Jombang, adalah bagian dari Jawa Timur yang berkultur selayaknya masyarakat Jawa pada umumnya. Tentunya, pengaruh budaya Jawa jelas begitu mendarah daging di Kota Santri yang diiringi kearifan lokal sesuai kultur setempat. Rumah Joglo masih diakui sebagai rumah khas dari Propinsi Jawa Timur dimana Jombang menjadi bagian di dalamnya. Tapi bukan berarti setiap daerah termasuk Jombang, tak punya bentuk rumah adat khas lainnya.
Rabu, 08 September 2010
Desain Arsitektur Seragam dari 'Rumah Adat nJombangan'
Kamis, 02 September 2010
Sego Sepak : Kelezatan Hakiki dalam Kesederhanaan Sebungkus Sego Sadhukan
Sego Sepak adalah salah satu makanan yang disebut-sebut sebagai kuliner khas Jombang. Ratusan artikel kopasan (yang berasal dari Pencangkul, blogger kenamaan Kota Santri) selalu mencantumkan Sego Sadhukan dalam menu kuliner khas Jombang. Padahal sebenarnya, budaya dalam sebungkus nasi ini tak hanya ada di Jombang, tapi di seluruh pelosok Indonesia.
| Sego Shepaque de Jombang |
Bedanya, nasi bungkus punya sebutan sendiri di tiap daerahnya : Nasi Jinggo di Bali, Nasi Tempong di Banyuwangi, Nasi Serpang di Madura, Nasi Kucing di Solo dan Jogja, Sego Kocheng di Surabaya, Sego Bantingan di Tulungagung, Sego Tabokan di Sidoarjo dan Jombang punya sebutan Sego Sepak / Sego Sadhukan sebagai kontingen perwakilan dari Kota Santri.
Kamis, 12 Agustus 2010
Zona 0321
Bila Jakarta punya kode area telepon 021-, dan Surabaya punya 031-, maka Jombang
punya kode telepon tengah-tengahnya dihitung mundur yaitu 0321-. Sedangkan -0231 dimiliki Cirebon. Bersama
Mojokerto sebagai ’negeri tetangga’ yang selalu berdampingan di berbagai
kegiatan, Jombang memiliki kode area telepon ini, yang saait ini dengan enam digit
angka nomor telepon.
Seluruh kota di Jawa Timur, punya kode wilayah berawalan -03xx, dengan Surabaya sebagai leader yang menggunakan 031-. Dengan 0321-nya, coba saja disimak, di berbagai situs nomor telepon,
maka kode area telepon 0321-ini dipastikan dari Jombang atau Mojokerto.
Cara untuk membedakannya, dalam konteks telepon rumah, Jombang berawalan angka 8xxxxx,
sedangkan Mojokerto 3xxxxx. Sebelumnya Mojokerto berawal dengan angka 2xxxx ketika
masih berdigit lima angka, kemudian menambahkan angka '3' di awal tiap nomor
telepon, sehingga angka awal nomor telepon Kota Mojokerto berubah. Sedangkan
Jombang masih sama dengan awalan angka 8-nya. Saat masih berdigit lima angka,
Jombang hanya menambahkan angka kedua-nya, sehingga angka nomor telepon awal
Jombang tetap dengan angka 8-nya meski kemudian bertransisi dengan enam digit
angka.
Hmm... cukup bingung ya???
Saya juga bingung menjelaskannya. Waktu itu masih ingusan
sih...
Antara ingat dan tidak..
Jumat, 16 Juli 2010
SD Sulung : SD Tertua di Jombang
“Pak, ke SD Sulung sebelah Ringin Conthong. 250 Rupiah saja ya,”
“Oh... SD Sulung sebelah Bioskop Ria?? Ya, ayo naik....”
Kira-kira, kata-kata itulah yang diucapkan anak-anak SD pada abang becak
saat akan berangkat sekolah di era ‘90an untuk menuju sekolahnya di SD Sulung, SD
tertua di Jombang.| SD Sulung Jombang bila dilihat dari Ringin Conthong, di belakang baliho. Jalan di depan SD Sulung sering tertutup baliho pemerintah saat kampanye karena lokasinya yang 'terlalu' strategis. |
Senin, 05 Juli 2010
Eksotisme Widuri Si Bunga Bintang
Selain Bunga Jombang yang disebut Dandelion Si Kembang Sebul, Jombang City Guide
suka sekali dengan Bunga Bintang. Sayangnya, Jombang City Guide tidak tahu
sebutan maupun nama latin bunga bintang ini.
| Pohon Bunga Bintang |
Kamis, 10 Juni 2010
Plat Kendaraan Jombang
Dalam hal berlalu-lintas, Jombang kini masuk dalam satu grup bersama Mojokerto, Tuban, dan Lamongan, beserta Bojonegoro sebagai ‘markasnya’. Penggolongan kota-kota ini dimulai sekitar tahun 2007an (Entah ya kalau salah, seingat saya sih...). Mengapa demikian, karena akhirnya plat nopol kendaraan di Jombang akhirnya seragam dengan grup tersebut dan dipusatkan di Bojonegoro. Akhirnya, semua kota di grup Bojonegoro memiliki plat awal “S”.
Rabu, 05 Mei 2010
Balikpapan dan Jombang BERIMAN
Di era orde baru, kota-kota di Indonesia diharuskan membuat slogan
singkatan yang mencerminkan kotanya. Misalnya Mojokerto BERSERI dan Kediri
BERSEMI. Jombang menetapkan diri sebagai Jombang BERIMAN, yang kepanjangannya
Bersih Indah Nyaman. Rasanya kata BERIMAN cocok juga mengingat Jombang adalah
Kota Santri yang warganya taat beribadah.
Rupanya, tidak hanya Kabupaten Jombang saja yang memiliki slogan ini. Balikpapan,
adalah kota dengan slogan yang sama : Balikpapan BERIMAN. Hanya saja, BERIMAN
di Balikpapan merupakan singkatan dari Bersih Indah Aman dan Nyaman. Yaah....
beda sedikitlah... tapi akronimnya sama!!!!
Senin, 03 Mei 2010
Minggu, 04 April 2010
IMJ - Ikatan Mahasiswa Jombang
Ikatan Mahasiswa Jombang (IMJ) adalah sebuah paguyuban yang kemudian berkembang menjadi organisasi yang mewadahi seluruh mahasiswa yang berasal dari Jombang baik yang berkuliah di Jombang maupun di luar Jombang untuk berkumpul, mempererat tali persaudaraan sesama Jombang dan pengabdian dan pengembangan masyarakat umumnya dan masyarakat Jombang khususnya.
Jombang, merupakan kota gabungan antara kaum ijo (santri) dan abang (nasionalis) sehingga memiliki kultur dan kepribadian yang berbeda namun tetap bersatu dan bergandengan tangan dalam kerukunan yang abadi. Ikatan Mahasiswa Jombang mencoba mengadopsinya menjadi sebuah perkumpulan yang menyatukan berbagai mahasiswa dengan berbagai kemajemukan yang melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi menjadi satu dalam satu kesatuan utuh.
Tak sulit menjadi anggota IMJ karena setiap mahasiswa yang berasal dari Jombang otomatis menjadi anggotanya. Namun untuk menjadi pengurus, dibutuhkan pembuktian pengabdian dan partisipasi aktif dan kontinyu kepada segala kegiatan yang diseleggarakan.
Tetapi ada syarat mutlak untuk mengidentifikasi kriteria anggota IMJ, yaitu :
1. Seorang mahasiswa
2. Pernah bersekolah di Jombang minimal TIGA TAHUN
3. Cinta dan mau mengabdi untuk Jombang
Senin, 22 Maret 2010
Ringin Conthong Inside : Ikon Kota Jombang
Ikon kota Jombang adalah Ringin Conthong atau Ringin Contong (untuk penyebutan lidah non-Jawa) yang bertempat di seberang SD kebanggaan saya, dimana saya menghabiskan masa paling indah di Jombang.
Sebenarnya ada dua ikon yang berdampingan di kota Jombang, yaitu RIngin Conthong dan tetangganya, Pintu Air peninggalan Belanda. Namun, karena pintu air ini begitu simbolik, maka banyak gambar lebih banyak memuat Pintu Air sebagai ikon namun tetap menamakannya Ringin Conthong.
Sebenarnya ada dua ikon yang berdampingan di kota Jombang, yaitu RIngin Conthong dan tetangganya, Pintu Air peninggalan Belanda. Namun, karena pintu air ini begitu simbolik, maka banyak gambar lebih banyak memuat Pintu Air sebagai ikon namun tetap menamakannya Ringin Conthong.
Banyak orang, dari warga Jombang sendiri maupun para pengendara luar kota yang lewat menyaksikan ikon utama kota Jombang ini, namun jarang ada orang yang masuk dan menikmati suasana di taman Ringin Conthong itu sendiri.
Sabtu, 06 Februari 2010
Legenda Joko Mujung dan Sang Boklorobubuh dari Gunung Anjasmoro Versi Panglungan
Bentuk Puncak Kukusan yang ikonik memunculkan cerita yang berkembang di kalangan penduduk setempat. Legenda Joko Mujung dan Sang Boklorobubuh juga menjadi cerita yang berkembang turun temurun. Lekuknya yang menarik dan tak biasa, serta memiliki bentuk yang berbeda tergantung darimana kita melihatnya, memberikan kisah tersendiri. Ada beberapa versi, yang kali ini Jombang City Guide akan menceritakan dari edisi yang berkembang dari warga Panglungan.
Secara administratif, Puncak Kukusan masuk wilayah Mojokerto dan dapat dicapai paling aman meski tetap super ekstrim melalui Nawangan. Meski demikian, view terdekat berbentuk lancip bisa didapat melalui Blentreng, sedangkan panorama paling cantik dari kemegahan Kukusan yang ikonik adalah dari Panglungan, Wonosalam.

Pemandangan mempesona dengan puncak lancip sempurna bisa dilihat lewat Bulu View Gua Sigolo-Golo, yang hanya dibatasi Sungai Boro di bawahnya sebagai tanda perbatasan dengan Mojokerto.
![]() |
| Panorama dari Gua Sigolo-Golo : ada yang mau endorse kamera ta??? |
Dari bentuk yang lancip sempurna itu, muncul kisah tentang panorama cantik itu dari versi Panglungan. Legenda ini, merupakan kisah yang berkembang di kalangan penduduk setempat dari bentuk-bentuk geologi Anjasmoro yang berasal dari kacamata Panglungan.
![]() |
| via Panglungan |
Dikisahkan, Joko Mujung adalah seorang pemuda yang akan dinikahkan dengan seorang putri dari Ratu Pantai Selatan. Ibunda Joko Mujung, adalah Roro Bubuh yang dipercaya merupakan seorang selir dari Raja Majapahit. Roro Bubuh memang berada dalam pengasingan di Wonosalam, dan tinggal di Lereng Anjasmoro yang lokasinya berada tak jauh dari Trowulan dan Istana Kerajaan Majapahit.
![]() |
| Siluet Deretan Pegunungan Anjasmoro dari Mojowarno |
Sayangnya, tak disebutkan nama Sang Putri dari Penguasa Pantai Selatan yang akan dinikahkan dengan Joko Mujung, termasuk apa keistimewaannya sehingga terjadi perjodohan itu. Selain itu tidak jelas pula mengapa Roro Bubuh tinggal jauh di Lereng Anjasmoro, berikut siapakah raja yang dimaksud.
Bisa jadi karena persaingan selir, maupun keinginan Roro Bubuh sendiri yang ingin menyendiri dalam pertapaannya di puncak gunung. Tak heran, menurut para pendaki memang banyak ditemukan bekas petilasan pertapaan maupun arca yang tersebar di pegunungan Anjasmoro, yang dipercaya sebagai bagian dari peninggalan Sang Roro Bubuh.
Layaknya sebuah pernikahan, tentunya banyak persiapan digelar termasuk berbagai kue dan makanan yang disajikan untuk para tamu. Kue dan makanan yang akan disajikan juga sama dengan hidangan dalam pernikahan pada umumnya seperti kue lapis, nogosari dan nasi uduk. Bahkan disiapkan pula pagelaran wayang kulit untuk menghibur para tamu. Intinya, semua kru dan personel sedang sibuk dan bersiap untuk segala pernak-pernik pernikahan berikut kelengkapannya.
| via Mendiro |
Sejatinya, pernikahan dilaksanakan malam hari karena Sang Pengantin Putri berasal dari kalangan bangsa jin ya iyalah ‘kan putrinya Ratu Nyi Roro Kidul, dimana mahkluk halus memang menguasai dunia malam. Sepertinya acara ini semacam unduh mantu dimana pengantin putri datang ke kediaman pengantin putra. Namun tak disangka, pagelaran berlangsung terlalu lama, sehingga mereka tak sadar datangnya fajar menyingsing dengan ditandai ayam jantan berkokok tanda datangnya pagi disertai kilauan sinar mentari.
![]() |
| Lancip Sempurna : Puncak Kukusan saat terbit matahari via Wonosalam |
Tamu-tamu yang sebagian berasal dari bangsa jin kalang kabut, mereka pergi kocar-kacir menyelamatkan diri karena sadar dengan kedatangan Sang Fajar. Katanya sih, bangsa jin akan berubah menjadi batu bila terkena sinar matahari, karena itu mereka lari kocar-kacir menyelamatkan diri.
Kisah mengenai bangsa jin yang takut dengan sinar mentari juga terjadi dalam kisah Roro Jonggrang yang mengelabui pasukan jin arahan Bandung Bondowoso dengan mengerahkan para wanita untuk memukul alu dan lesung hingga bunyinya bertalu-talu seperti tanda datangnya pagi. Selain itu juga tertulis dalam kisah JJ Tolkien dalam The Hobbit yang menceritakan tiga orang troll yang membatu karena terkena sinar matahari.
![]() |
| Sinar matahari masuk melalui celah bebatuan |
![]() |
| The Hobbit Unexpected Journey : Troll yang membatu |
![]() |
| The Hobbit Unexpected Journey : Ketiga Troll membatu karena terkena sinar matahari |
Acara pernikahan jadi morat-marit, dimana banyak kue dan sajian makanan berserakan, ditinggalkan begitu saja oleh para tamu. Sajian kue lapis itu kini bisa disaksikan di lekuk-lekuk batu berlapis di Air Terjun Selo Lapis. Kawasan Coban Selo Lapis kini menjadi destinasi wisata alam naungan PERHUTANI, yang sebenarnya juga punya kisah tersendiri dan dipercaya merupakan reruntuhan candi dan pemandian para putri kerajaan.
![]() |
| 'Kue Lapis' di Air Terjun Selo Lapis |
Sedangkan nasi uduk yang masih dikukus, ditampilkan oleh Puncak Kukusan yang bentuknya seperti tutup kemukus, yang kadang asapnya masih mengepul, yang sebenarnya awan dari Gunung Welirang.
Selo Lumbung yang dipercaya sebagai tempat penyimpanan beras untuk acara, termasuk dapur untuk memasak sajian makanan untuk para tamu juga membatu, dan kini tinggal reruntuhannya.
![]() |
| Selo Lumbung |
Pagelaran Wayang yang sejatinya menjadi acara hiburan untuk para tamu juga membatu membentuk semacam batu yang mirip dengan tampilan acara wayang di kaki bukit Selo Ringgit yang bisa dilihat dari Sungai Boro. Kisah ini pun akhirnya menjadikan inspirasi bukit yang ramai sebagai lokasi hiking ringan itu disebut Bukit Selo Ringgit, dimana selo artinya batu dan ringgit artinya wayang.
![]() |
| Bukit Selo Ringgit |
Kisah wayang ini juga menjadi legenda dari kawasan Argowayang yang masih satu area dalam Gugusan Pegunungan Anjasmoro. Penduduk setempat bahkan menduga bahwa alunan gamelan wayang yang sering terdengar di kawasan inilah yang menjadi penyebab kacaunya sinyal yang mengakibatkan kecelakaan pesawat di Wonosalam pada tahun 1964. Puing-puingnya bisa dilihat dengan menuruni Puncak Cemorosewu.
![]() |
| Secuil dari puing-puing kecelakaan pesawat tahun 1964 |
Sedangkan ayam yang berkokok itu turut menjadi batu, yang bisa dilihat dalam bentu Watu Jengger yang memang bentuknya seperti jengger ayam raksasa. Diceritakan, Joko Mujung bersedih hingga sempat mengatakan siapa yang mendatangi lokasi Watu Jengger pun akan bersedih sepertinya. Maka dari itu lokasi Watu Jengger disembunyikan oleh para penjelajah lokal karena mengandung semacam ‘kutukan’ dari Joko Mujung.
![]() |
| The Real Watu Jengger : Batu berbentuk jengger ayam. Serius jangan kesana, BAHAYA |
Selain itu di balik Puncak Kukusan juga terdapat air terjun yang dipercaya sebagai air kencing dari Jaran Dawuk atau Kuda Kelabu yang katanya merupakan Pegasus abu-abu atau unicorn?!?!?!?, kendaraan dari iring-iringan pengantin putri. Jaran Dawuk itu juga menjadi inspirasi tarian tradisional Jawa Timur selain tari Ngremo yang aslinya Jombang lho. Air terjun di puncak gunung itu mengalir hingga sekarang, yang hanya bisa disaksikan dari balik puncak kukusan via Nawangan.
![]() |
| Ilustrasi Jaran Dawuk di kala fajar menyingsing |
Oro-Oro Ombo yang berarti padang lapang, dipercaya sebagai lokasi pendaratan iring-iringan pengantin karena begitu luas areanya, sehingga menjadi semacam ground yang cocok untuk acara pertemuan dan pernikahan.
![]() |
| Air Terjun di samping Puncak Kukusan |
![]() |
| Air terjunnya kelihatan dari sisi ini |
Beberapa hutan di kawasan Anjasmoro dinamai dengan nama kue, seperti Alas Nagasari karena kue-kue nogosari berserakan di sana pasca hancurnya acara pernikahan. Sempat ada sumber pula yang awalnya menamakan Gunung Anjasmoro dengan Gunung Nagasari, namun setelah ditelusuri lebih lanjut kisah itu masih menemui jalan buntu. Ada juga Alas Gelaran yang dipercaya sebagai lokasi dimana para penampil wayang dan pagelaran berlatih untuk performance dalam acara besar tersebut.
![]() |
| Puncak Kukusan : Mengintip dari balik pepohonan |
![]() |
| Watu Lapis |
Tak diceritakan bagaimana nasib pengantin putri yang iring-iringannya kabur karena datangnya Sang Fajar. Namun di Puncak Cemorosewu, terdapat batu berlapis yang strukturnya mirip dengan bebatuan di air terjun Selo Lapis. Batu berlapis itu kemudian disebut Watu Lapis yang dipercaya sebagai tempat pertapaan seorang putri. Apa mungkin ada kaitannya???
![]() |
| Tempat Pertapaan Sang Putri |
Setelah melihat acaranya kacau balau, Joko Mujung pun duduk terdiam sambil meluruskan kaki di samping panci kukusan yang masih mengepulkan asapnya. Karena itulah dia disebut Joko Mujung, atau Joko Semujung karena kakinya yang sembujung melihat acaranya pernikahannya bubar.
Kemudian ibunya Roro Bubuh pun menghibur di sampingnya sambil meratapi sisa-sisa acara yang berserakan. Karena itu banyak yang bilang pegunungan Anjasmoro dari sisi yang ikonik ini tampak seperti orang yang sedang tidur atau meluruskan kakinya.
Sumber lain menyatakan bahwa Joko Mujung berasal dari kata joko yang artinya pemuda, dan mujung yang dalam Bahasa Sansekerta artinya berbaring atau tidur berselimut. Dimana kadang dari view tertentu terutama dari Bareng, Jombang, tampak di samping Puncak Kukusan yang ikonik itu terlihat seperti seseorang yang sedang tidur berbaring.
Posisi Kukusan, Boklorobubuh dan Joko Mujung dalam gugusan Pegunungan Anjasmoro memang berdekatan. Berbeda dengan Panglungan, Kawan dari Rejosari bahkan menyebut Puncak Kukusan dengan Puncak Boklorobubuh. Bisa jadi karena beda tampilan lekuk akibat sudut pandang yang berbeda.
Ibunda Joko Mujung yaitu Roro Bubuh ini diduga kuat sebagai asal muasal penyebutan Boklorobubuh, yang mungkin berasal dari kata Mbok Roro Bubuh. Mungkin karena logat maupun faktor kesulitan dalam pengucapannya akibat kurang familiar dengan legenda ini, akhirnya muncul banyak versi penyebutannya seperti Blakorobubuh, Blokrorobubuh, Bokrobubuh dan lain sebagainya. Yang jelas variasi penyebutan tersebut masih menyisakan bagian ‘bubuh’ secara utuh.
Sayangnya, kini tak banyak yang tau mengenai Legenda Joko Mujung dan Sang Boklorobubuh sehingga nama kawasan jadi berkembang liar. Kawasan itu juga kini banyak yang rusak karena tangan-tangan manusia yang tak bertanggung jawab. Padahal, Joko Mujung merupakan salah satu lokasi paling indah yang dikagumi penjelajah setempat.
Nama Bukit Joko Mujung jadi tenggelam, dan digantikan oleh para pemuda perintis wisata pendakian dengan Bukit Watu Jengger. Ironisnya, para pemuda itu malah tak paham dimana letak Watu Jengger yang asli karena lokasinya yang sangat ekstrim. Watu Jengger sempat menewaskan seorang pendaki karena mengunjunginya karena medannya yang begitu berbahaya. Jadi mungkin ‘kutukan’ Joko Mujung lebih pada letak Watu Jengger yang sangat berbahaya sehingga ada larangan untuk tidak mengunjunginya. Selain banyak hewan buasnya juga sih.
Itulah sepenggal kisah Legenda Joko Mujung dan Sang Boklorobubuh dari kawasan Anjasmoro versi Panglungan. Ada yang mengatakan legenda ini terjadi jauh sebelum era Majapahit karena merupakan cikal bakal terjadinya Gunung Anjasmoro. Semoga bisa menjadi tambahan wawasan serta mengambil hikmah dari kisah tersebut.
Mungkin ada versi lain dari ini yang bisa melengkapi satu sama lain. Berbagai versi dari legenda Joko Mujung dan Sang Boklorobubuh bisa jadi merupakan kekayaan cerita setempat yang harus dilestarikan, supaya anak-cucu kita mengetahui kisah lokal daerahnya sebelum terheran-heran dengan cerita dari kawasan lain.
Legenda Joko Mujung dan Sang Boklorobubuh
Puncak Kukusan - Pengunungan Anjasmoro
Versi Panglungan, Wonosalam, Jombang
![]() |
| Foto dari berbagai sumber : Matur tengkyu buat yang motret karena sangat bermanfaat, semoga jadi amal jariyah yang barokah |
Langganan:
Postingan (Atom)






















































