari tubuh sapi berupa bagian kelenjar (maaf) payudaranya. Kapur itu kemudian dikombinasikan dengan jeroan yang diolah sedemikian rupa, lalu ditusuk dengan tusuk sate lalu jadilah sate kapur yang legendaris ini. Jadi bisa disimpulkan, daging kapur ini jelas merupakan dagung yang bersumber dari sapi betina. Yaiyalah.

Bagian dari sapi betina 

Jumat, 07 Februari 2020

Wisata LeMbah Ginten : Bareng Punya!


Belum banyak yang tahu, bahwa Bareng punya destinasi wisata yang lumayan untuk refreshing keluarga. LeMbah Ginten namanya, yang berkonsep kolam renang di sebuah lembah yang penuh dengan taman bunga dan kebun buah. Selain untuk bersantai, destinasi ini cocok juga untuk lokasi selfie.



Buah yang diblongsong


Kebun
Lumayanlah, dapat foto-foto apik daripada jauh-jauh naik ke Wonosalam dan berdesakan di Bale Tani karena saking ramainya. Konsep LeMbah Ginten, hampir serupa dengan Kampoeng Durian yang ada di Mojoagung. Tapi dengan pemandangan lembah yang lebih asri tentunya.
Tak ada salahnya bila dari Bale Tani lalu andok di Warung Rica-Rica Bu Suhar kemudian mampir ke LeMbah Ginten untuk berfoto selfie, karena ketiga lokasi ini berada dalam satu jalur dan satu kecamatan.

Rabu, 05 Februari 2020

Hiasan Dekoratif dan Rumah Kayu Unik Kreasi Anak Alam Zarmaentree Wooden Craft



Rumah kayu unik tampak ada di sebuah warung makan yang menyajikan rica-rica sebagai menunya. Jika dilihat lebih lanjut, dekorasinya terlihat mirip dengan rumah-rumah kayu dan arsitektur yang ada di Wisata Sumber Banyu Biru yang ada di Wonomerto, bagian selatan Wonosalam. Ada ciri khas khusus yang mengingatkan Jombang City Guide akan karya Zarmaentree Wooden Craft, termasuk font dan gaya bahasa yang digunakan.


Kecurigaan ini memang benar, bahwa pembuat rumah kayu berikut aneka hiasannya adalah dari buah karya Eko Zarmaento pemuda desa setempat penggagas wisata hits Sumber Banyu Biru yang hingga kini mampu memacetkan Wonosalam bagian selatan. Di Sumber Banyu Biru, karya ‘Cak Sarmin’ ini bahkan terlihat di semua sudut, mulai kursi, rumah kayu, sampai hall yang dibuat khusus untuk pengunjung.

Senin, 03 Februari 2020

Analisa Catatan Wallace Mengenai Candi Arimbi dalam Ekspedisinya ke Wonosalam


Candi Rimbi pertama kali ‘ditemukan’ dan dipublikasikan oleh Alfred Russel Wallace yang sedang berkunjung ke Wonosalam untuk mengambil spesimen burung merak dan hewan-hewan endemik dari Gunung Anjasmoro. Ilmuwan Inggris itu sedang melakukan penjelajahan dan pencatatan dalam ekspedisinya menguak jenis-jenis flora dan fauna di nusantara. Rupanya, Wonosalam di Jombang menjadi salah satu destinasi dalam ekspedisinya.

Catatan Wallace tersebut dirangkum dalam buku The Malay Archipelago. Dalam catatan kunjungannya itu, Wallace melalui Surabaya sebagai pelabuhan tempatnya mendarat setelah perjalanannya ke Ternate, Kepulauan Maluku. Dengan mengendarai kereta sapi jantan atau di Indonesia disebut dengan cikar, Wallace melanjutkan ekspedisinya ke Mojokerto, lalu Mojoagung. Setelah singgah di Mojoagung dan menyaksikan pagelaran gamelan dan acara khitanan, Wallace melanjutkan perjalanannya ke Wonosalam dengan menunggang kuda.

 

Sabtu, 01 Februari 2020

Reruntuhan Gapura Paduraksa di Situs Mlaten : Pemukiman Bangsawan era Kerajaan Kediri



Gemparnya penemuan benda cagar budaya di Jombang belum berhenti. Masih dari kawasan Ngoro yang hanya bertetangga dusun dari laporan Candi Mandapa Ngrembang. Penemuan dinding pondasi dan berbagai kelengkapan bangunan yang diperkirakan dari era Kerajaan Kediri terjadi di Mlaten.



Mlaten terletak di samping Ngrembang, dimana laporan penemuan benda kuno ini terjadi hampir bersamaan. Kedua lokasi ini berdekatan dan masih masuk dalam kawasan Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang yang ‘hampir’ berbatasan dengan Kandangan, Kediri.

Kamis, 09 Januari 2020

Pendakian Anjasmoro Menuju Tapak Bunder Bareng Gunung Bagging



Ada banyak jalur pendakian Anjasmoro, karena gunung yang punya nama yang diambil dari nama istri Damarwulan ini punya bentangan yang begitu luas dan masih berupa hutan rimba yang belum terjamah tangan manusia. Bentangan itu memungkinkan pendaki bisa mencapai berbagai titik tertentu yang harus dimulai dari starting point yang berbeda. Jangan sampai salah starting point, karena kalau berbeda bisa salah pencapaian puncaknya.


Jalur pendakiannya juga liar, dan bahkan bisa dibilang tak resmi. Jadi jangan heran bila jalur pendakiannya bukan berupa track ala hiking pada umumnya, melainkan berupa mbrasak pakai parang sekaligus jelajah hutan bekas dilalui penduduk setempat yang mencari hasil hutan. Tapi ada satu pengecualian untuk pos Kancil di Carangwulung yang menuju Puncak Cemorosewu, yang sudah punya perizinan dan jalur yang paling layak dibandingkan lainnya.

Selasa, 07 Januari 2020

Wisata Edukasi Sapi Perah Jarak by Kelompok Tani Budi Luhur


Sepanjang jalan di Wonosalam, tampak ada palang kecil hijau sebagai penunjuk jalan yang bertuliskan Eduwisata Sapi Perah Jarak berikut penanda banyaknya kilometer yang harus ditempuh untuk mencapainya. Penasaran dengan lokasinya, Jombang City Guide kemudian menelusuri lokasi untuk menguak misteri tempat wisata seperti apakah yang ditunjuk oleh papan-papan hijau itu. Dipandu langsung oleh Guide Jarak kebanggaan kita semua, Cak Suwanto Hari, Jombang City Guide kemudian memecahkan misteri ini bersama.

Papan penujuk jalan

Dia ada dimana-mana

Sabtu, 04 Januari 2020

Candi Mandapa Ngrembang : Sisa Pondasi Batur, Persemedian Para Resi




Perlu turun ke pematang sawah untuk melihat langsung benda peninggalan purbakala yang terletak di Dusun Ngrembang, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang ini. Bangunan kuno itu, berada di bawah pohon jati muda yang tegak sendirian di tengah sawah. Seakan pohon itu ditanam untuk menandai lokasi dimana tumpukan batu bata kuno itu berada.

Mbrasak bersama Pak Polo

Jombang City Guide diantar langsung oleh Pak Kasun M. Yunus, yang berperan begitu penting dalam ‘penemuan’ benda purbakala ini. Tanpa mengenakan alas kaki, dengan luwesnya beliau menerobos kebun tebu milik Sari yang mulai meninggi hingga dedaunannya mampu menerpa wajah. Sesampainya di lokasi, bangunan kuno ini tampak sudah mulai ditumbuhi rerumputan dan bunga perdu liar yang cukup menutupi bagian atas bangunan kuno ini.

Rabu, 01 Januari 2020

Nikmatnya Jus Durian Wonosalam Berpadu Bakso Durian Spesial



Warung Tombo Luwe adalah warung yang menyajikan makanan pedesaan lereng Anjasmoro pada umumnya. Tombo Luwe dalam Bahasa Indonesia artinya penawar lapar. Warung Tombo Luwe ini dimiliki oleh Pak Slamet, karena itulah, kadang kedai ini disebut juga Warung Pak Slamet. Warung Tombo Luwe ini, memiliki spesialisasi pada hidangan seperti sate-gule dan rica-rica  meski kolak ketan durian dan nasi jagung tetap menjadi andalan. Warung Tombo Luwe menawarkan satu menu yang sangat istimewa di sini dan tak banyak orang menjualnya : Jus Durian.


Di berbagai sudut kota banyak penjual minuman smoothies atau yang di Indonesia lebih sering dikenal dengan jus buah. Aneka varian jus ditawarkan, hingga mix buah pun dijadikan alternatif untuk modifikasi rasa bagi minuman yang diblender dalam pembuatannya ini.

Rabu, 25 Desember 2019

Bukit Durian Wonosalam : Menu nDeso dan Sajian Bahari di Lereng Anjasmoro


Destinasi kuliner baru kembali hadir di Wonosalam, judulnya Bukit Durian. Menu yang disajikan mungkin hampir sama dengan warung-warung lain di Wonosalam yang menawarkan pilihan sajian ndeso. Berkisar nasi jagung, aneka lalapan, ikan, iwak kali, bahkan sayur lompong yang akhir-akhir ini agak menanjak popularitasnya.

Kolak Ketan Durian ala Bukit Durian Wonosalam

Kolak ketan durian jelas tak bisa ketinggalan sebagai identitas Lereng Anjasmoro. Tapi tetap, ada dua menu tambahan yang spesial, yang berasal dari protein dari laut yaitu gurita dan cumi. Bila memilih dua menu laut ini, makan di Bukit Durian seperti andok di pegunungan dengan sajian bahari. Hehehhehee.........

Sabtu, 07 Desember 2019

Candi Glagahan : Bangunan Suci Cantik Yang Disebutkan dalam Prasasti Poh Rinting


Berawal dari niat membuat sumur untuk membuat kebutuhan air lancar, Candi Glagahan ditemukan. Penggalian dilanjutkan hingga menguak adanya struktur bangunan kuno dengan batu bata merah khas era kerajaan di masa lalu. Seperti bangunan pemujaan, yang juga diperkirakan berbentuk petirtaan. Keluarga Bu Tonah sendiri juga tak menyangka ternyata di halaman belakang rumahnya terdapat sebuah candi yang memiliki nilai sejarah tinggi bagi Jombang.



Candi ini berada Dusun Glagahan, Desa Glagahan, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang. Dari nama desa ditemukannya candi, kemudian bangunan kuno ini pun disebut Candi Glagahan. Karena ditemukan di Desa Glagahan, maka candi ini disebut Candi Glagahan dan telah terdaftar sebagai bangunan cagar budaya oleh BPCB. Kini rumah yang memiliki lahan itu ditinggali oleh salah satu putra Bu Tonah yang sekarang menjabat Ketua RT setempat di RT.03 RW. 02. 

Senin, 02 Desember 2019

The Ground Canyon of Jombang : Ngarai Mini Tersembunyi nan Eksotis ala Wisata Kedung Cinet


Ngarai kecil nan tersembunyi ala Jombang kini serius digarap oleh PERHUTANI sebagai destinasi wisata alam yang mempesona para traveler. Dipoles dengan konsep masa kini, Ground Canyon Kedung Cinet bahkan ditahbiskan sebagai urutan teratas dalam 10 Top Destinasi Jombang.



Disebut Ground Canyon karena destinasi ini berupa ngarai yang spot paling indahnya bisa dilihat dengan menuruni lereng sungai. Bila Grand Canyon di Colorado merupakan ngarai terbesar di dunia, Green Canyon di Pangandaran adalah versi hijaunya, maka Kedung Cinet berupa bentuk mininya, yang tersembunyi di tengah hutan di ujung kota Jombang. Jadi, disebutlah Kedung Cinet sebagai Ground Canyon ala Jombang.

Jumat, 08 November 2019

Watu Mbah-Mbeh : Relief Unik WatuGaluh Petunjuk Ibukota Kerajaan Mdang



Sebuah patok batu andesit berdiri agak miring di tengah sawah. Patok batu itu bukan sekedar tugu biasa. Patok batu itu, menjadi asal usul sejarah Desa Watu Galuh yang kini hari jadinya didasarkan dari penetapan lokasi itu sebagai ibukota Kerajaan Mataram Kuno dalam era Wangsa Isyana yang dipimpin Mpu Sindok, Sang Mahamantri Rakyyan i Hino.


Penduduk setempat menyebut patok Watu Galuh ini sebagai Watu Mbah-Mbeh, yang entah darimana penamaan ini berasal. Patok ini mungkin sebuah srandu yang menandai lokasi tertentu sebagai bagian dari batas kota. Jika memang benar, maka bisa jadi masih ada patok batu yang lain sebagai penandanya. Mirip dengan konsep yoni naga raja milik Majapahit yang menjadi pembatas wilayah ibukota kerajaan.

Tentang Jombang Lainnya

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...