Tak jauh dari lokasi Candi aRimbi, terdapat sebuah desa yang bernama
Jemparing. Sudah bukan rahasia lagi bila kawasan ini dan sekitarnya dikenal
sebagai wilayah yang banyak peninggalan purbakala yang tersebar di berbagai
sudut. Diantaranya adalah dua arca yang belum tuntas dikerjakan dan kini sudah
diboyong ke Museum Trowulan.
Seperti pada umumnya, kedua arca ini dijadikan atribut punden bin
pekunden yang dikeramatkan warga Jemparing, Kecamatan Bareng, Kabupaten
Jombang. Warga menjadikan dua arca ini sebagai patung yang sakral dan menjadi
warisan leluhur yang sangat dihormati.
Dua Arca ini ramai jadi perbincangan sekitar tahun ‘90an karena punya
kisah yang menarik. Ceritanya, pada suatu hari ada sekelompok orang dengan baju
seragam yang lengkap dengan membawa truk besar berwarna merah datang untuk
mengangkut patung tersebut untuk dibawa ke museum Trowulan.
Di masa itu, era orde baru berkuasa dan rakyat Indonesia sudah bukan rahasia lagi akan patuh terhadap apa yang dikatakan pemerintah. Melihat sekelompok orang berseragam layaknya petugas, jelas penduduk setempat percaya saja dan menuruti apa kata sekelompok orang tersebut. Terutama sekelompok orang itu juga menggunakan truk yang warnanya sama dengan truk yang dimiliki balai purbakala untuk mengangkut benda purbakala yang biasanya beratnya bukan main.
Entah bagaimana ceritanya, akhirnya terkuak bahwa orang-orang tersebut
bukanlah petugas dari Balai Purbakala Trowulan. Mereka hanya sekelompok orang
yang sengaja berseragam untuk menampakkan sosok petugas pemerintah sehingga
membuat penduduk takut dan patuh. Dari penampilannya itu, nantinya bertujuan
mengusung benda purbakala ini dengan aman tanpa pertikaian apapun, mengingat
benda dari batu tersebut sangat dihormati oleh warga setempat. Sangat mungkin
keduanya akan dibawa untuk diperdagangkan secara illegal.
Beruntung kejadian itu masih tertangani dan kedua arca bisa
diselamatkan. Akhirnya, untuk menghindari kedua arca kembali terancam jatuh ke
tangan orang-orang serupa, diputuskan kedua patung itu diboyong ke Museum
Trowulan untuk upaya penyelamatan dan pengamanan yang lebih optimal. Kini,
kedua patung sudah menghuni Museum Trowulan dan berada di halaman dan
dilengkapi cungkup untuk peneduh bagian atasnya.
Ada dua arca dari Jemparing. Satu patung tingginya sekitar dua meter
dengan posisi berdiri lengkap dengan stella berbentuk kurawal, mengingatkan
Jombang City Guide pada tampilan sandaran arca Harihara dari Candi Simping yang
kini bersemayam di Museum Nasional Jakarta. Sedangkan satunya lagi, dengan
posisi duduk yang sepertinya berada pada pose mudra tertentu.
Kedua patung tampak berdiri di tengah halaman museum, di tengah
pelataran. Arca-arca dari Jemparing ini, diperkirakan berasal dari era
Majapahit sesuai dengan sebaran peninggalan yang ada di sekitar lokasinya
berasal. Keduanya, tampak samar bentuknya. Memang, keduanya dikategorikan arca
dengan status unfinished atau arca yang belum tuntas dikerjakan.
Arca yang belum tuntas dikerjakan karena penampilannya belum lengkap
merupakan patung yang mungkin senimannya belum selesai mengerjakannya
disebabkan berbagai hal. Misalnya karena senimannya meninggal dan belum ada
yang melanjutkan pekerjaannya, atau mungkin senimannya mengalami kebuntuan
kreasi dalam mengerjakannya. Iya kalau kita pas ngerjakan tugas akhir ya,
xixixixixixi. Mungkin raja yang berkuasa sudah berganti sehingga proyek
pembuatan arca terhenti, atau bisa jadi pula karena kerajaannya keburu runtuh.
Permukaan kedua patung masih tampak halus, belum terpahat ukiran raya
yang biasanya ada di relief arca. Belum ada hiasan apapun di permukaan bahannya
yang terbuat dari batu andesit itu.
Bagian stella di belakangnya mungkin digunakan untuk pahatan sinar surya
Majapahit yang menandakan atribut kedewaan. Terlihat bagian kepala memakai
sesuatu yang menjulang, sangat mungkin akan dibentuk sebagai jamakuta atau
hiasan mahkota yang tinggi.
Kaki masih berbentuk persegi sedangkan tangan sudah terlihat bagian
lengannya, meski jemari belum terbentuk. Tampak tangan dibuat lebih dari dua,
yang mungkin akan membawa laksana tertentu. Dari tampilannya sangat mungkin
arca ini adalah perwujudan dewa Hindu yang mengingatkan pada arca Harihara.
Bedanya tangan kananlah yang berada di bawah, sepertinya diproyeksikan untuk membawa
gada di tangan kanannya. Sedangkan Arca Harihara yang ada di Museum Nasional
membawa gada di tangan kirinya.
Wajah yang masih tembem, belum terpahat secara jelas. Meski demikian,
patung yang berdiri tampak memiliki mimik wajah yang mulai terlihat. Ada senyum
teduh kedewaan dan mata yang sepertinya terpejam. Posisi berdiri kaku seperti
ini biasanya merupakan indikasi arca perwujudan yang menandakan sosok yang
diarcakan sudah meninggal dan kini didewakan.
Apakah yang ingin kau sampaikan |
Patung yang kecil, juga terbuat dari batu andesit lengkap dengan
stellanya yang berbentuk lengkung. Sangat mungkin juga stella digunakan untuk
memahat sinar surya Majapahit berikut laksana yang mungkin melengkapi hiasan
arca.
Bedanya arca yang kecil berpose duduk bersila dengan posisi lotus.
Sepertinya bagian bawahnya akan diproyeksikan sebagai padmasana. Tangan berada
pada posisi berbeda dimana satu tangan berada di atas pangkuan, sedangkan
lengan lainnya diletakkan di lutut. Posisi ini
membentuk mudra yang mungkin akan dibentuk wara mudra atau bhumiparsa
mudra. Wara mudra melambangkan kedermawanan, sedangkan bhumiparsa mudra berarti
memanggil bumi sebagai saksi.
Tampak sepasang payudara sudah terpahat, menunjukkan sosok arca ini
adalah seorang wanita. Kepala tampak menjulang, mungkin akan dibuat mahkota dan
jamakuta. Sedangkan bagian wajah sama sekali belum terlihat baik mata, mulut,
apalagi mimiknya.
Dikatakan oleh petugas museum bahwa arca ini merupakan patung yang tak
boleh kehujanan. Sangat mungkin merupakan pesan dari warga setempat dimana arca
ini berasal karena bentuk hormatnya terhadap peninggalan leluhur dari
kawasannya. Balai Purbakala yang mengusungnya dari lokasi menyanggupi dengan
optimal dengan pemberian cungkup untuk keduanya.
Petugas museum juga menyatakan saat dilihat dengan seksama, arca yang
berdiri ini seperti ingin menyampaikan sesuatu. Sayangnya, Jombang City Guide
tak punya kemampuan supranatural apapun sehingga tak bisa ‘menangkap’ apa yang
ingin disampaikan oleh Sang Arca.
Sayangnya, tak ada keterangan apapun yang tertera di dekat kedua arca
ini. Sehingga bila ada pengunjung yang penasaran dengan benda cagar budaya
tertentu jelas harus melakukan upaya ekstra untuk meminta penjelasan petugas
yang berjaga. Jika datang tanpa pemandu, mungkin informasi mengenai catatan
sejarah benda purbakala terkait masih akan menjadi pertanyaan.
Perlunya pihak museum untuk segera melengkapi setiap benda cagar budaya
dengan keterangan di tiap benda agaknya sangat dinanti oleh para pengunjung.
Selain itu, ide seorang penulis yang pernah Jombang City Guide baca yaitu
dengan memberikan background atau tampilan lokasi insitu benda terkait yang
dipasang di dekat obyek. Dengan adanya ilustrasi tersebut, pengunjung museum
setidaknya punya gambaran mengenai suasana insitu benda purbakala terkait.
Agaknya ide ini cocok diterapkan di museum.
Sumber lain menyatakan bahwa setelah ada arca ini, kemudian ditemukan
arca unfinished lain yang diperkirakan oleh itu Titi Surti sebagai arca
Agastya. Kini arca tersebut disimpan di kediaman Pak Lurah setempat yang juga
punya perhatian khusus terhadap benda cagar budaya.
Tentunya, sebaran benda cagar budaya haruslah dicatat dengan seksama.
Terutama bila sebarannya begitu melimpah kemudian membentuk sebuah pola seperti
yang sedang diteliti tim ahli dari Jombang. Sebaran memang kondisinya kebanyakan
sudah hancur namun polanya masih bisa dilihat dan diperkirakan fungsinya kala
disandingkan dengan peta lama dari manuskrip kuno.
Nama-nama tempat yang ada di sekitar Candi Arimbi juga patut dicurigai sebagai lokasi yang punya keterkaitan dengan candi. Lemahbang, Jurangbang, Balekambang, Gedhoganjaran, Jemparing, dan masih banyak lagi. Bisa jadi juga, masih ada candi yang berlum terkuak, karena ada arca perwujudan dewa seperti ini.
Berdiri dengan posisi kaku, sangat mungkin merupakan arca perwujudan tokoh penting |
Toponim Jemparing sendiri bisa diartikan sebagai busur panah yang dibentangkan, siap untuk membidik sasaran. Sangat mungkin istilah ini merujuk sebagai lokasi latihan prajurit kerajaan yang salah satunya berupa kegiatan panahan. Bisa jadi, pusat pelatihan yang mungkin berupa asrama prajurit berisi kegiatan para ksatria dilakukan untuk upaya pengamanan kedaton atau lokasi penting yang harus dilindungi.
Kejadian-kejadian seperti pemboyongan illegal benda cagar
budaya dan sejenisnya jangan sampai terjadi lagi. Bagaimanapun benda
peninggalan kuno tersebut jelas merupakan jejak yang bisa memberikan informasi
mengenai asal muasal sebuah kawasan yang mungkin menyimpan sejarah yang
nilainya tak bisa dibandingkan dengan apapun. Semoga tidak terjadi lagi.
Warga Jombang selaku ‘pemilik’ kedua arca unfinished juga harus berbangga
bahwa kawasannya memiliki kekayaan benda cagar budaya yang dihargai sangat
penting oleh Balai Purbakala Trowulan. Selain bangga tentunya harus
melestarikan pula apa-apa yang telah diwariskan oleh leluhur. Supaya kekayaan
budaya dan sejarah kawasan, tetap terjaga dan lestari.
Unfinished Arca Jemparing
Museum Trowulan,
Lokasi insitu :
Jemparing, Kecamatan Bareng,
Kabupaten Jombang
Btw, Apriliya Oktavianti dari situsbudaya.id monggo kopas-kopas sepuas-puasnya ya. Nanti silakan pura-pura lupa cantumkan sumber seperti biasanya, 'kan ya??? Haseeek, hasek hasek haseeeekkk!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar